Bali Bali United Berita Daerah Cover Story Dwipa Ekonomi Ekonomi & Perbankan Events Features Foto Lepas Gaya Hidup Hiburan & Budaya Hiburan & Seni Budaya Hospitality Hukum & Kriminal Inforial Internasional Kesehatan Nasional Opini Otomotif Pariwisata Pendidikan Perbankan Peristiwa Politika Sportainment Sportmania Tamu Redaksi Teknologi Traveling

[Viral Lagi] Puncak Gunung Agung Kembali Diselimuti Awan Mirip UFO

Didik Dwi Pratono • Sabtu, 23 Mei 2020 | 00:15 WIB
viral-lagi-puncak-gunung-agung-kembali-diselimuti-awan-mirip-ufo
viral-lagi-puncak-gunung-agung-kembali-diselimuti-awan-mirip-ufo

AMLAPURA-Fenomena awan unik kembali terjadi di Puncak Gunung Agung, Karangasem, Bali, Jumat pagi (22/5)


Kejadian yang dianggap sebagian masyarakat sebagai fenomena langka, ini yakni terkait munculnya awan melingkar berbentuk mirip payung atau topi atau piring terbang (UFO).


Kontan, atas fenomena awan di gunung tertinggi di Bali inipun langsung viral di sejumlah media social (medsos).


Salah satunya di akun facebook milik  Buana Putra.  Pemilik akun Fb ini, mengunggah video tentang fenomena Puncak Gunung Agung yang diselimuti  topi atau payung sekitar pukul 08.58.


Diatas video berdurasi 0;37 detik itu, pemilik akun menuliskan caption atau keterangan video di statusnya “Gunung Agung Hari Ini. Mogi Jagate nemu rahayu. Om nama siwa tedung agung mengayomi jagat Ring rahina tilem sasih jiyestha


Kontan atas unggahan video dan caption yang dibubuhkan di status Fb-nya langsung mendapat respon dari banyak netizen. Bahkan video ini sudah disebarkan lebih dari 4.000 kali dan viral.


Sementara itu, dari catatan radarbali.id, fenomena awan yang dikenal sebagai awan "Altocumulus Lenticularis' ini juga sempat viral dan pernah terjadi pada 5 Agustus 2018 lalu.


Bahkan saat itu, dari keterangan Badan Meteorologi Klimatogi Geofisika (BMKG), fenomena awan ini merupakan fenomena langka dan jarang terjadi.


Bahkan, meski bagi sebagain masyarakat sekitar gunung dianggap tidak berbahaya, namun dari beberapa pendapat, awan ini berbahaya bagi dunia penerbangan karena bisa memicu terjadinya turbulensi.

Editor : Didik Dwi Pratono