MALANG, Radar Bali,id – Pecah telur juga, akhirnya. Stadion Kanjuruhan menjadi saksi bisu pertandingan paling dramatis di pekan ke-24 BRI Super League 2025/2026.
Tuan rumah Arema FC harus mengakui keunggulan tamunya, Bali United, dengan skor tipis 3-4 pada Jumat malam (6/3/2026).
Laga ini diwarnai dengan aksi saling balas gol, intervensi VAR, hingga dua gol bunuh diri di menit-menit akhir yang membuat jantung suporter kedua tim berdegup kencang.
Jalannya Pertandingan
Bali United tampil mengejutkan dengan efektivitas tinggi di babak pertama. Gelandang anyar mereka, Teppei Yachida, membuka keunggulan pada menit ke-22 lewat sepakan akurat.
Hanya berselang lima menit, Diego Campos menggandakan keunggulan menjadi 2-0 yang bertahan hingga turun minum.
Memasuki babak kedua, Arema FC yang didorong ribuan Aremania bangkit. Dalberto Luan Belo memperkecil ketertinggalan pada menit ke-61 melalui gol yang sempat dianulir namun disahkan oleh VAR. Namun, Yachida kembali mencetak gol (66') untuk membawa Bali menjauh 3-1.
Drama sesungguhnya terjadi di 15 menit terakhir. Dalberto mencetak gol keduanya lewat penalti (78'), membuat skor 2-3. Di masa injury time, bek Arema Betinho melakukan gol bunuh diri fatal (90+4') yang membuat skor 2-4. Tak lama berselang, bek Bali United Kadek Arel juga mencetak gol bunuh diri (90+5'), mengubah skor menjadi 3-4. Meski Arema terus menggempur di sisa waktu, skor tetap bertahan untuk kemenangan tim tamu.
Kemenangan Krusial
Kemenangan ini terasa sangat krusial bagi anak asuh Johnny Jansen karena mereka datang dengan modal buruk: enam laga beruntun tanpa kemenangan (seri dan kalah). Berikut adalah faktor kunci kebangkitan "Serdadu Tridatu":
Efektivitas Transisi Positif
Berbeda dengan laga-laga sebelumnya di mana Bali United sering mendominasi penguasaan bola namun tumpul, di Kanjuruhan mereka bermain lebih pragmatis. Mereka hanya mencatat 31% penguasaan bola, namun sangat mematikan dalam serangan balik. Setiap kali lini tengah Arema kehilangan bola, transisi cepat ke Teppei Yachida dan Diego Campos selalu berujung peluang berbahaya.
Dampak Pemain Asing Baru
Performa Teppei Yachida menjadi pembeda. Dua golnya membuktikan bahwa ia telah beradaptasi dengan ritme Liga Indonesia. Kehadiran pemain yang mampu mengeksekusi peluang dari lini kedua memberikan dimensi serangan baru yang selama ini hilang dari skema Bali United.
Keroposnya Lini Belakang Arema
Bali United berhasil mengeksploitasi absennya pilar pertahanan Arema, Walisson Maia dan Matheus Blade, yang sedang cedera. Koordinasi yang buruk di jantung pertahanan Singo Edan, puncaknya pada gol bunuh diri Betinho, dimanfaatkan dengan baik oleh lini serang Bali untuk terus memberikan tekanan psikologis.
Kedisiplinan Taktis Johnny Jansen
Pelatih Johnny Jansen tampaknya melakukan evaluasi besar pada lini pertahanan. Meski kebobolan tiga gol, struktur pertahanan Bali United di babak pertama sangat rapat, memaksa Arema melakukan banyak tembakan jarak jauh yang tidak efektif.
Kemenangan ini membawa Bali United naik ke posisi ke-9 dengan 33 poin, melompati Arema FC yang kini turun ke peringkat ke-11 dengan 31 poin.[*]
Editor : Hari Puspita