NEGARA – Seorang warga Kecamatan Jembrana, Kabupaten Jembrana, Bali berinisial AN, terjebak pinjaman online. Dari pinjamannya hanya Rp500 ribu, dalam waktu enam bulan sudah membengkak menjadi Rp70 juta.
Informasi yang dihimpun radarbali.id, peristiwa ini berawal ketika AN ikut arisan online pada Desember 2020 lalu. Arisan ini melalui grup WhatsApp.
Dijelaskan, peserta arisan tidak ditentukan nominal yang disetorkan, tetapi bagi peserta yang menyetorkan uang lebih banyak bisa mendapat uang lebih awal dari uang arisan yang terkumpul setiap dua minggu sekali.
Setelah sekitar dua bulan, atau sekitar Februari, mengikuti arisan, AN tidak bisa membayar uang arisan rutin.
Akhirnya, dari arisan online melalui grup whatsapp tersebut, AN meminjam uang sebesar Rp500 ribu untuk menutupi setoran pembayaran arisan. Istilah dalam grup arisan tersebut dan pinjaman untuk peserta, namun dengan bunga yang tinggi.
AN yang meminjam sebesar Rp500 ribu harus membayar pinjaman dan bunga sebesar Rp850 ribu dalam jangka waktu 7 hari.
Karena tidak bisa membayar pokok pinjaman dan bunga, akhirnya meminjam lagi pada orang lain yang masih dalam satu grup. Seperti gali lubang tutup lubang.
"Utang pertama sudah dibayar, tapi pinjaman untuk menutupi utang belum terbayar," ungkap AN.
Karena bunga utang semakin banyak, AN terjebak dalam lingkaran pinjaman online dalam grup tersebut. Bahkan, pemilik uang yang meminjamkan memberikan denda tinggi jika tidak membayar waktu sesuai yang ditentukan.
"Sehari kalau terlambat bayar dari jam yang ditentukan, denda Rp100 ribu. Berapapun pinjamannya,” terangnya.
Karena utang semakin banyak, dari pinjaman uang sebesar Rp500 ribu, hingga bulan Agustus 2021 atau sekitar 6 bulan terhitung dari Februari, utangnya membengkak menjadi Rp 70 juta.
Karena belum bisa membayar, bunga terus membengkak dan korban yang bekerja sebagai buruh ini semakin terjebak pusaran utang.
KM, 40, ayah dari AN, sempat didatangi orang-orang yang mengaku sebagai pemodal dari uang yang dipinjam anaknya. Pemodal meminta AN membayar uang pinjaman.
"Mau bayar utang sebanyak itu nggak bisa. Buat makan saja susah, saya juga sakit-sakitan," ungkapnya.
Editor : Yoyo Raharyo