Sebanyak 40 hingga 50 karung pasir dipasangnya sejak tiga bulan lalu. Tanggul ini bertujuan untuk meminimalisir dampak dari abrasi di area bar yang sudah berdiri sejak enam tahun ini.
"Meminimalisir ditariknya pasir ke dalam laut. Kalau ada abrasi, (ditangani, red) manual pakai sekop. Jadinya sebisa mungkin meminimalisir," tuturnya ketika ditemui di Pantai Kuta, kemarin (12/1).
Selain meminimalisir dampak abrasi, tanggul ini dipasangnya untuk menjadi akses wisatawan untuk turun ke bagian bawah pantai. Terlebih wisatawan yang sudah berumur biasanya kesulitan untuk turun karena tidak ada penopangnya.
Adapun tanggul ini dipasangnya dengan menggunakan dana pribadi. Menurutnya, jika ia tak berinisiatif lebih dulu, masih belum pasti kapan akan ada penanganan dari pihak terkait.
"Untuk sekarang sih masih pakai dana pribadi. Ini baru pertama kali pasang. Soalnya belajar dari tahun-tahun lalu, setiap tahun pasti ada saja abrasi yag lebih keras," kata Sammy.
Satu karung pasir dibelinya dengan harga yang cukup murah dari langganannya, yakni Rp3 ribu. Sehingga untuk dipasang di barnya, minimal uang yang dikeluarkan masih ada di bawah Rp100 ribu.
Ketika proses awal pemasangan tanggul, ia dihadapi abrasi yang membuat karung-karung berserakan. Kendati demikian, para pemilik bar lainnya ikut bergotong royong untuk membangun kembali tanggulnya.
Tanggul ini hanya dipasang sedikit di areanya berjualan dan tidak sampai di bagian depan, karena dapat mengganggu akses jalan.
Alhasil, tanggul ini dinilainya lumayan sukses untuk mencegah dampak abrasi dan mempertahankan space barnya. Sehingga wisatawan yang berbelanja di tempatnya bisa duduk-duduk sembari menikmati keindahan Pantai Kuta.
"Jadinya lebih banyak orang bisa duduk di sini. Makin gampang jadinya untuk menarik perhatian tamu ke sini," sambungnya.
Sebelum dipasang, ia pun sudah berkoordinasi dengan Satgas Pantai Kuta dan diingatkan agar tidak sampai menghalangi jalan. Karena mereka mengizinkan pemasangan tanggul yang dipergunakan untuk akses jalan.
Lebih lanjut, tanggul ini diperkirakan bertahan dalam hitungan bulan saja. Pasalnya, karung-karung pasir kebanyakan diinjak-injak oleh orang yang melintas. Ditambah lagi kondisi panas dan hujan yang membuatnya makin rapuh.
Sammy pun mengapresiasi upaya yang telah dilakukan oleh pemerintah terkait untuk mencegah dampak abrasi di Pantai Kuta.
"Sebenarnya sih ini sudah bagus, cuma lebih ke perhatian terhadap pasirnya saja. Karena saat abrasi kan banyak pasir yang ke bawah lagi ke dalam, space kita banyak berkurang," paparnya.
Diharapkannya agar ke depannya pihak-pihak terkait bisa membantu para pedagang untuk mengambil pasir lagi, setelah kehilangan pasir di areanya masing-masing pasca abrasi.***