Uniknya Tradisi Mekotek Saat Kuningan di Tengah Guyuran Hujan Deras Desa Adat Munggu, Mengwi, Badung Bali
Ni Made Ari Rismaya Dewi• Senin, 11 Maret 2024 | 13:01 WIB
TRADISI UNIK: Mekotek salah satu tradisi tolak bala dari Desa Munggu, Mengwi, Kabupaten Badung, Bali, Sabtu (9/3/2024) Upacara Mekotek dilaksanakan dengan tujuan memohon keselamatan.
MANGUPURA,radarbali.id - Masyarakat di Desa Adat Munggu, Kecamatan Mengwi, Badung menggelar tradisi Mekotek atau Ngerebeg, Sabtu (9/3). Untuk diketahui, tradisi ini rutin diselenggarakan tiap Hari Raya Kuningan dan diikuti oleh 12 banjar yang ada di Desa Adat Munggu.
Warga yang berusia 15 hingga 60 tahun atau yang masih produktif nampak membawa kayu pulet dari rumahnya masing-masing dan bersiap mengikuti tradisi. Kelian Desa Adat Munggu, I Made Suwinda menyampaikan bahwa kayu pulet memang tumbuh di Desa Adat Munggu.
"Di alas beraban namanya pada zaman itu. Di sanalah tumbuh kayu yang namanya kayu pulet yang begitu lentur dan tidak mudah patah. Makanya satu-satunya kayu yang bisa digunakan untuk tradisi Mekotek itu adalah kayu pulet," tuturnya.
Tinggi maksimal kayu yang digunakan yakni maksimal 4,5 meter dan diameternya menyesuikan dengan orang yang bersangkutan.
Berdasarkan pantauan di lapangan, tradisi ini tetap berjalan meski sempat diguyur hujan tepat sebelum dimulai. Setelah hujan cukup reda, iring-iringan mulai keluar dari Pura Puseh lan Desa menuju ke jalan raya untuk mengelilingi desa sembari juga mengarak tamiang kolem. Tamiang kolem atau atau tameng yang menjadi bukti warisan dalam perjuangan mempertahankan wilayah Blambangan.
"Apapun rintangan cuaca, prosesi itu tidak bisa dihentikan. Malah kalau ada hujan, lebih senang. Kalau kita sampai memberhentikan itu, kita takutnya nanti ada suatu orang yang kerauhan. (Sehingga, red) prosesi itu harus kita jalankan, berapapun rintangannya," jelasnya.
Titik-titik tradisi Mekotek yakni di Pura Beten Bingin; perempatan catus pata agung; melewati pertigaan Pemaron; dan terakhir kembali di Pura Puseh lan Desa.
Setelah selesai tradisi mekotek, kayu pulet disimpan di masing-masing rumah warga. Kayu ini pun bisa dipakai hingga tiga kali Kuningan.
Lebih lanjut, tradisi turun-temurun sejak tahun 1700-an ini dilaksanakan sebagai penghormatann kemenangan pasukan taruna Munggu pada saat mempertahankan wilayah kekuasaan Raja Mengwi yang ada di Blambangan.
Pada masa penjajahan, tradisi mekotek ini dilarang oleh Belanda atau ditiadakan karena dikira sebagai perlawanan rakyat kepada penjajah.
Akibatnya banyak masyarakat di Desa Munggu yang terkena wabah penyakit. Bahkan, banyak juga masyarakat yang sampai meninggal dunia.
Oleh karenanya, tradisi mekotek harus dilaksanakan di Desa Adat Munggu dan diyakini sebagai penolak bala. Serta dilaksanakan untuk memohon keselamatan seluruh masyarakat yang ada di Desa Adat Munggu.
"Kami berharap bagaimana cara mempertahankan tradisi adat yang ada di Desa Munggu biar tidak punah. Dan kami tekankan kepada masyarakat Desa Adat Munggu untuk mengajegkan tradisi Mekotek pada saat Hari Raya Kuningan," ujarnya. ***