alexametrics
Rabu, 20 Jan 2021
radarbali
Home > Dwipa
icon featured
Dwipa

Pasir Dekat Mangrove Dikeruk, Khawatir Abrasi, Warga Pejarakan Protes

01 Desember 2020, 22: 15: 59 WIB | editor : Didiek Dwi Praptono

pengerukan pasir, abrasi, pasir pantai dikeruk, warga protes, warga pejarakan, Buleleng, Pantai Marga Garuda,

GEROKGAK– Krama atau warga Desa Pejarakan melayangkan protes dengan aksi pengerukan pantai di wilayah mereka. Pengerukan itu dikhawatirkan memicu abrasi di wilayah Pejarakan.

 Terlebih pengerukan itu terjadi di dekat kawasan bakau yang ada di Banjar Dinas Marga Garuda, Desa Pejarakan.

Pengerukan disebut terjadi sejak akhir pekan lalu. Sejumlah alat berat dan dump truck dikerahkan untuk mengeruk pasir itu.

Warga merasa curiga karena terlihat lalu lalang dump truck. Setelah dilakukan pengecekan, ternyata terjadi pengerukan pasir. Pengerukan terjadi di atas lahan Eks HGU 8/7 Desa Pejarakan.

Salah seorang warga setempat, Ketut Nasa menyatakan dirinya bersama sejumlah warga dan tokoh sempat bertemu dengan mandor pengerukan.

Konon, proses pengerukan itu dilakukan oleh perusahaan tertentu. Karena mereka memilih hak pengelolaan di atas lahan tersebut.

Warga pun meminta agar pekerjaan itu dihentikan sementara. Karena dikhawatirkan memicu abrasi di pantai.

“Ini kan sudah mau musim ombak besar. Kalau pengerukannya dilanjutkan, nanti pas musim ombak, habis sudah semua mangrove itu disikat ombak,” ujar Nasa yang juga pegiat mangrove di Pejarakan.

Kelian Banjar Adat Marga Garuda, Kadek Yasa secara terpisah menyatakan peristiwa pengerukan pasir itu tak pernah dilaporkan pada aparat desa dinas maupun desa adat. Apalagi disosialisasikan pada warga. Masyarakat setempat merasa keberatan karena khawatir akan terjadi abrasi yang lebih parah.

“Kalau mau melakukan penataan, menurut kami bukan begini caranya. Karena warga sudah melakukan penanaman bakau. Biar tidak terjadi abrasi. Dulu saja tahun 2004, masyarakat di sini ambil pasir satu karung, jadi masalah. Sekarang ada pengerukan besar-besaran begini, jelas warga kecewa,” kata Yasa.

Yasa juga menyebut ada pura yang menjadi lokasi persembahyangan warga. Kalau toh memang dilakukan pembangunan di wilayah tersebut, Yasa meminta agar dilakukan sosialisasi terhadap warga. Karena berkaitan dengan akses jalan menuju pura.

Sementara itu Perbekel Pejarakan Made Astawa mengatakan dirinya sudah langsung meminta klarifikasi dengan pihak pengelola.

Konon pengelola hendak menata kawasan dengan memasang beton penahan gelombang. Agar lahan yang ada tidak habis terkikis abrasi. Astawa pun menyatakan pihak desa didampingi aparat kepolisian, sudah meminta agar pengelola menghentikan sementara proses pengerukan itu.

Astawa menyebut pihaknya masih harus melakukan kajian lebih lanjut. Sebab setahu dirinya, HGU 8/7 Desa Pejarakan sudah habis masa pemanfaatannya pada Oktober lalu.

Rencananya pihak desa akan melakukan koordinasi lebih lanjut dengan Kanwil Pertanahan Provinsi Bali terkait keberadaan HGU tersebut.

“Kami juga kan harus koordinasi lagi dengan pihak lain. Seperti Dinas Lingkungan Hidup, Dinas PU, dan dinas terkait lainnya di kabupaten.

Sebab ini kan krusial sekali. Menyangkut penggalian pasir. Meskipun masih di wilayah sana. Mungkin ada butuh izin amdal atau izin apa kan nanti kami tanyakan juga.

Kami didampingi Pak Kapolsek tadi sudah minta agar kegiatan dihentikan sementara. Sampai nanti pengelola menyelesaikan izin-izin administratif yang dibutuhkan,” tukas Astawa. 

(rb/eps/pra/JPR)

 TOP