RADAR BALI – Skuad Bali United FC kembali menggelar tradisi tahunan keagamaan ritual Tirta Yatra atau sembahyang bersama secara maraton pada Rabu (15/7). Perjalanan suci menyambut musim kompetisi baru ini dimulai dari tempat latihan, kemudian menuju Pura Er Jeruk, Stadion Kapten I Wayan Dipta, Pura Ulun Danu Batur, dan bermuara akhir di Pura Penataran Agung Besakih.
Secara definitif, tirta yatra merupakan aktivitas perjalanan suci ke tempat-tempat ibadah (pura) untuk memohon air suci (tirta). Bagi klub kebanggaan Semeton Dewata ini, agenda keagamaan tersebut rutin diselenggarakan secara kolektif oleh jajaran manajemen, tim pelatih, pemain, hingga offisial.
Langkah ini diambil sebagai fondasi spiritual utama untuk memohon restu kepada Tuhan Yang Maha Esa (Sang Hyang Widhi Wasa) menjelang bergulirnya kompetisi kasta tertinggi sepak bola tanah air, Super League musim 2026/27, yang dijadwalkan mulai bergulir pada bulan September 2026 mendatang.
Tidak hanya diikuti oleh penggawa tim utama, agenda spiritual ini juga melibatkan jajaran pelatih Bali United Academy serta Local Officer Committee (LOC) Stadion Dipta. Bagi skuad Serdadu Tridatu, pelaksanaan ritual suci di Pulau Dewata ini membawa esensi mendalam yang melampaui aspek olahraga semata.
Esensi Upacara Tirta Yatra
Pembersihan Spiritual dan Kedamaian Diri: Ritual ini bertujuan untuk menyucikan pikiran, hati, dan jiwa para pemain secara rohani, sekaligus menumbuhkan kedamaian batin sebelum menghadapi persaingan kompetisi yang ketat.
Memohon Keselamatan dan Kelancaran: Melalui doa bersama, tim memohon perlindungan agar seluruh rangkaian pertandingan berjalan lancar, terhindar dari cedera parah, dan mendapatkan hasil yang maksimal di lapangan.
Penguatan Ikatan Tim (Team Bonding): Berjalan bersama menuju tempat suci dan berdoa berdampingan dengan mengenakan pakaian adat Bali memperkuat rasa kebersamaan, kekompakan, serta keharmonisan lintas suku, agama, dan budaya di dalam tim.
Penghormatan terhadap Budaya Lokal: Sebagai klub yang berbasis di Bali, kegiatan ini menjadi wujud nyata adaptasi dan penghormatan manajemen serta para pemain—termasuk pilar asing—terhadap tradisi leluhur dan kebudayaan lokal masyarakat setempat.
Kesan Mendalam Legiun Asing
Momen Tirta Yatra kali ini menjadi tahun kedua bagi Pelatih Bali United Johnny Jansen beserta jajaran staf kepelatihannya yang sama-sama berasal dari Belanda.
Kebersamaan spiritual ini juga dirasakan kembali oleh para legiun asing yang memilih memperpanjang masa bakti mereka musim ini, seperti Tim Receveur, Mike Hauptmeijer, Joao Ferrari, hingga Thijmen Goppel.
Sementara bagi gelandang asal Jepang, Teppei Yachida, agenda ini menjadi pengalaman pertamanya mengunjungi rangkaian pura suci tersebut karena baru bergabung pada putaran kedua musim lalu.
"Saya pikir ini kegiatan bagus sekali untuk belajar budaya di Bali. Saya juga berbicara soal keyakinan kepada pemain dalam tim. Ini membawa kebersamaan dalam tim dan saya sangat senang dengan kegiatan ini," ungkap Pelatih Bali United Johnny Jansen.
Setelah program penyucian spiritual ini rampung, target Pelatih Bali United Johnny Jansen untuk musim keduanya di Indonesia langsung meningkat signifikan. Dirinya menegaskan bahwa target utama Serdadu Tridatu adalah merengkuh gelar juara setelah melalui proses pembentukan kerangka tim yang matang pasca libur panjang pergantian musim.
Target papan atas ini didukung oleh perombakan komposisi pemain, di mana manajemen sukses mendatangkan amunisi asing anyar seperti penyerang sayap Remco Balk dan gelandang Queven da Silva Inacio.
Pengalaman Pertama Jort van der Sande
Sorotan utama dalam perjalanan suci ini tertuju pada penyerang anyar Bali United asal Bonaire berdarah Belanda, Jort van der Sande. Striker berusia 30 tahun tersebut mendapatkan pengalaman perdananya mengenakan pakaian adat khas Bali, lengkap dengan kemeja putih dan udeng upacara berwarna putih bersih.
Bagi Jort van der Sande, prosesi ibadah keagamaan di Pura Agung Besakih serta perjalanan lintas wilayah ini menumbuhkan rasa hormat mendalam di hatinya terhadap kebudayaan lokal.
Tidak hanya terkesan oleh nilai sakral kebudayaan Bali, keindahan panorama alam Pulau Dewata juga sukses memikat perhatiannya, terutama saat rombongan tim menikmati sesi makan siang bersama di kawasan dataran tinggi Kintamani dengan latar pemandangan Gunung dan Danau Batur yang memukau.
"Saya pikir ini momen yang sangat indah dalam budaya dan saya bisa melihat langsung kebersamaan kuat di dalam tim saat ini. Saya mendapatkan pengalaman berharga dalam hal budaya dan saya menaruh respek besar dengan mengenakan baju adat ini. Sungguh pemandangan alam yang sangat indah," ujar Striker Bali United Jort van der Sande.
Menatap musim perdananya di kancah sepak bola Indonesia, penyerang bertubuh jangkung ini memilih bersikap realistis namun tetap optimistis. Mengingat kompetisi kasta tertinggi baru akan bergulir September mendatang dan tim baru menjalani intensitas program latihan selama sepekan, Jort menegaskan fokus utamanya saat ini adalah bekerja maksimal untuk mengembalikan kebugaran fisik ke level puncak.
Dia menargetkan Bali United mampu mengamankan posisi di lima besar klasemen akhir melalui kerja keras kolektif seluruh elemen tim.***
Editor : Ibnu YuniantoSumber : Radar Bali