alexametrics
Kamis, 26 Nov 2020
radarbali
Home > Features
icon featured
Features
Yang Tersisa dari Kremasi Almarhum Wianta

Keluarga Akan Dirikan Museum, Seniman Kenang Memori Bersama Wianta

18 November 2020, 08: 06: 33 WIB | editor : ali mustofa

maestro perupa bali, made wianta, jejak almarhum, kampung almarhum, apuan tabanan, dirikan museum, kenang memori, kremasi almarhum wianta

KREMASI: Intan Kirana (kiri) dan sang putri Sanjiwani (kanan) saat proses kremasi (Eka Prasetya/Radar Bali)

Share this      

Perupa Made Wianta menjalani proses perabuan di Yayasan Pengayom Umat Hindu (YPUH), Jalan Pulau Kalimantan, Singaraja. Para seniman mengiringi proses perabuan sang maestro.

 

EKA PRASETYA, Singaraja

SUARA tabuh angklung terdengar nyaring dari arah Rumah Duka yang dibangun YPUH Buleleng, siang kemarin (16/11).

Sejumlah seniman terlihat tengah duduk santai di sekitar areal parkir YPUH. Di antaranya terlihat dramawan Putu Satria Kusuma, sastrawan Made Adnyana Ole, dan sastrawan Kadek Sonia Piscayanti.

Mereka tengah menanti kedatangan jenazah perupa Made Wianta. Sang maestro menjalani upacara kremasi di YPUH Buleleng.

Pihak yayasan menjemput jenazah ke rumah duka di Desa Apuan, Kecamatan Baturiti. Lalu memulai seluruh prosesi upacara perabuan di rumah duka yayasan.

Selama menanti, para seniman saling bertukar cerita. Membagikan kembali kenangan-kenangan saat melakukan kegiatan bersama sang maestro.

Bagi dramawan Putu Satria Kusuma, sang maestro Made Wianta dipandang sebagai sosok seniman serba bisa.

Tak hanya di bidang lukisan. Namun juga sastra dan pertunjukan. Ide yang dihasilkan dalam karya, disebut sebagai ide yang gila.

Satria mengaku banyak belajar dari Wianta. Salah satunya terkait peninggalan ukiran khas Buleleng. Saat Satria masih bermukim di Denpasar, ia hanya mengetahui khasanah seni rupa Buleleng pada permukaan saja.

Terutama yang berkaitan dengan ukir-ukiran. “Dari Pak Made Wianta saya mendapat pengetahuan tentang ukiran Buleleng. Misalnya ukiran karang boma. Gaya Buleleng itu sangat dinamis,

ada seledetan. Begitu juga dengan ukiran lain. Beliau bisa menunjukkan bukti-buktinya dengan gambar, karena memang beliau riset lama tentang itu,” kata Satria.

Begitu juga dengan karya lukis. Selama berkarya, Wianta membagi karya-karyanya dalam beberapa periode.

Seperti periode Karangasem, titik, segi tiga, segi empat, geometrik, serta kaligrafi. Wianta berani mendobrak gaya lukisan pada tahun-tahun tersebut.

Satria mengaku sempat beraktifitas bersama dengan sang maestro pada tahun 1994 silam. Tepatnya saat Wianta menyelenggarakan ajang Kemah Budaya Nasional.

Ajang itu dihadiri para seniman muda dan seniman tua dari seluruh Indonesia. Agenda yang tadinya dilaksanakan hanya 3 hari, molor menjadi seminggu.

Berbagai dialog dan manifesto kebudayaan, diulas dalam pertemuan tersebut. Selanjutnya pada 2015, Satria juga sempat menemui Wianta.

Ia merekam pesan-pesan kebudayaan yang disampaikan oleh Wianta. Khususnya pada para pemuda yang menggeluti kesenian di Buleleng.

Baik seni tradisi maupun kontemporer. Pesan itu kemudian diolah menjadi sebuah film pendek berjudul “2 ½  Menit Bersama Wianta”.

“Beliau mengompori anak muda agar tidak menjual tradisi. Jangan hanya mengekor legong. Tapi harus berani mencoba membuat sesuatu yang lain, namun tetap mengandung ruh Bali,” terang Satria.

Tepat pukul 15.16, ambulans jenazah milik YPUH berhenti di depan rumah duka. Dari dalam ambulans pihak keluarga turun sambil memegang foto sang maestro.

Para seniman pun berdiri. Memberi penghormatan terakhir pada sang maestro. Sang istri, Intan Kirana pun mengucapkan terima kasih karena rekan-rekan almarhum di Buleleng, turut mendampingi dalam proses perabuan.

Intan menuturkan bahwa Wianta selalu memiliki obsesi yang besar untuk mendukung seniman dan perkembangan seni di Bali.

Salah satunya dalam pelestarian seni tradisi gambuh. Lewat Wianta Foundation, sang maestro mendirikan Pusat Dokumentasi Gambuh di Desa Batuan, Gianyar.

Seniman gambuh yang digandeng untuk berkarya kembali. Mereka diberdayakan untuk pentas secara rutin pada tanggal 1 dan tanggal 15 tiap bulannya. Upaya itu berhasil mendatangkan wisatawan, sehingga kesenian ini tetap hidup.

Tadinya Wianta hendak mengembangkan seni gambuh di beberapa desa lain. “Rencananya di Budakeling, Baturiti, dan Pacung juga.

Tapi, baru jalan satu, bapak sudah sakit. Karena tipikal bapak itu, kalau sudah mengerjakan sesuatu, tidak boleh setengah-setengah. Harus tuntas sampai jadi. Baru kerjakan yang lain,” tuturnya.

Sang putri sulung, Buratwangi juga menuturkan bahwa maestro Made Wianta punya keinginan mendirikan museum untuk menyimpan karya-karyanya.

 “Itu selalu jadi cita-cita bapak. Berkali-kali bapak menyampaikan. Kemungkinan akan kami laksanakan setelah pandemi selesai. Tapi lebih pada private museum,” ujar Buratwangi.

Pihak keluarga menyatakan sudah mengikhlaskan kepergian sang maestro. Terbatasnya aktifitas fisik selama tiga tahun terakhir, diyakini sangat mengurangi energi dan emosi sang maestro.

Saat melakukan upacara metuun, pihak keluarga juga sudah bisa bernafas lega. “Bapak menyampaikan agar keluarga jangan sedih. Karena sudah menemukan tempat yang indah sekali.

Ida Bhatara sudah memberikan tempat yang baik dan sudah dijemput bidadari cantik. Itu khas sekali dengan joke-joke bapak, sehingga kami yakin dan kami ikhlas,” kata Intan Kirana.

Sekadar diketahui, maestro Made Wianta dikenal sebagai seniman serba bisa. Beberapa karya lukisnya kini dikoleksi Galeri Nasional Indonesia.

Karya itu bertajuk Kakiku Banyak (1983) dan Obsesiku (1988). Wianta sempat mengikuti pameran Venice Bienalle pada tahun 2003 dan mengikuti pameran di Weiss Gallery, New York, Amerika Serikat, pada tahun 2005.

Wianta terakhir kali menggelar pameran tunggal bertajuk Run for Manhattan di Ciptadana Art Space Jakarta pada 2017 lalu.

Selain aktif melukis, Wianta juga menerbitkan sejumlah buku kumpulan puisi. Diantaranya berjudul “2 ½ menit”, “Korek Api Membakar Lemari Es”, dan “Kitab Suci Digantung di Pinggir Jalan New York”. (*)

(rb/eps/mus/JPR)

 TOP