POLITISI senior PDI Perjuangan Klungkung I Wayan Sutena, Jumat malam (2/4) sekitar pukul 22.00 WITA berpulang.
Mantan ketua DPRD Klungkung dan Anggota DPRD Provinsi Bali ini menghembuskan nafas terakhir diusia 54 tahun karena positif terpapar Covid-19.
Atas meninggalnya Sutena, banyak dari rekan mendiang yang kaget dan merasa kehilangan.
DEWA AYU PITRI ARISANTI, Klungkung
KEPERGIAN politisi senior PDI Perjuangan asal Desa Tegak, Kecamatan Klungkung, tak hanya mengejutkan banyak pihak.
Namun kepergian sosok politisi yang energik, murah senyum, dan aktif di berbagai organisasi itu juga menyisakan duka mendalam bagi keluarga yang ditinggalkan.
Salah satunya, Pande Agus Surya Suweca Khana. Putra ketiga dari mendiang Sutena juga tak pernah menyangka jika ayahnya akan pergi begitu cepat.
Dikonfirmasi terkait kronologi meninggalnya sang ayah, Pande mengatakan bahwa sebelum dibawa dan dirawat ke RS Bali Madara (RSBM), ayahnya sempat mengeluh demam tinggi.
Lantaran demam tinggi, Sutena kemudian dilarikan ke RS Bali Mandara di Jalan Bypass I Gusti Ngurah Rai, Sanur, Denpasar Selatan.
Di RS milik Pemerintah Provinsi (Pemprov) Bali ini, Sutena imbuh Pande sempat menjalani isolasi sekitar kurang lebih satu minggu.
“Kondisi bapak selama di isolasi masih bisa merespon baik. Bahkan beberapa kali juga masih bisa berkomunikasi via video call dengan keluarga dan lainnya,”terang Pande.
Singkat cerita, setelah sekitar sepekan menjalani perawatan isolasi di RSBM, kondisi sang ayah terus menurun.
Akibat kondisinya terus memburuk, oleh petugas medis, Sutena kemudian dirujuk ke RSUP Sanglah Denpasar.
“Bapak dirujuk karena alat di RS Bali Mandara sudah tidak bisa membantu sehingga dirujuk ke RS Sanglah. Kalau tidak salah beliau dirujuk empat hari yang lalu,” ungkapnya, Sabtu (3/4).
Namun Jumat (2/4), kondisi kesehatan ayahnya tak kunjung membaik dan malah makin parah dengan munculnya sesak nafas dan batuk.
Sehingga karena muncul sesak, pihak dokter di RSUP Sanglah Denpasar memutuskan untuk memasang ventilator. Tujuan pemasangan ventilator saat itu agar Sutena tetap bisa terbantu bernafas.
“Kondisinya sempat tidur lama sekitar 5-6 jam karena ngedrop dan pengaruh obat. Baru bangun itu di jam 9 malam saat akan dipasangi ventilator. Kami dari keluarga itu sudah setuju ke dokter untuk memasangkan ventilator,” terangnya.
Namun kata Pande, saat dokter hendak memasang alat ventilator, ayahnya sempat menolak atau tidak berkenan
Selanjutnya, sekitar 30 menit dari sejak sang ayah menolak menggunakan ventilator, ia mendapat informasi dari pihak rumah sakit bila ayahnya telah meninggal dunia.
“Beliau tidak bersedia dipasangkan ventilator. Kata beliau, beliau ingin berjuang sendiri dulu. Dan akhirnya setengah jam berikutnya ada berita meninggal dunia,” bebernya.
Sementara itu, masih terkait gejala awal sebelum mendiang meninggal, Pande menyatakan jika demam tinggi menjadi awal ayahnya dinyatakan terpapar virus corona.
Demam tinggi tersebut dialami saat Sutena akan mengikuti rapat bersama Gubernur Bali, Wayan Koster di Rumah Jabatan Gubernur Bali, Jaya Sabha di Denpasar.
Seperti protap tamu-tamu yang lain yang akan bertemu gubernur, Sutena harus menjalani rapid antigen sebelum mengikuti rapat.
Namun ternyata, hasil rapid Sutena dinyatakan reaktif. Selanjutnya dari hasil (rapid test antigen) itu, petugas menyarankan agar Sutena menjalani karantina mandiri.
