RADAR BALI – Kebijakan larangan kehadiran suporter tim tamu (away) pada ajang kompetisi sepak bola nasional memberi dampak signifikan bagi finansial pengelola klub.
PT Bali Bintang Sejahtera Tbk (BOLA), entitas yang mengoperasikan Bali United, mencatatkan rapor merah pada laporan keuangan semester pertama tahun 2026.
Sepanjang paruh pertama tahun ini, BOLA membukukan rugi bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk mencapai Rp 158,63 miliar.
Perolehan ini berbanding terbalik jika dibandingkan dengan periode setara pada tahun lalu, di mana perseroan masih mampu mengamankan profit bersih senilai Rp 1,18 miliar.
Penyebab utama dari defisit ini berakar pada membengkaknya biaya operasional klub yang naik menjadi Rp183,70 miliar dari angka sebelumnya Rp 139,18 miliar.
Beban keuangan semakin tertekan oleh kemunculan pos pengeluaran lain-lain sebesar Rp 124,66 miliar yang pada tahun sebelumnya tidak ada. Alhasil, neraca laba sebelum pajak mengalami pembalikan dari posisi untung Rp 662 juta menjadi rugi Rp 160,42 miliar.
Aturan pembatasan penonton lawan di stadion berimbas langsung pada penurunan volume pembelian tiket pertandingan. Efek dari merosotnya penjualan tiket ini tecermin pada arus kas penerimaan dari pelanggan yang menyusut 6,58 persen secara tahunan (year-on-year) menjadi Rp 117,05 miliar.
Kendati demikian, manajemen BOLA berusaha menekan pengeluaran dengan melakukan efisiensi pembayaran ke vendor menjadi Rp 73,65 miliar dari sebelumnya Rp 110,22 miliar, sehingga penggunaan kas untuk aktivitas operasional tersisa Rp 7,13 miliar.
Di tengah tekanan operasional tersebut, perseroan tetap merealisasikan penambahan aset tetap dengan gelontoran dana investasi sebesar Rp 16,53 miliar, atau melonjak 204,98 persen. Langkah ekspansi ini membuat posisi cadangan kas dan setara kas akhir periode tergerus menjadi Rp 9,05 miliar.
Secara keseluruhan, total aset pengelola Bali United per 30 Juni 2026 mengalami penurunan 14,32 persen menjadi Rp 769,86 miliar dibanding penutupan tahun 2025. Pada saat yang sama, kewajiban atau liabilitas naik menjadi Rp 122,10 miliar, sementara porsi ekuitas tertekan ke posisi Rp 647,75 miliar.
Di pasar modal, pergerakan saham emiten berkode BOLA ditutup pada level Rp162 per lembar pada akhir Juli (31/7). Meskipun mencatatkan tren kenaikan 12,50 persen dalam rentang bulanan, kinerja harga sahamnya masih terkoreksi 6,90 persen secara year to date.***
Editor : Ibnu YuniantoSumber : Radar Bali