Atasi Kemacetan Kuta Selatan, Badung Kebut Jalan Lingkar Barat Rp 2,2 Triliun

Dhian Harnia Patrawati • Dipublikasikan Selasa, 21 Juli 2026 | 13:43 WIB
Salah satu trase Jalan Lingkar Barat Badung yang menghubungkan Uluwatu-Pecatu di Kecamatan Kuta Selatan. (Pemkab Badung)
Salah satu trase Jalan Lingkar Barat Badung yang menghubungkan Uluwatu-Pecatu di Kecamatan Kuta Selatan. (Pemkab Badung)

 

RADAR BALI - Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Badung terus memacu pembangunan infrastruktur transportasi di wilayah Badung Selatan.

Tahun ini, Badung mengalokasikan anggaran Rp 2,2 triliun untuk pembangunan sejumlah infrastruktur jalan, terutama Jalan Lingkar Barat Uluwatu-Labuan Sait-Padati-Pecatu, Jalan Subak Sari-Umalas, Jalan Banjar Semer - Teuku Umar Barat, Jalan Pengubengan, dan Jalan Subak Kedampang.

Anggaran ini dialokasikan untuk pembebasan lahan, pemadatan tanah, konstruksi fisik jalan, pembangunan jembatan, hingga penataan jaringan utilitas. Pembangunan trase jalan ini dilakukan untuk mengatasi titik kemacetan parah di kawasan Kuta Selatan, terutama di Jalan Raya Uluwatu menuju Simpang Nirmala hingga Pecatu.

"Jalan Lingkar Barat yang panjangnya sekitar 10 kilometer akan menjadi solusi kemacetan di sepanjang Jalan Raya Uluwatu, khususnya kawasan di Politeknik Negeri Bali, Garuda Wisnu Kencana, Nirmala, sampai ke Uluwatu," ujar Bupati Badung Adi Arnawa.

"Panjangnya ini 10 kilometer lebih dan tantangannya cukup berat. Di bukit ini kan ada pemotongan tebing-tebing batu, pembangunan jembatan juga tidak bisa cepat, dan ada penambahan akses menuju Kampus Udayana," ungkapnya.

Bebas Kabel Utilitas dan Jaringan Air Bersih Paralel

Demi menjaga estetika kawasan pariwisata Badung Selatan, Bupati Adi Arnawa menginstruksikan Dinas PUPR Badung agar sepanjang jalan yang baru dibangun nantinya benar-benar bebas dari bentangan kabel di udara.

Seluruh jaringan utilitas termasuk pipa distribusi air bersih diwajibkan tertanam rapi di bawah tanah (underground). “PDAM juga sedang bergerak mengatasi kebutuhan air di Badung Selatan sehingga berdampak kepada pertumbuhan ekonomi,” jelasnya.

Secara rinci, proyek Jalan Lingkar Selatan (JLS) dan Lingkar Barat ini melintasi kawasan strategis Kuta Selatan yang mencakup Kelurahan Jimbaran, Desa Kutuh, Desa Ungasan, Kelurahan Benoa, hingga Desa Pecatu.

Segmen 1 (Nusa Dua – Gunung Payung): Berawal dari Jalan Nusa Dua Selatan (selatan The Apurva Kempinski) menuju ke persimpangan Pantai Gunung Payung / Sawangan.

Segmen 2 (Gunung Payung – Pantai Melasti): Melintasi kawasan pesisir selatan Kutuh hingga terhubung ke area Pantai Melasti.

Segmen 3 (Pantai Melasti – Tanjung Mebulu): Menghubungkan Pantai Melasti ke arah barat menuju kawasan Tanjung Mebulu (Pecatu).

Segmen 4 (Tanjung Mebulu – Jimbaran / AYANA): Melintasi persimpangan Cemongkak hingga tersambung ke kawasan Jimbaran di sekitar AYANA Resort, yang selanjutnya dikembangkan memotong kawasan Wanagiri menuju Kampus Universitas Udayana (Unud).

Penambahan trase memotong Wanagiri menuju Kampus Unud dirancang khusus agar tidak terjadi sentralisasi atau penumpukan arus kendaraan di Simpang Kali Jimbaran. Dengan demikian, sirkulasi arus lalu lintas dari Kuta, Ungasan, maupun Nusa Dua memiliki banyak pilihan jalur alternatif.

Seluruh rangkaian pengerjaan fisik Jalan Lingkar Barat ini diproyeksikan selesai sepenuhnya pada akhir 2027, sehingga pada rentang tahun 2027–2028 kelancaran arus lalu lintas di kawasan Badung Selatan dapat terwujud secara optimal.***

Editor : Ibnu Yunianto
Sumber : Radar Bali
Jalan Lingkar Barat Badung Kemacetan Kuta Selatan Infrastruktur Badung i wayan adi arnawa pariwisata bali