alexametrics
Minggu, 17 Jan 2021
radarbali
Home > Dwipa
icon featured
Dwipa

Waspadai Potensi Konflik dan Penularan Kasus Covid-19 Pasca Pilkada

02 Desember 2020, 19: 15: 59 WIB | editor : Didiek Dwi Praptono

Pilkada serentak 2020, Pilkada Jembrana, konflik pilkada, suhu politik memanas, kesbangpol Jembrana, penyebaran Covid-19,

Kepala Badan Kesatuan Bangsa dan Politik Jembrana I Ketut Eko Susilo Artha Permana (M.Basir)

Share this      

NEGARA– Menjelang tahap pemungutan suara, suhu politik di Jembrana terus memanas.

Memanasnya suhu politik itu terlihat di sejumlah akun media social.

Tingginya tensi politik di sosial media tersebut bisa menjadi pemicu atau potensi konflik sebelum pemungutan suara hingga selesai pemungutan suara.

Karena itu, pasangan calon, tim pemenangan dan masyarakat diimbau untuk menjaga kondusifitas Jembrana.

Hal tersebut diungkapkan Kepala Badan Kesatuan Bangsa dan Politik Jembrana I Ketut Eko Susilo Artha Permana, saat rapat koordinasi penanganan konflik.

Menurutnya, secara umum tahapan Pilkada Jembrana yang sudah berjalan sudah berjalan kondusif. Akan tetapi, di dunia maya Pilkada Jembrana seakan memanas, sehingga patut diwaspadai karena berpotensi bisa menjadi bibit konflik di masyarakat.

Potensi konflik Pilkada Jembrana akan lebih besar jika masyarakat, terutama pengguna sosial untuk lebih mengutamakan etika dalam menggunakan media sosial.

“Kami melihat pengguna media sosial banyak menyebarkan postingan hoax dan provokasi yang justru memperkeruh suasana. Berharap medsos berikan kesejukan di masyarakat,” terangnya.

Potensi konflik yang sudah muncul di media sosial, lanjutnya, yang perlu diwaspadai tidak hanya sebelum dan saat pemungutan suara, justru terjadi pada pasca pemungutan suara.

Sebelum KPU Jembrana menetapkan dan mengumumkan pasangan calon terpilih, potensi konflik akan lebih besar sehingga harus diwaspadai oleh semua pihak.

Melihat munculnya potensi konflik Pilkada Jembrana ini, pihaknya mengimbau pada masyarakat untuk menjaga Pilkada Jembrana ini agar tetap kondusif dengan tidak terpengaruh dengan provokasi pihak yang tidak bertanggungjawab.

Khusus pada pasangan calon dan tim pemenangan untuk meredam pendukung dan simpatisan tidak melakukan tindakan yang bisa menimbulkan konflik di masyarakat.

“Paslon dan tim pemenangan terpenting memberikan rasa aman pada masyarakat,” tegasnya.

Selain potensi konflik, potensi penularan Covid-19 pada saat Pilkada Jembrana juga besar, mengingat, kasus penularan Covid-19 di Jembrana dalam sepekan terakhir melonjak drastis sehingga perlu diwaspadai dengan memperketat protokol kesehatan. Protokol kesehatan terutama pada saat pemungutan suara, karena bisa menimbulkan kerumunan orang.

“Pilkada selain damai dan aman, juga sehat dari penularan virus,” terangnya.

(rb/bas/pra/JPR)

 TOP