“Batal rapat waktu itu. Karantina mandiri dulu 5 hari. Dalam 5 hari itu kok terus tidak turun-turun panasnya. Akhirnya saya beranikan diri untuk membawa bapak (Mendiang Sutena) ke Labkes (Laboratorium Kesehatan) karena rujukannya ke sana,” terangnya.
Ternyata hasil swab Sutena positif. Sehingga oleh Pande, Sutena dilarikan ke RS Bali Mandara. Dan pada Rabu (24/3), Sutena mulai menjalani perawatan khusus di ruang isolasi RS Bali Mandara.
Menurut Pande, saat menjalani perawatan isolasi, ayahnya (Sutena) sebenarnya sudah dijadwalkan akan menjalani vaksinasi Covid-19 tahap kedua, pada Senin (29/3). Vaksinasi kedua itu dijadwalkan, karena sebelumnya, Mendiang Sutena diakui Pande telah menjalani vaksinasi Covid-19 pertama, pada Sabtu (6/3).
“Sebenarnya bapak tidak mengalami batuk. Hanya panas tidak kunjung turun. Mulai batuk dan sesak saat dirawat di rumah sakit. Kalau penyakit penyertanya (riwayat bawaan) bapak itu jantung dan hipertensi,” ujarnya.
Adapun saat ini jenazah Sutena masih dititipkan di RSUP Sanglah Denpasar.
Rencananya, jenazah Sutena akan dikremasi di krematorium Punduk Dawa, Kecamatan Dawan, Senin (5/4).
Dalam prosesi itu, menurutnya pihak keluarga diminta untuk menggunakan alat pelindung diri (APD) lengkap.
“Ada 15 orang anggota keluarga yang sudah saya ajukan nama-namanya untuk menggunakan APD. Sebenarnya kami sudah karantina mandiri selama 16 hari dimulai sejak bapak dinyatakan reaktif. Dan kami saat ini dalam kondisi sehat. Tapi kalau dihitung sejak bapak dirawat di rumah sakit, belum sampai 14 hari,” tandasnya.
Sementara itu, Perbekel Tegak, Ketut Sujana saat dikonfirmasi terpisah mengungkapkan, sebelum meninggal dunia, Sutena mulai menjalani perawatan di RS Bali Mandara akibat terpapar Covid-19 sejak 24 Maret 2021 lalu.
“Pak Sutena dirawat karena bergejala,” ungkapnya.
Lantaran Sutena dinyatakan terkonfirmasi positif Covid-19, keluarga Sutena yang tinggal di Desa Tegak pun menjalani isolasi mandiri di rumah.
Sampai saat ini menurutnya belum ada laporan bahwa keluarga Sutena yang menjalani isolasi mandiri itu terkonfirmasi Covid-19.
“Ada tiga orang keluarga Pak Sutena yang menjalani isolasi mandiri di Desa Tegak. Yakni istri kedua, satu orang anak dan menantu Pak Sutena. Istri pertama Pak Sutena tinggal terpisah. Tidak tinggal di Desa Tegak,” bebernya.
Selama menjalani perawatan, Sujana mengaku sempat berkomunikasi dengan Sutena melalui telepon video atau video call.
Dalam komunikasi itu, dilihatnya Sutena dalam kondisi baik meski sempat batuk saat berbicara.
“Tetapi kemarin saya mendapat informasi dari warga kondisi Pak Sutena drop dan dirawat di RS Sanglah. Saya mendapat telepon kalau Pak Sutena sudah meninggal dunia pukul 22.00,” ujarnya.
Berdasarkan informasi pihak keluarga, menurutnya jenazah mantan ketua DPRD Klungkung itu rencana akan dikremasi Senin (5/4).
Pihak keluarga Sutena yang saat ini menjalani karantina pasalnya akan diperkenankan untuk hadir dalam proses tersebut. “Tentunya dengan protokol kesehatan yang ketat,” tandasnya.
Untuk diketahui I Wayan Sutena merupakan politisi PDIP Klungkung yang sempat menduduki kursi ketua DPRD Klungkung.
Selain itu, mendiang yang saat ini masih menjabat sebagai wakil ketua Bidang Organisasi DPD PDIP Bali masa bhakti 2019-2024, ini juga sempat menduduki kursi sebagai anggota DPRD Bali periode 2014-2019 sebagai PAW Ketut Mandia yang pada saat itu maju bertarung sebagai wakil Bupati dalam Pilkada Klungkung.
Editor : Didik Dwi Pratono