Persoalan klasik pengolahan sampah organik, yakni aroma tak sedap dan durasi pembusukan yang lama, kini menemukan solusinya. Melalui tangan dingin seorang pakar asal Jepang, Prof. Dr. Takeshi Takama, sebuah inovasi bernama Bio Fighter mulai mengubah wajah pengelolaan sampah di Kabupaten Badung.
BERTEMPAT di Pererenan, Kuta Utara, Badung, perusahaan Sustainability and Resilience yang didirikan Prof. Takama fokus pada solusi berbasis sains untuk lingkungan.
Salah satu temuan unggulannya adalah cairan Bio Fighter, yang secara khusus dikembangkan menggunakan mikroorganisme atau bakteri lokal Bali.
Solusi Cepat Tanpa Kimia
Bio Fighter bukan sekadar cairan biasa. Inovasi ini bekerja dengan melepaskan mikroorganisme yang mampu mengendalikan hama secara organik tanpa ketergantungan pada insektisida kimia. Keunggulan utamanya terletak pada kemampuannya mempercepat dekomposisi.
"Banyak orang tidak sabar menunggu proses pembuatan kompos yang lama. Dengan Bio Fighter, pengelolaan sampah menjadi jauh lebih cepat, tidak berbau, dan yang terpenting, tidak ada lalat selama proses penguraian," jelas Prof. Takama, Sabtu (21/2/2026).
Hebatnya lagi, teknologi ini sangat efisien. Hanya dengan satu liter Bio Fighter yang dicampur air, sistem ini mampu mengolah hingga 10 ton sampah organik.
Sukses Tekan Residu di TPST Mengwitani
Efektivitas teknologi ini telah dibuktikan oleh Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan (DLHK) Kabupaten Badung. Kepala Bidang Pengelolaan Kebersihan dan Limbah B3 DLHK Badung, Anak Agung Gede Dalem, menyebutkan bahwa Bio Fighter telah diterapkan di TPST dan Pusat Daur Ulang (PDU) Mengwitani selama setahun terakhir.
Hasilnya cukup signifikan dalam mendukung konsep ekonomi sirkular:
- Kapasitas Produksi: Mengolah sekitar 17 ton kompos setiap hari.
- Efisiensi: Sekitar 20% dari total sampah yang masuk berhasil dikonversi menjadi kompos.
- Teknologi Ishibashi: Fasilitas ini juga didukung teknologi dari Ishibashi Limited yang mampu memproduksi 11 ton kompos per hari dari total 50 ton sampah wilayah Badung.
"Proses utama pengolahan ini adalah pemilahan sampah untuk mengurangi residu yang dibuang ke TPA. Sampah organik diolah menjadi kompos berkualitas yang bisa digunakan warga kembali untuk tanaman mereka," pungkas Agung Dalem.[*]
Editor : Hari Puspita