MANGUPURA, Radar Bali.id - Sekaa teruna di Kabupaten Badung dapat bergembira dalam menyambut Pengerupukan tahun 2024 ini. Pasalnya, Dinas Kebudayaan (Disbud) Kabupaten Badung telah menaikkan dana kreativitas dalam rangka pembuatan ogoh-ogoh.
Untuk diketahui, dana kreativitas dari Disbud Badung di tahun 2023 yakni sebesar Rp15 juta per sekaa teruna atau yowana. Sementara di tahun ini, Kepala Disbud Badung, I Gede Eka Sudarwitha ungkap dana kreativitas disesuaikan menjadi Rp20 juta.
"Ada penyesuaian sedikit jadi Rp20 juta. Nika banjar kita ada 540 (se-Badung, red), tapi memang ada beberapa yowana yang juga kita akui karena memang itu di beberapa perumahan-perumahan yang memiliki banjar suka duka. Jadi hitungannya yang kemarin 580-an," tuturnya, Sabtu (6/1/2024).
Penyesuaian ini dilakukan sesuai dengan pengamatan dan penilaian dari Bupati Badung dan pimpinan daerah, dengan melihat kondusifitas dan kreativitas dari sekaa teruna dan yowana yang sudah semakin baik.
"Jadi dalam rangka mendorong kembali kreativiats para sekaa teruna dan yowana, dilakukan kenaikan dan penyesuaian. Agar para anggota sekaa teruna dan yowana itu dapat berkreativitas dengan baik," sambungnya.
Adapun anggaran dari dana kreativitas bersumber dari APBD tahun 2024 sekitar Rp11.600.000.000. Pengajuan permohonan bantuan dana kreativitas dari sekaa teruna dan yowana pun sudah dilakukan sejak bulan Maret 2023 lalu.
Hingga saat ini, hampir semua sekaa teruna maupun yowana di Gumi keris telah memberikan proposal dan beberapa masih ada dalam proses perbaikan. Kemudian dilanjutkan dengan tahapan tata kelola administrasi dan segera disampaikan oleh Bupati Badung.
"Mungkin di awal Februari (bisa pencairan dana), karena masih ada penyesuaian-penyesuaian ataupun tata kelola administrasi yang harus diikuti," paparnya.
Pengerupukan di tahun 2024 ini pun sedikit berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, yaitu bertepatan dengan hari Umanis Kuningan dan keesokannya sudah Nyepi. Sehubungan dengan hal tersebut, diakuinya memang ada aspirasi dari beberapa desa adat mewakili sekaa terunanya dan termasuk sekaa teruna itu sendiri, untuk menyelenggarakan Dresta Lango.
Sekaa teruna yang tidak membuat ogoh-ogoh tetap bisa mengajukan proposal dan menyesuaikannya dengan kearifan lokal daerahnya."Jadi tidak dalam bentuk ogoh-ogoh kreativitas (jelang, red) Nyepi-nya itu. Ada beberapa tradisi dan kearifan lokal di masing-masing desa adat atau wilayah itu yang misalnya diadakan berikaitan dengan Nyepi atau sasih kesanga," sambungnya.
Oleh karenanya, sekaa teruna yang tidak membuat ogoh-ogoh tetap bisa mengajukan proposal dan menyesuaikannya dengan kearifan lokal daerahnya.
Eka menyebutkan sekaa teruna yang membuat ogoh-ogoh se-Kabupaten Badung akan dinilai dalam rangka lomba yang diadakan Disbud Badung.
Adapun penilaiannya akan dilakukan sekitar dua minggu sebelum pelaksanaan Pengerupukan. Sekaa teruna nantinya akan memperebutkan gelar juara 1 hingga juara harapan 3, sekaligus mendapatkan hadiah dari Disbud Badung.
"Harapannya sekaa teruna dan yowana di Kabupaten Badung dapat semakin meningkatkan kreativitas sehubungan dengan pelaksanaan menyambut Nyepi Saka 1946 atau pelaksanaan Pengerupukan. Agar dapat dimaknai sebagai bagian dari tradisi, berdasarkan kearifan lokal yang berlandaskan agama Hindu," kata Eka.
Untuk diketahui, Pengerupukan di Badung akan disemarakkan dengan pagelaran pawai ogoh-ogoh di masing-masing desa. Namun, ada beberapa catatan yang ditegaskannya untuk tahun ini.
Dalam mendorong dan mengupayakan agar pawai ogoh-ogoh semakin berkualitas, ia mengingatkan agar tidak memuat unsur sara atau pornografi dalam kreasinya.
Kedua yaitu tidak memuat unsur yang berkaitan dengan politik. Ketiga, pawai dilaksanakan dengan dikoordinir oleh desa adat atau kelurahan, yaitu mengambil tempat di lapangan desa/di depan wantilan/sarana prasarana desa lainnya. Sehingga tidak menggunakan jalan protokol utama, baik kabupaten, provinsi, ataupun nasional.
Apabila menggunakan jalur protokol utama, agar disiapkan alternatif pengalihan arus lalu lintasnya dan tidak boleh menutup jalan.
Selanjutnya, pawai ogoh-ogoh maksimal dilaksanakan sampai pukul 22.00 WITA dan sudah bubar pukul 23.00 WITA. Dengan harapan seluruh tiga pilar dari kelaurga, yaitu wimuda , winata, dan wiwerda dapat menikmati euforia pawai.
"Apabila masih dilakukan pawai melewati jam 10 malam, akan didiskualifikasi dari penilaian lomba ogoh-ogoh," tegasnya.
Begitupun dengan pawai yang melewati jalan protokol utama di atas pukul 22.00 WITA, akan diimbau atau bahkan didorong untuk kembali ke bale banjar oleh Satpol PP, Dishub, atau petugas dari kepolisian. [*]
Editor : Hari Puspita