DENPASAR, radarbali.id – Bali United ruoanya punya julukan baru. Lantaran suka mengulur waktu dan main tak beraigrah dengan penuh drama menjatuhkan diri, kini tim serdadu tridatu mendapat julukan Guling-Guling FC dalam mengarungi Liga 1 musim 2023/2024.
Sebuah julukan yang diniali memalukan. Ini tak lepas karena para pemain Bali United sering bermain rebahan saat posisi mereka sedang unggul dari lawannya.
Salah satu yang tegas mengatakan hal tersebut adalah pelatih Madura United, Mauricio Souza. Bahkan tak tanggung-tanggung, gaya permainan yang dilakukan Bali United saat unggul akan merusak jalannya pertandingan dan tidak menghargai penonton yang datang.
“Setelah Bali United unggul 2-1, kiper itu (Adilson Maringa) terus lambatkan permainan dan mereka (pemain Bali United) mulai “jatuh-jatuh” di lapangan. Seperti tak mau main lagi. Tidak ada ketegasan wasit untuk bermain cepat. Jadi susah. Waktu kami mau bermain cepat, mereka jatuh terus,” sesal Mauricio.
Bahkan, Pelatih asal Brasil tersebut mengumpamakan dirinya jika menonton pertandingan dengan gaya Bali United yang saat unggul seperti tersebut, maka Ia lebih memilih untuk tidak membeli tiket untuk menonton pertandingan seperti itu.
“Sebab hal itu tidak respek dengan para penonton yang datang,” tegasnya.
Namun Mauricio tidak mau menyalahkan Bali United sepenuhnya. Baginya, fenomena seperti ini dibutuhkan ketegasan seorang wasit saat memimpin di lapangan. Sehingga, bila hal serupa kembali terjadi di Liga 1, maka wasit harus mengambil tindakan keras agar permainan berjalan dengan baik.
Diketahui, dalam pertandingan Madura United melawan Bali United, berhasil dimenangkan oleh anak asuh Stefano “Teco” Cugurra dengan skor 1-2. Kemenangan tersebut mengantarkan Bali ke 2 klasemen sementara di bawah Borneo FC Samarinda.
Sayangnya, kemenangan tersebut harus dinodai dengan aksi guling-guling tanpa alasan yang jelas oleh para pemainnya. Seperti halnya kerap dilakukan oleh Adilson Maringa, kiper Bali United. Bukan pertama kali, hal ini pun sering dilakukan Bali United ketika sedang unggul. Bahkan bisa dari babak kedua baru dimulai.
Pengamat Sebut Bali United Cederai Fair Play
SEMENTARA itu pengamat Sepak Bola di Bali, Satya Wibhawa menilai cara mengundur-ngundurkan waktu saat unggul memang terjadi sejak lama. Jauh sebelum sepak bola modern ini tercetuskan. Namun jika dibiarkan, maka akan merusak tontonan pertandingan.
“Strategi ini sebenarnya dari dulu sudah ada, bukan hanya terjadi sekarang, namun memang ini tidak elok dan sebagai penonton akan menjadi hal yang tidak nikmat untuk disaksikan,” ujarnya kemarin.
Bahkan, kata Satya, Pelatih Kashima Antlers U18 saat melawan Bhayangkara U18 di Youth championship cup sempat menyindir bagaimana sepakbola Indonesia bisa maju bila setiap ada keunggulan kemudian menerapkan strategi seperti ini. “Kalau menurut saya ini lebih mencederai sifat fair play dalam sepakbola,” pungkasnya.***
Editor : M.Ridwan