Kepala Bidang Pengelolaan Kebersihan dan Limbah B3 DLHK Badung, AA Gede Dalem tak menampik bahwa mulai Jumat lalu sampah kiriman yang didominasi sampah kayu telah mengepung pantai Kuta. Pihaknya juga langsung melakukan penanganan bersama sejumlah petugas kebersihan. “Kami kami masih dalam proses penanganan sampah,” terang Agung Dalem, Sabtu (18/2/2023).
Lebih lanjut dalam penanganan sampah pantai Kuta, DLHK mengerahkan sedikitnya 300 tenaga kebersihan dengan ditambah 4 alat berat dan juga 40 truk. Puluhan ton sampah pun berhasil dibersihkan oleh pasukan hijau tersebut. “Untuk total kami masih rekapitulasi karena penanganan sampah masih berlangsung,” ungkapnya.
Namun ia juga mengakui membludaknya sampah kiriman didominasi sampah kayu ini dampak dari cuaca ekstrim hujan lebat disertai angin kencang dan juga gelombang tinggi. “Iya cuaca penghujan yang menghanyutkan kayu kayu, diseret arus angin barat jadi sampah menumpuk di Pantai Kuta. Kami bersama petugas terus standby untuk melakukan penanganan sampah,” bebernya.
Memang berdasarkan prakiraan cuaca BMKG bahwa secara umum cuaca berawan dan berpotensi hujan ringan-sedang di sebagian besar wilayah Bali. Kondisi ini disebabkan oleh Indeks ENSO di NINO3.4:-0.50, signifikan terhadap peningkatan hujan di wilayah Indonesia.
Ada daerah belokan angin dan pertemuan angin (konvergensi) di sekitar wilayah Bali, memicu pembentukan awan dan meningkatkan potensi hujan.
Suhu muka laut di sekitar wilayah Bali umumnya 28-30 derajat celcius. Suhu muka laut yang hangat dapat meningkatkan potensi penguapan di wilayah Bali. Kemudian angin umumnya bertiup dari arah Barat Daya- Barat dengan kecepatan berkisar antara 5-35 km/ jam.
Tinggi gelombang laut di Perairan Utara Bali berkisar antara 0,5-1,25 meter, Perairan Selatan Bali berkisar antara 1-1,25 meter, di Selat Bali berkisar antara 0,5-2,5 meter, dan Selat Lombok berkisar antara 0,5-2,5 meter. [made dwija putra/radarbali]
Editor : Hari Puspita