SINGARAJA – Bentrokan antara personel TNI dengan warga di Desa Sidatapa, Kecamatan Banjar, Buleleng, Bali berakhir damai. Kedua belah pihak telah melakukan perdamaian.
Kesepakatan damai itu dilakukan di Wantilan Pura Desa Adat Sidatapa, Selasa (24/8) sore. Mediasi itu juga disaksikan warga yang memadati pelataran pura desa.
Namun, kesepakatan damai ini harus ditindaklanjuti melalui beberapa hal. Ada sejumlah permintaan warga terkait bentrok yang dipicu oleh kegiatan tes antigen yang belakangan gencar dilakukan di Buleleng.
Hal itu diungkap Kapolres Buleleng AKBP Andrian Pramudianto. Sebagaii mediator dalam perdamaian itu, dia menyatakan bahwa pihak TNI maupun warga sudah sepakat berdamai.
“Kedua belah pihak juga sudah sepakat berdamai,” kata Andrian.
Dengan begitu, kata Andrian, perselisihan antara kedua pihak yang terjadi telah dianggap selesai. Soal laporan polisi yang dilakukan Dandim Buleleng Windra Lisrianto malam usai kejadian, akan dicabut setelah kedua belah pihak sepakat menandatangani perdamaian.
“Sudah sepakat mengakhiri selisih paham dan tidak mengulangi perbuatan. Kami kedepankan restorative justice dalam masalah ini,” jelas Andrian.
Tidak cukup sampai di sana, Andrian juga menyatakan bahwa pihak kepolisian akan memfasilitasi pengobatan para pihak yang terluka dalam bentrokan tersebut. Kata dia, kepolisian memiliki sumber daya medis yang bisa untuk melakukan pengobatan mereka yang terluka.
Selain itu kepolisian dan pemerintah daerah juga akan memperbaiki kerusakan material yang terjadi. Di antaranya kerusakan pada bagian rolling door toko tempat terjadinya bentrokan tersebut. Diketahui, di depan toko itu memang terjadi pengeroyokan sejumlah anggota TNI terhadap warga.
Andriann juga menyebutkan, ada beberapa permintaan warga seputar swab antigen yang belakangan marak dilakukan Satgas Covid-19 Buleleng. Di antaranya tidak memaksa warga melakukan swab antigen.
“Mereka juga minta kalau ada sosialisasi tentang covid, agar dilakukan secara lebih masif dan persuasive. Agar saat ada swab antigen, tidak dilakukan secara mendadak dan tidak ada upaya paksa,” tegas Andrian.
Seperti yang diberitakan sebelumnya, TNI dan warga Desa Sidatapa sempat terlibat bentrokan. Versi TNI, keributan bermula saat dilakukan swab massal.
Singkat cerita sempat terjadi selisih paham antara warga dengan personel TNI yang melakukan swab masal. Belakangan seorang pemuda diduga memukul Dandim 1609/Buleleng Letkol Inf Windra Lisrianto. Aksi itu memicu reaksi para prajurit dan secara membabibuta menganiaya sejumlah warga.
Versi warga, dua pemuda bermotor datang dari kebun, kemudian dicegat anggota TNI yang ikut dalam tes antigen secara acak. Karena tak pakai masker, pemuda ini ditarik dari motor namun berupaya kabur. Mereka akhirnya berhasil dihentikan dan diseret kemudian dipukuli anggota TNI.
Editor : Yoyo Raharyo