Bali Bali United Berita Daerah Cover Story Dwipa Ekonomi Ekonomi & Perbankan Events Features Foto Lepas Gaya Hidup Hiburan & Budaya Hiburan & Seni Budaya Hospitality Hukum & Kriminal Inforial Internasional Kesehatan Nasional Opini Otomotif Pariwisata Pendidikan Perbankan Peristiwa Politika Sportainment Sportmania Tamu Redaksi Teknologi Traveling

PPKM Diperpanjang, Pengelola Wisata Ulun Danu Tak Mampu Gaji Pegawai

Didik Dwi Pratono • Rabu, 4 Agustus 2021 | 10:15 WIB
ppkm-diperpanjang-pengelola-wisata-ulun-danu-tak-mampu-gaji-pegawai
ppkm-diperpanjang-pengelola-wisata-ulun-danu-tak-mampu-gaji-pegawai

TABANAN–Keputusan pemerintah untuk kembali memperpanjangan PPKM Level 4 di Pulau Jawa dan Bali hingga 9 Agustus mendatang kembali berdampak.


Salah satunya seperti yang dialami DTW Ulun Danu Beratan, Tabanan.


Akibat perpanjangan salah satu objek wisata yang menjadi ikon unggulan di Tabanan, Bali ini tak lagi mampu menggaji karyawan.


“Mau gimana lagi kalau sudah kondisi seperti ini dengan perpanjangan PPKM Level 4. Ya kami ikut tutup,” kata Manager DTW Ulun Danu Beratan I Wayan Mustika saat dikonfirmasi, kemarin (3/7).


Lebih lanjut, kata Mustika, sebagai pelaku pariwisata sudah tak bisa berharap banyak dari Pariwisata yang kini dilakukan penutupan.


Mustika mengaku meski dilakukan penutupan pada DTW Ulun Danu Beratan, namun biaya pemeliharaan DTW tetap jalan.


 “Kalau dikatakan terdampak pasti semua terdampak. Bahkan untuk sekedar mengaji karyawan saat ini kami sudah tak sanggup. Pekerja DTW yang melakukan memelihara taman dan fasilitas lainnya sementara mereka terpaksa harus ngayah dulu,” keluhnya.


Mustika menyebut akibat dampak perpanjangan pihaknya merugi puluhan juta rupiah. Sebelum PPKM rata-rata 200 sampai 300 pengunjung DTW perhari.


“Harga tiket Rp 20.000 yang tinggal dikalikan 30 hari plus jumlah kunjungan segitu kami merugi,” ucapnya.


Mustika berharap pemerintah segera memperhatikan kondisi ini.


Sektor pariwisata khusus DTW sejatinya dapat berjalan. Toh di DTW protokol kesehatan secara ketat sudah diterapkan, apalagi ada sertifikat CHSE. Dan sangat tidak mungkin terjadi penumpukan pariwisata.


“Kami kapastitas DTW 6 ribu orang sedangkan pengunjung 300 orang. Jadi sangat tidak mungkin ada penumpukan. Lebih lagi wisatawan akan terus dipantuan petugas,” ungkapnya.


Hal yang sama juga diungkapkan oleh pengelola DTW Tanah Lot Desa Beraban, Kediri. 


Humas dan Marketing DTW Tanah Lot Kadek Suarniti juga pihaknya tidak dapat berbuat banyak.


“Kita sulit menebak apakah akan tutup selamanya atau kembali dibuka. Lagi-lagi itu kebijakan pemerintah pusat dan daerah. Jadi kita tetap ikuti aturan sesuai perpanjangan dengan melakukan penutupan objek wisata,” ungkapnya.  


Selama ini sejak penutupan DTW Tanah Lot 3 Juli lalu sampai Agustus ini. Pihaknya selaku pengelola DTW terberat pengeluaran pada sisi biaya perawatan DTW.


Beban biaya yang rutin keluar adalah biaya listrik dan air dan pembersihan kawasan dan biaya taman.


Beban biaya ini selama penutupan diambil dari sisa hasil pendapatan dari kunjungan DTW sebelum PPKM.


“Tapi mau sampai kapan lagi mampu bertahan, karena satu sisi kita terbebani dengan biaya operasional pemeliharaan dan karyawan,” ujarnya.


Menyiasati kondisi saat ini dengan perpanjangan untuk menghemat pengeluaran.


Pihaknya selaku pengelola melakukan perawatan DTW yang sifatnya ungent-urgent. Kemudian untuk karyawan dipekerjakan selama sebulan hanya 12 hari saja dengan model kerja bergantian.


“Kami berharap pemerintah memperhatikan kondisi ini,” ucapnya.


Disinggung berapa kerugian DTW Tanah Lot selama perpanjangan PPKM. Kadek Suarniti mengaku pihaknya belum mengkalkusasi secara pasti besaran kerugian. Tetapi yang jelas sebelum PPKM rata-rata tingkat kunjungan 1.000 orang perhari dengan harga tiket Rp 20.000.


“Maka sebesar itu kami merugi selama perpanjangan PPKM,” tukasnya. 

Editor : Didik Dwi Pratono
#ppkm #dtw ulun danu