GIANYAR,radarbali.id – Skor imbang 1-1 melawan Persik Kediri dalam lanjutan Liga 1 musim 2023/2024 di pekan ke tujuh membuat jajaran pelatih Bali United wajib evaluasi besar-besaran pada permaiannya.
Hal ini tak lepas dari hasil statistik yang mengecewajan saat bermain di kendang sendiri, yakni di Stadion I Wayan Dipta, Gianyar pada Senin (7/8) lalu. Terlebih juga kebobolan di menit-menit krusial.
“Kami nanti harus melihat evaluasi dengan melihat video dari pertandingan buat kami bisa evaluasi lebih bagus,” ujar Stefano “Teco” Cugurra usai pertandingan saat ditanya wartawan Radar Bali.
Diketahui, statistik mencatat dari babak pertama dan babak kedua, Bali United selalu kalah dalam penguasaan bola. Secara keseluruhan, Bali United hanya mampu menguasai pertandingan 45 persen.
Begitu juga dengan peluang untuk menciptakan gol, di mana Ilija Spasojevic dan koleganya hanya mendapat 4 kesempatan untuk menciptakan gol disbanding lawannya yang memiliki 7 kesempatan gol.
Bahkan, dalam catatan Radar Bali, 4 kesempatan gol saat bermain dikandang sendiri pun menjadi yang terkecil jika dibandingkan dengan 5 laga yang sebelumnya dilewati Bali United dikandangnya.
Ini artinya, ada persoalan dalam membangun serangan ke lawan. Dalam pantauan di lapangan juga memperlihatkan serangan yang dibangun para pemain Bali United sangat mudah dipatahkan oleh lawan.
Aksi individual Private Mbarga yang mudah terblok oleh lawan, sentuhan Eber Bessa yang kerap kecolongan bola, begitu juga M. Rahmat yang kerap menunggu umpan Panjang dari Elias Dolah di pinggi lapangan bahkan hingga Spasojevic yang jarang menerima bola pun jadi penyebab.
Satu-satunya pemain yang bisa menjadi man of the macth dalam pertandingan tersebut justru dari sisi bek kanan yang diisi oleh Novri Setiawan. Eks Persija Jakarta ini bermain konsisten sepanjang laga dan paling terlihat bekerja keras dalam pertandingan tersebut.
Selain itu, pergantian pemain di babak kedua oleh Teco juga menjadi sorotan. Kadek Agung di ganti Saimima, M. Rahmat diganti Ramdani Lestaluhu, Kadek Arel diganti Jajang Mulyana dan Eber Bessa diganti Ardi Idrus sehingga Ricky Fajrin dipindah menjadi gelandang bertahan pun tak berjalan efektif.
“Ricky menjadi gelandang bertahan karena saya mau tim lebih solid dalam bertahan dan lebih bagus. Ardi Idrus juga punya marking bagus dan punya tenaga, karena tim butuh tenaga,” ujarnya.
Daya gedor Bali United yang lemah tersebut juga tak lepas dari para pemain yang sudah sangat terlihat kelelahan dalam pertandingan tersebut. Hal itu terlihat dari kecepatan berlari para pemain yang melambat di babak kedua hingga komunikasi antar pemain yang berjalan kurang baik.
Bali United kini memiliki 11 poin dari 7 laga yang telah dijalaninya. Namun 11 poin tersebut tidaklah jaminan untuk Serdadu Tridatu, julukan Bali United ini untuk berada di papan atas. Bisa saja dengan mudah terpental ke papan tengah karena tim lain banyak yang belum bertanding di pekan ketujuh.***
Editor : M.Ridwan