SINGARAJA– Warga keturunan Tionghoa yang bermukim di Buleleng, melakukan tradisi ci suak. Tradisi ini diyakini untuk menjauhkan kesialan. Terutama bagi warga yang memiliki shio kelahiran tertentu.
Di Buleleng, tradisi ci suak sudah dilangsungkan secara turun temurun.
Pada tahun imlek 2572 ini, ritual ci suak dilangsungkan di Tempat Ibadah Tri Dharma (TITD) Seng Hong Bio.
Pelaksanaan ci suak jatuh pada Jumat (26/2) yang juga bertepatan sebagai hari cap go meh dalam kalender Tionghoa.
Pada tahun ini ada empat shio yang mengalami ciong alias sial. Shio yang mengalami ciong besar adalah shio kambing dan kerbau. Sementara yang mengalami ciong kecil adalah shio naga dan anjing.
Proses ci suak tahun ini juga berbeda dari tahun-tahun sebelumnya.
Biasanya para rohaniawan akan melakukan persembahyangan secara bergelombang. Sesuai dengan kedatangan umat.
Selanjutnya umat dipersilahkan melakukan ritual fang shen, entah itu dengan melempar kacang-kacangan atau melepas hewan.
Karena tahun ini masih dalam suasana pandemi, ci suak dilakukan dengan tata cara khusus.
Umat yang hendak mengikuti ritual ci suak harus mendaftar di TITD Seng Hong Bio sejak Sabtu (20/2) hingga Rabu (24/2) lalu.
Mereka harus menyertakan potongan rambut, nama, usia, dan shio ke dalam kertas angpao.
Selanjutnya panitia akan memberikan sarana ci suak berupa air suci atau tirta serta kacang-kacangan.
Umat kemudian diminta melakukan ibadah sendiri dari rumah pada Jumat (26/2) siang.
Ibadah dapat dilaksanakan secara mandiri mulai pukul 13.00 siang, setelah rohaniawan menuntaskan persembahyangan di klenteng.
Wakil Ketua TITD Ling Gwan Kiong-Seng Hong Bio, Gunadi Yetia mengatakan pelaksanaan ritual tahun ini memang berbeda dari tahun-tahun sebelumnya.
Biasanya, tiap tahunnya umat langsung datang ke klenteng.
Total bisa lebih dari 300 orang datang ke klenteng untuk melakukan persembahyangan sekaligus menjalani ritual ci suak yang diyakini bisa menolak bala.
“Tahun ini cukup diwakili rohaniawan saja. Umat cukup menyerahkan nama, usia, shio, dan potongan rambutnya. Nanti rohaniawan akan membacakan doa.
Selanjutnya umat silahkan bersembahyang di rumah. Kalau mau fang shen (melepas hewan) silahkan dilakukan di rumah masing-masing,” tukas Gunadi.
Editor : Didik Dwi Pratono