KUTA, RadarBali.id– Isu sampah laut yang terus menghantui pesisir Bali memicu aksi nyata dari berbagai elemen masyarakat.
Tak terkecuali warga perantauan asal Nusa Tenggara Timur (NTT) yang tergabung dalam Komunitas Bungawaru Alor–Bali. Pada Minggu (15/3/2026) sore, puluhan anggota komunitas ini turun ke jalan untuk melakukan aksi bersih-bersih di kawasan ikonik Pantai Kuta dan Pantai Legian.
Dengan mengusung tema “Jaga Bumi Rumah Kita Bersama, dari Kita untuk Kita,” aksi sosial ini melibatkan sekitar 50 orang dari berbagai generasi—mulai dari anak-anak, remaja, hingga para sesepuh komunitas.
Menyisir 3 Kilometer Garis Pantai
Sambil membawa kantong plastik besar, para peserta menyisir garis pantai sepanjang kurang lebih tiga kilometer. Hasilnya cukup mengejutkan; mereka berhasil mengumpulkan sampah sebanyak 2.500 kilogram atau 2,5 ton.
Koordinator aksi, Yos Koilmo, merinci bahwa sampah yang terkumpul mencapai 40 kantong kresek besar dengan berat masing-masing kantong berkisar antara 50 hingga 70 kilogram.
"Sampah didominasi oleh plastik dan potongan kayu yang terbawa arus laut. Kondisinya cukup memprihatinkan, sehingga kami berinisiatif turun langsung," ungkap Yos.
Wujud Rasa Memiliki terhadap Pulau Dewata
Meski berasal dari sebuah kampung kecil bernama Bungawaru di Alor, NTT, para anggota komunitas yang kini menetap di Denpasar, Gianyar, dan Badung ini merasa memiliki tanggung jawab moral terhadap Bali.
Tokoh komunitas, Frits Atabuy, menegaskan bahwa aksi ini murni didorong oleh rasa kepedulian karena Bali telah menjadi rumah kedua bagi mereka. "Pantai adalah wajah pariwisata Bali. Jika kotor, tentu kenyamanannya berkurang. Kami melihat isu sampah ini masif, maka kami merasa perlu ambil bagian," jelas Frits.
Pesan Kolaborasi: Sampah Bukan Hanya Urusan Pemerintah
Melalui aksi ini, Komunitas Bungawaru Alor ingin mengirimkan pesan kuat kepada publik bahwa menjaga kebersihan lingkungan adalah tugas kolektif, bukan hanya beban pemerintah.
"Menjaga kebersihan Bali adalah tanggung jawab seluruh elemen masyarakat. Kami tidak akan berhenti di sini; kegiatan seperti ini akan terus berlanjut agar Bali tetap bersih dan nyaman dikunjungi," pungkas Frits.[*]
Editor : Hari Puspita