Bali Bali United Berita Daerah Cover Story Dwipa Ekonomi Ekonomi & Perbankan Events Features Foto Lepas Gaya Hidup Hiburan & Budaya Hiburan & Seni Budaya Hospitality Hukum & Kriminal Inforial Internasional Kesehatan Nasional Opini Otomotif Pariwisata Pendidikan Perbankan Peristiwa Politika Sportainment Sportmania Tamu Redaksi Teknologi Traveling

Palegongan Klasik Taksu Mandala-Ungasan Pukau Penonton PKB, Kenalkan Rangkaian Tabuh dan Tari Klasik Inovasi kepada Generasi Muda

Made Dwija Putera • Rabu, 16 Juli 2025 | 03:55 WIB
Komunitas Seni Taksu Mandala Banjar Wijaya Kusuma, Desa Adat Ungasan, Kuta Selatan, tampil dalam ajang PKB Ke-47 di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Bali, Denpasar, Senin (14/7/2025).
Komunitas Seni Taksu Mandala Banjar Wijaya Kusuma, Desa Adat Ungasan, Kuta Selatan, tampil dalam ajang PKB Ke-47 di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Bali, Denpasar, Senin (14/7/2025).

DENPASAR, radarbali.jawapos.com -Komunitas Seni Taksu Mandala dari Banjar Wijaya Kusuma, Desa Adat Ungasan, Kuta Selatan, tampil memukau dalam ajang Pesta Kesenian Bali (PKB) ke-47 yang berlangsung di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Provinsi Bali, Denpasar, Senin (14/7/2025).

Duta seni Badung ini menampilkan rangkaian tabuh dan tari klasik serta kreasi baru yang sarat makna budaya.

Pembina Palegongan Klasik Taksu Mandala Komang Trisandiasa Putra, menjelaskan bahwa penampilan tahun ini menjadi momentum penting untuk memperkenalkan kembali kekayaan seni klasik kepada generasi muda, sekaligus menghadirkan inovasi yang tetap berpijak pada akar tradisi.

Ia menjelaskan, membina untuk legong kreasi yang mengambil judul Manohara. ”Manohara ini saya ambil dari pengalaman mantra, Manohara, yang artinya keseimbangan.

Jadi jagat Kerthi kita ini kan perlu keseimbangan, perlu sinergi yang benar-benar nyata antara putih dan hitam. Feminim dan maskulin. Hitam, putih, rwa bhinena.

Kita gabungkan, terus kita kolaborasikan spirit cak-nya di Desa Ungasan. Untuk seniman yang tampil sebanyak 30 orang dengan Latihan dari 4 bulan lalu,” ujarnya.

Penampilan diawali dengan Tabuh Petegak Palegongan Klasik berjudul Kulicak, sebuah karya warisan maestro tabuh I Gusti Putu Made Geria.

Terinspirasi dari suara burung Kulicak, garapan ini mengusung komposisi khas era 70-an dengan dinamika musikal yang menyentuh. Komposisi ini pertama kali dikenal melalui penampilan tim kesenian RRI Denpasar dan kini dihidupkan kembali oleh generasi muda Ungasan.

Tabuh ini dibina oleh I Komang Sukajaya Sudarma dengan tata busana penabuh dari Kicuk Collection, dan mendapat dukungan penuh dari Kelian Desa Adat serta Perbekel Desa Ungasan.

Selanjutnya, Tabuh Petegak Palegongan Kreasi berjudul Saet Wangsul ditampilkan sebagai simbol keterikatan emosional masyarakat Ungasan terhadap tanah kelahirannya. Disusun oleh I Wayan Pradnya Pitala.

Garapan ini mengusung konsep musikal yang terinspirasi dari huruf vokal pada kata ”wangsul” dan menggambarkan perjalanan anak-anak Ungasan yang menuntut ilmu ke luar negeri lalu kembali membangun desanya.

Taksu Mandala juga menampilkan Tari Legong Klasik Jobog, yang menceritakan perseteruan antara dua bersaudara, Sugriwa dan Subali, dari kisah Ramayana.

Sebagai penutup, ditampilkan Tari Legong Kreasi berjudul Manohara, garapan Kadek Ayu Diah Mutiara Dewi dan Ni Putu Putri Laksmi Dewi. Karya ini terinspirasi dari filosofi Rwa Bhineda, yang mengajarkan keseimbangan antara dua hal yang bertolak belakang.

Melalui harmoni gerak antara kelembutan dan kekuatan, Manohara menghadirkan pesan spiritual tentang pentingnya menerima perbedaan untuk mencapai kehidupan yang seimbang. Tabuh pengiring digarap oleh I Nyoman Tri Sandyasa.

Sementara Bendesa Adat Ungasan, Wayan Disel Astawa mengatakan, pihaknya selalu mensupport terhadap kesenian di Desa Adat Ungasan.

”Kami berterima kasih karena telah dipilih ikut mensukseskan PKB yang diselenggarakan tahun ini . Kami diberi kesempatan untuk menampilkan yang pertama adalah gong kebyar yang sudah pentas kemarin dan yang kedua adalah dari komunitas seni Taksu Mandala yaitu pelegongan klasik.

Jadi hal ini adalah suatu kebanggaan dan kehormatan yang kami rasakan selaku masyarakat Desa Adat Ungasan dan khususnya bagi generasi muda karena mengajarkan dan melestarikan seni, adat, dan budaya itu bukan hanya cukup karena ada finansial tetapi harus ada kemauan dan niat dan bakat.

Lebih lanjut dikatakan, kalau tanpa bakat, kemauan, dan niat sebesar apapun anggaran yang diberikan pasti akan lalai. ”Astungkara, kami punya generasi muda yang dalam hal ini adalah mau untuk menjaga adat, seni dan budaya,” paparnya.

Editor : Rosihan Anwar
#PKB 2025 #Diskominfo Badung #pesta kesenian bali