MANGUPURA, Radar Bali. id – Ada pemandangan menarik di Gradasi Center, Longstorage Tukad Mati, Kuta pada Kamis (30/4/2026).
Gelak tawa warga pecah saat menyaksikan pementasan Bondres. Namun, di balik banyolan khas seniman Bali tersebut, terselip pesan krusial mengenai edukasi pemilahan sampah dari sumbernya.
Kegiatan ini merupakan inisiasi Gerakan Sedekah Sampah Indonesia (GRADASI) melalui Sekretariat TKN PSL yang didukung oleh UNDP Indonesia. Fokus utamanya adalah memperkuat komunitas Sekaa Resik Bali melalui penyediaan fasilitas komposter dan peningkatan kapasitas masyarakat dalam memilah limbah rumah tangga.
Wakil Ketua Sekaa atau Sekhe Resik Bali, Siti Rosidah, menjelaskan bahwa pendekatan berbasis budaya dan kearifan lokal jauh lebih efektif dalam menyentuh kesadaran masyarakat adat.
“Edukasi tidak harus kaku. Melalui pementasan Bondres, pesan pemilahan sampah tersampaikan dengan cara yang menghibur. Kami juga menyerahkan bantuan tong komposter sebagai drop point sampah organik kepada komunitas Gradasi di Kuta,” jelas Rosidah.
Gerakan Sekhe Resik yang diinisiasi oleh Majelis Desa Adat (MDA) Bali ini memang menempatkan desa adat sebagai aktor utama. Harapannya, terbentuk kelompok-kelompok Sekhe Resik di tingkat banjar yang menjadi motor penggerak perubahan perilaku.
Selain edukasi seni, acara tersebut juga diisi dengan penyerahan perlengkapan kerja secara simbolis kepada petugas kebersihan oleh Pusat Pengendalian Lingkungan Hidup Bali Nusra.
Pelemahan Desa Adat Kuta, I Made Rudika, menyambut baik sinergi ini. Menurutnya, kolaborasi antara pemerintah, komunitas, dan desa adat sangat potensial untuk menciptakan sistem tata kelola sampah yang berkelanjutan.
“Kami di desa adat terus berupaya melakukan edukasi mandiri, dan adanya dukungan fasilitas komposter serta metode edukasi seperti ini tentu akan mempercepat pemahaman krama (warga) terkait penanganan sampah,” pungkasnya.[*]
Editor : Hari Puspita