Bali Bali United Berita Daerah Cover Story Dwipa Ekonomi Ekonomi & Perbankan Events Features Foto Lepas Gaya Hidup Hiburan & Budaya Hiburan & Seni Budaya Hospitality Hukum & Kriminal Inforial Internasional Kesehatan Nasional Opini Otomotif Pariwisata Pendidikan Perbankan Peristiwa Politika Sportainment Sportmania Tamu Redaksi Teknologi Traveling

Dilanda Longsor, 253 KK di Dua Banjar di Busungbiu Terisolir

Didik Dwi Pratono • Minggu, 17 Januari 2021 | 06:15 WIB
dilanda-longsor-253-kk-di-dua-banjar-di-busungbiu-terisolir
dilanda-longsor-253-kk-di-dua-banjar-di-busungbiu-terisolir

BUSUNGBIU-Musibah tanah longsor terjadi di Desa Sepang Kelod, Kecamatan Busungbiu, Buleleng, Jumat malam (15/1).


Akibat longsor, ratusan kepala keluarga (KK) di Desa Sepang Kelod hingga kini masih terisolasi.


Perbekel Sepang Kelod I Ketut Ngurah saat dikonfirmasi mengungkapkan, hingga Sabtu sore (16/1), ada 5 titik longsor yang belum bisa tertangani.


Belum tertanganinya sejumlah titik longsor menyebabkan ratusan kepala keluarga di dua wilayah terisolir.


Menurutnya, ada total 213 kepala keluarga di Banjar Dinas Gunung Sari, dan 40 kepala keluarga di wilayah Banjar Dinas Asah Badung.


Ngurah mengatakan warga sudah berusaha membersihkan material. Namun kesulitan. Karena ketebalan material setinggi dada orang dewasa.


Material bukan hanya tanah saja. Ada pula kayu gelondongan hingga batu dengan diameter puluhan centimeter.


“Kalau mengandalkan gotong royong saja, mungkin satu minggu baru selesai. Sedangkan jalur ini satu-satunya yang jalan yang digunakan warga kami. Apalagi yang di Gunung Sari itu. Untuk jalan saja susah, apalagi untuk lewat kendaraan,” kata Ngurah.


Saat ini, lanjutnya, warga masih berkonsentrasi membersihkan material longsoran yang sekiranya bisa diselesaikan secara manual.


Namun hingga sore, upaya pembersihan material terpaksa tertunda. Karena hujan kembali turun dan khawatir terjadi longsor susulan.


Lebih lanjut Ngurah mengatakan, musibah tanah longsor itu merupakan musibah terburuk dalam kurun waktu 20 tahun terakhir.


Terakhir kali musibah longsor terjadi pada tahun 2011 lalu. Kala itu tercatat ada 14 titik longsor yang terjadi di penjuru Desa Sepang Kelod.


Sementara tahun ini, jumlah titik longsor lebih banyak dua kali lipat. Kerugian materi yang timbul pun jauh lebih besar.


“Kemungkinan ini karena hujan lebat. Wilayah sini sudah hujan terus selama dua hari dua malam, tidak reda-reda.


Puncaknya memang Jumat malam (15/1) itu. Kami di sini masih terjaga sampai jam 01.00 WITA dini hari karena was-was. Malah air di Tukad Pulukan itu hampir melampaui tinggi jembatan. Padahal dari jembatan ke permukaan air itu, biasanya sekitar 4 meter tingginya,” jelas Ngurah.


Sementara itu Camat Busungbiu I Gede Putra Aryana mengatakan, pihaknya masih terus mengidentifikasi kerusakan yang terjadi di wilayah Sepang Kelod.


Putra menyebut Desa Sepang Kelod merupakan salah satu desa yang masuk wilayah rawan bencana tanah longsor.


Selain Desa Sepang Kelod, Sejumlah desa lain, seperti Desa Tista, Desa Sepang, dan Desa Pucaksari juga rentan dilanda tanah longsor.


Putra mengaku telah mengordinasikan musibah tersebut pada Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Buleleng.


“Tadi juga pembersihan sudah dibantu Pol PP, TNI, Polri, dan BPBD. Untuk wilayah Gunung Sari dan Asah Badung, rencananya akan dibersihkan besok (hari ini, Red) menggunakan alat berat dari BPBD,” tukasnya. 

Editor : Didik Dwi Pratono
#bpbd buleleng #pemkab buleleng #cuaca buruk