DENPASAR,radarbali.id - Manajemen PT. Royal Garden Residence (RGR), angkat bicara. Bahwa pemutusan air ke beberapa Kepala Keluarga (KK), dalam kompleks perumahan terpaksa dilakukan.
Sebab, warga-warga terkesan tidak tahu diri. Kendati demikian, tidak membayar iuran air hingga iuran pengelolaan lingkungan. Akibatnya, pihak management mengalami kerugian.
Untuk diketahui, Perumahan Royal Garden yang dikelola secara sah oleh Pihak PT Royal Garden Management semenjak 2023. Sejak dulu, warga di perumahan mendapatkan pasokan air bersih dari pihak managemen.
Tentu bayar dengan membawa iuran sesuai dengan pemakaian. Kini segelintir warga di Perumahan Royal Garden Residence (RGR), diduga coba melakukan provokasi.
Caranya, membuat laporan ke Polda Bali. Tentu sehubungan dengan adanya pemutusan jaringan air bersih.
"Ya, terpaksa management memutuskan jalur air bersih ke beberapa warga. Sebab, sejumlah KK dari Ratusan warga di Perumahan Royal Garden, tidak mau membayar iuran air hingga iuran pengelolaan lingkungan," bebernya.
Karena tidak bayar iuran, manajemen mengalami kerugian. Sebelumnya, sudah beberapa kali mendiskusikan dengan warga yang lalai dalam membayar iuran, bahkan manajemen sudah bersurat dan memberikan kebebasan untuk warga memasang PDAM namun tidak di respon.
"Sudah tidak bayar iuran, mereka malah melaporkan kami ke Polisi," kilah perwakilan PT Royal Garden Management sapaan Komang K, di Denpasar, Jumat malam (27/9). Dikatakan, pemutusan aliran air bersih terpaksa harus dilakukan untuk mengantisipasi kerugian yang semakin besar lagi.
"Terus terang, ada warga yang hingga tahunan tidak mau membayar iuran, sedangkan kami perlu adanya maintenance mesin untuk kelancaran pasokan air bersih," tambah Komang K.
Pihak PT RGR mengaku pemutusan sementara pasokan air bersih itu hanya dilakukan kepada konsumen yang lalai membayar iuran saja, tidak untuk semua warga perumahan Royal Garden.
"Pemutusan air tersebut bersifat sementara untuk beberapa KK dari 300 warga yang ada," jelas pihak management melalui Komang J, sembari menyatakan ratusan warga kehilangan pasokan air bersih, itu tidak benar.
"Ya, tidak benar ratusan warga. Pernyataan ratusan warga itu hoax, diduga provokasi semata," sambungnya.
Adanya pelaporan segelintir warga yang melaporkan ke Polda Bali, itu sangat dihargai oleh manajemen. Namun tidak harus memberikan informasi yang tidak akurat.
"Kami sayangkan karena segelintir warga saja, penghuni perumahan sampai mau diprovokasi. sebab kami sudah beberapa kali mendiskusikan hal ini dengan warga guna melakukan maintenance bersama, namun tidak ada respon hingga kini," pungkasnya.***
Editor : M.Ridwan