alexametrics
Rabu, 02 Dec 2020
radarbali
Home > Sportainment
icon featured
Sportainment
Mendiang Maestro Made Wianta di Mata Keluarga

Selain Disiplin, Sang Maestro juga Dikenal sebagai Sosok Kaya Ide

14 November 2020, 19: 15: 59 WIB | editor : Didiek Dwi Praptono

made wianta, maestro Made Wianta, pelukis bali, maestro perupa, lukisan, karya seni, seniman maestro, wianta meninggal,

Wayan Sumerta menunjukkan karya seni rupa gaya surealisme milik mendiang Maestro Made Wianta (Juliadi)

Share this      

Bali telah kehilangan salah satu maestro sekaligus perupa terbaik Made Wianta.

Jumat (13/11) kemarin, perupa kelahiran 20 Desember 1949 itu telah berpulang setelah sempat menjalani perawatan karena sakit di RS Bros, Denpasar.

-------

Deretan karangan bunga ucapan bela sungkawa berderet rapi di kediaman almarhum maestro perupa Made Wianta.

Diantara deretan karangan bunga, juga terlihat kesibukan dari para kerabat, keluarga dan warga mempersiapkan prosesi upacara pengabenan di rumah duka di Banjar Dinas Apuan, Desa Apuan Baturiti, Tabanan.

Selain itu, tenda-tenda sudah terlihat terpasang di halaman rumah pria kelahiran Tabanan 20 Desember 1949 yang dinyatakan berpulang di RS Bross Denpasar, (13/11) kemarin.

“Dua anak (Buratwangi dan Sanjiwani) dan istri (Intan Kirana) dari almarhum masih di luar. Mengurus segala keperluan untuk kremasi dan juga melakukan upacara di rumah sakit,” kata Subrata didampingi Wayan Sumerta keluarga dari almarhum Made Wianta yang ditemui Jawa Pos Radar Bali di rumah duka, Sabtu (14/11).

Dituturkan Subrata, sesuai rencana, puncak upacara akan dilaksanakan Senin (16/11) mendatang.

Jenazah mendiang sang maestro akan di kremasi di krematorium Yayasan Pengayom Umat Hindu (YPUH) Kampung Baru Buleleng.

Kremasi pihak keluarga pilih mempertimbangkan dan melihat kondisi saat ini ditengah pandemi Covid-19.

“Hari ini di rumah duka menyiapkan segala sesuatu untuk prosesi upacara almarhum. Kalau untuk rekan-rekan almarhum sesame pelukis belum terlihat datang. Kemungkinan besok (Minggu) mulai ramai berdatangan,” ujarnya.

Sementara itu, Wayan Sumerta keponakan almarhum Made Wianta mengatakan sosok almarhum menularkan banyak hal terhadap keluarga besar.

Bukan hanya karya seni yang dihasilkan sehingga keluarga besar di Apuan banyak dikenal oleh banyak orang.

Melainkan juga soal kepribadian mendiang Wianta yang dikenal sebagai sosok yang penuh semangat atau spirit, penuh ide dan disiplin waktu.

“Salah satu yang masih saya ingat, beliau sangat tepat waktu bangun pagi. Begitu pula menyelesaikan karya seni tak pernah molor waktu. Selalu tepat diselesaikan. Baru bangun dari tempat tidur.

Sudah berada di ruang lukisan. Apapun ketika itu ide seni muncul seketika langsung disalurkan. Kendati saat itu alat dan bahan material seni kurang. Ada muncul ide beliau tidak dapat menunda-nunda,” kenangnya.

Yang lebih mengagumkan lagi, meski sukses sebagai perupa, namun kata Sumerta, mendiang Wianta tidak pernah memaksakan bahwa keturunannya dan keponakan-keponakan harus mengikuti jejak langkahnya menjadi seorang seniman. “Beliau sangat memberikan kebebasan pilihan,”tandasnya.

Dituturkan Wayan Sumerta, cukup panjang waktu sejati almarhum harus dikenal dengan sebagai maestro perupa.

Mulanya sebagai besar karya seni dari almarhum dominan lebih bergaya klasik. Tetapi almarhum sekitar tahun 90 berani keluar dari pakem tersebut. Dengan mengambil seni modern. Lukisan-lukisannya beberapa kali tak laku dan ditolak oleh galeri-galeri di Bali.

“Booming-nya pada tahun 1990, baru-baru pariwisata di Bali mulai tumbuh,”kata Sumerta.

Usai Made Wianta mengikuti festival Indonesia di Amerika (KIAS) dan sejak salah satu karya seni gaya simbol dan gaya surealisme yang dikenal banyak orang. Sehingga pemesan lukisan mulai berdatangan.

Bahkan job-job panggung festival dan pameran seni juga banyak yang menawarkan yang datang dari dalam dan luar negeri.    

“Jadi tak mudah beliau (almarhum) menjadi seniman tersohor,” ucapnya.

Selain itu, dikatakan Sumerta, almarhum juga tak memandang material lukisan. Apapun bisa menjadi bahan lukisannya. Mulai dari tissue, jarum, lidi hingga benang sekali pun.   

“Saya masih ingat usai habis makan dengan beliau (Made Wianta red) di hotel. Tusuk gigi sebagai pembersih dibawa pulang olehnya. Di rumah tusuk gigi itu dicelupkan kedalam cat. Kemudian dibuat titik-titik dan kanvas. Sehingga membentuk garis yang simetris dengan penuh corak warna dan berkembang,” ungkapnya.

Sumerta berharap, dengan kepergian Made Wianta, banyak generasi yang dapat menekuni gaya seni dari almarhum, namun dengan pakem yang berbeda.

“Mudah-mudahan juga karya seni dari almarhum Made Wianta dapat dikenang selalu dan tak lupa selalu dapat dipamerkan kendati beliau sudah tak ada,” pungkasnya. (Juliadi)

(rb/jul/pra/JPR)

 TOP