Wabah pandemi Covid-19 yang terjadi sejak setahun lalu benar-benar menyisakan cerita pahit.
Salah satunya adalah Santa. Demi bertahan hidup, ia harus banting setir dari pekerjaan sebelumnya karena menjadi korban PHK.
I WAYAN WIDYANTARA, Nusa Dua
TINGGAL di sebuah pemukiman bedeng di wilayah Nusa Dua, Badung, Bali, Santa tampak begitu tegar.
Ia tinggal di sebuah kontrakan di pemukiman bedeng bersama keluarganya.
Sebelum pandemi Covid-19, pemuda berusia 22 tahun asal Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB) ini bekerja di salah satu hotel di Wilayah Jimbaran, Kuta Selatan, Badung.
Saat itu, ia bekerja sebagai housekeeping. Namun sejak Maret 2020 lalu, Santa diberhentikan dari tempat kerjanya alias terkena pemutusan hubungan kerja (PHK).
Sejak di-PHK, Santa sempat menganggur. Padahal ia tinggal di Bali bersama keluarganya.
Seperti tak mau berpangku dan pasrah dengan keadaan. Segala upaya dilakukan untuk bisa bertahan hidup dan membantu memenuhi kebutuhan keluarganya.
Singkat cerita, Santa memutuskan untuk menjadi pemulung. Bahkan ia mengaku, pekerjaannya memungut barang bekas atau memulung, ini sudah ia lakukan sejak 10 bulan lalu.
"Sudah sepuluh bulan saya nyari barang bekas. Berkeliling dan kemudian saya jual untuk kebutuhan sehari-hari. Cukuplah untuk beli beras," ujar Santa saat ditemui di bedengnya, Kamis (11/2).
Selain mencari barang bekas, disela waktu senggang usai memulung, Santa masih menyempatkan diri untuk memanfaatkan lahan di belakang bedeng kontrakannya yang tak terurus dengan menanam tumbuhan seperti jagung, bawang dan sayuran lainnya.
Bercocok tanam itu, ia lakukan demi untuk bisa mengurangi beban hidupnya.
"Ya menanam juga sampai sekarang. Buat makan aja, yang penting perut terisi dan bisa bertahan hidup. Apalagi di perantauan tidak seperti di kampung, kalau di kampung masih ada lah saudara," tuturnya.
Bahkan meski terbilang susah payah, namun Santa mengaku masih berhati besar dan bersyukur.
Menurutnya, ketegaran dirinya itu, karena dampak wabah Corona tak hanya ia alami sendiri bersama keluarganya. “Masih banyak warga atau saudara di Bali yang masih kesusahan untuk bertahan hidup karena sektor pariwisata sedang dalam keadaan paling terpuruk.
Potret Santa inilah yang kemudian diangkat dalam sebuah lagu berjudul Is'it tears or is'it blood.
Lagu ini diciptakan dan dinyanyikan oleh Ras Muhammad dan Octav Antrabes. Mereka juga mengajak Voice Of Bali terlibat dalam lagu ini.
Sebuah lagu tentang keadaan sosial yang terjadi ditengah pandemi ini, dimana kelaparan sudah menjadi persoalan utama di tengah masyarakat di Bali ini pun kemudian melibatkan Erick Est untuk pembuatan video klipnya.
Erick Est mengambil lokasi syuting di dua tempat. Yakni di Kuta dan tempat Santa tinggal di rumah bedeng yang ada di Nusa Dua. Semua proses syuting sudah selesai dan tinggal launching saja, pada 14 Februari 2021 ini.
Usai melakukan proses syuting, Erick Est kemudian memberikan sumbangan sembako di lokasi syuting.
"Ini sebagai ucapan terima kasih dan sekaligus mereka memang patut dibantu. Saya sedih sekali melihat kondisi mereka. Kita memang harus saling bantu dalam pandemi ini," tukas sutradara yang telah lama berkarir di Bali ini.
Editor : Didik Dwi Pratono