Bali Bali United Berita Daerah Cover Story Dwipa Ekonomi Ekonomi & Perbankan Events Features Foto Lepas Gaya Hidup Hiburan & Budaya Hiburan & Seni Budaya Hospitality Hukum & Kriminal Inforial Internasional Kesehatan Nasional Opini Otomotif Pariwisata Pendidikan Perbankan Peristiwa Politika Sportainment Sportmania Tamu Redaksi Teknologi Traveling

Tingkatkan Solidaritas, Masyarakat Kapal Ikuti Tradisi Perang Tipat Bantal, Begini Filosofinya

Ni Made Ari Rismaya Dewi • Sabtu, 30 September 2023 | 13:30 WIB

JAGA SOLIDARITAS: Masyarakat Desa Adat Kapal Mengwi Badung saat melaksanakan tradisi Perang Ketupat atau Siat Tipat Bantal, Jumat (29/9/2023)
JAGA SOLIDARITAS: Masyarakat Desa Adat Kapal Mengwi Badung saat melaksanakan tradisi Perang Ketupat atau Siat Tipat Bantal, Jumat (29/9/2023)


MANGUPURA,radarbali.id - Ada tradisi unik di Desa Adat Kapal Mengwi, Badung, Bali. Yaitu, Aci Tabuh Rah Pengangon atau sering disebut Siat Tipat Bantal atau perang ketupat merupakan tradisi dari Desa Adat Kapal setiap sasih kapat, atau sekitar bulan September atau Oktober tiap tahunnya. Di tahun 2023, Siat Tipat Bantal dilaksanakan Jumat (29/9/2023) yang bertempat di depan Pura Desa lan Puseh Kapal, Kecamatan Mengwi, Badung.

Dalam pengertiannya, aci adalah persembahan dan tabuh artinya jatuh atau turun. Rah memiliki arti energi, sedangkan Pengangon merupakan nama lain dari Bhatara Siwa.

Bendesa Adat Kapal, Ketut Sudarsana ungkap pelaksanaan tradisi ini bertujuan untuk meningkatkan solidaritas di antara mayarakat Kapal. Sekaligus untuk memohon ke hadapan Tuhan Yang Maha Kuasa agar dilimpahkan kekuatan lahir batin dan sumber penghidupan agar masyarakat di Desa Adat Kapal bisa mencapai kemakmuran dan keseahteraan.



Disebutnya tradisi ini sudah dilaksanakan sebanyak 784 kali yang melibatkan semua krama Desa Adat Kapal yang kurang lebih berjumlah 10 ribu jiwa.

Dalam pelaksanaannya kali ini menggunakan 15 ribu tipat dan 15 ribu bantal yang dihaturkan oleh masing-masing masyarakat dari 18 banjar.

"Tipat sebagai simbol pradana, bantalnya debagai simbol purusa. Kalau posisi sekarang di pura, yang memegang tipat itu atau yang melempar tipat itu letaknya di selatan," tuturnya.

 

Baca Juga: Wali Kota Jaya Negara Warning Pengelola TPST Kertalangu, Tagih Janji Pengolahan Sampah 100 Persen di September

Adapun tipat ini dilemparkan oleh kaum wanita sebagai simbol pradana. Dari arah berlawanan, laki-laki melemparkan bantal sebagai simbol purusa. Sehingga tipat dan bantal yang dilempar ini akan bertemu di udara.

"Pertemuan inilah secara simbolik akan menghasilkan kehidupan baru, karena adanya pertemuan purusa dan pradana atau laki-laki dan perempuan. Kalau manusia, pertemuan sperma dan sel telur," sambungnya.

Kehidupan baru dalam hal ini menciptakan energi-energi baru guna berlangsungnya kehidupan masyarakat. Berdasarkan sejarahnya, tradisi Aci Tabuh Rah Pengangon berawal pada tahun 1339 yaitu pada masa pemerintahan Raja Bali Asta Sura Ratna Bumi Banten.

Baca Juga: Gegara Tak Diperbolehkan Pulang, Nafsu, Tiga Pemuda Menggilir Teman Sendiri Lalu Diciduk, Begini Ceritanya

Raja Bali kala itu memerintahkan patihnya yang bernama Ki Kebo Iwa yang berasal dari Blahbatuh untuk datang ke Desa Kapal guna merestorasi Pura Saba.

"Setibanya di Desa Kapal, beliau melihat keberadaan Pura Saba yang dititahkan oleh raja untuk merestorasi. Namun, masyarakat kapal pada saat itu mengalami musim paceklik," jelasnya.

Terlebih di kala itu masyarakat bergelut di bidang agraris. Sehingga ia memohon ke hadapan Bhatara yang brstana di Pura Saba agar masa-masa sulit itu cepat berlalu.

Baca Juga: Duh, Terdampak Kemarau Panjang, di Tabanan Bunga Buah Durian Berguguran

Dalam semedinya, sang patih mendapatkan petunjuk dari alam niskala, sehingga masyarakat Desa Kapal diwajibkan melakukan persembahan ke hadapan Bhatara Siwa dengan sarananya berupa tipat bantal.

Lebih lanjut, tradisi Siat Tipat Bantal sudah diakui secara nasional sebagai warisan budaya tak benda. Tiap tahunnya tradisi ini dilaksanakan secara rutin dan tak pernah tidak dilakukan.

"Tradisi perang tipat inilah yang kami lakukan setiap setahun sekalai dan tidak pernah tidak dilakukan. Semasa sulit apapun situasi seperti pandemi, kami menyikapinya dengan personelnya tidak terlalu banyak," ungkapnya.***

Editor : M.Ridwan
#tradisi perang ketupat #Siat Tipat Pura Desa dan Puseh Kapal #desa adat kapal #Perang Tipat #mengwi