alexametrics
Selasa, 24 Nov 2020
radarbali
Home > Ekonomi
icon featured
Ekonomi

Permintaan Tinggi, Madu Kelle Ditarget Jadi Produk Unggulan Desa Aan

26 Oktober 2020, 11: 26: 16 WIB | editor : ali mustofa

Bupati Klungkung, I Nyoman Suwirta saat mengunjungi kelompok budidaya lebah trigona di Desa Aan, Kecamatan Banjarangkan.

Bupati Klungkung, I Nyoman Suwirta saat mengunjungi kelompok budidaya lebah trigona di Desa Aan, Kecamatan Banjarangkan. (IST)

Share this      

SEMARAPURA - Permintaan madu lebah trigona atau yang lebih dikenal madu kelle cukup tinggi. Namun budi daya dan hasil produksi madu tersebut masih terbatas sehingga membuat harganya jauh lebih mahal dibandingkan dengan madu lebah pada umumnya. 

Potensi itu pun dilirik Perbekel Desa Aan, Kecamatan Banjarangkan, I Wayan Wira Adnyana untuk bisa dikembangkan sehingga menjadi produk unggulan desa. Hanya saja karena keterbatasan anggaran, baru satu kelompok dan sejumlah warga saja yang telah membudidayakan lebah kelle tersebut. 

Perbekel Desa Aan, Kecamatan Banjarangkan, I Wayan Wira, Minggu (25/10) mengungkapkan, permintaan madu kelle saat ini cukup tinggi meski di tengah pandemi Covid-19 yang telah menurunkan daya beli masyarakat. Namun Desa Aan hingga saat ini baru memiliki satu kelompok beranggotakan 20 orang yang membudidayakan lebah kelle. Dan hanya beberapa warga saja yang membudidayakannya secara mandiri di rumah masing-masing. 

“Saya memiliki rencana agar warga saya membudidayakan lebah ini sehingga bisa menjadi produk unggulan desa,” terangnya.

Menurutnya Banjar Petapan, Desa Aan merupakan tempat yang bagus untuk membudidayakan lebah tersebut. Mengingat perkebunan di wilayah itu masih sangat produktif sehingga memudahkan kelle mendapatkan makanan yang tentunya berpengaruh pada jumlah madu yang dihasilkan.

“Kalau dibudidayakan dekat persawahan, kellenya akan cepat mati karena tidak kuat dengan pestisida,” ujarnya.

Terkait rencana untuk bisa mengajak seluruh warga di wilayah tersebut membudidayakan kelle masih harus mempertimbangkan kondisi APBDesa. Tetapi ia tetap menargetkan budidaya kelle oleh sebagian besar warga Banjar Petapan bisa direalisasikan tahun 2021 mendatang. 

“Kami sudah usulkan dan kami menunggu persetujuan BPD karena untuk satu kotak rumah lebah kelle beserta ratunya membutuhkan anggaran Rp 150 ribu. Dari segi investasi sebenarnya tidak banyak namun kami harus tetap meminta pendapat BPD karena mereka yang menyepakati,” jelasnya. 

Bila disepakati, rencananya budidaya kelle oleh warga Banjar Petapan akan dikelola Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Aan dengan sistem bagi hasil. 

Sementara itu salah satu anggota pembudidaya lebah kelle Desa Aan, Wayan Arsana mengungkapkan, permintaan madu kelle ke kelompoknya cukup tinggi. Tidak hanya dari Klungkung namun juga kabupaten lainnya seperti Karangasem. Hanya saja permintaan itu tidak bisa dipenuhi kelompoknya lantaran madu yang dihasilkan masih terbatas. Sehingga budidaya kelle menurutnya sangat potensial untuk dikembangkan. 

“Kami mulai budidaya kelle sejak tahun lalu dan baru bisa dipanen April 2020 lalu dan hingga saat sudah panen dua kali,” jelasnya.

Dari 100 sarang kelle yang ada, madu yang dihasilkan hanya sekitar 3 liter. Sehingga tidak heran bila harga madu kelle cukup tinggi, yakni sekitar Rp 100 ribu per 100 ml. Apalagi saat musim hujan, madu yang dihasilkan akan jauh lebih sedikit. 

“Selain itu produksi madu juga dipengaruhi oleh serangan hama sejenis kumbang kecil. 

(rb/ayu/yor/mus/JPR)

 TOP