DENPASAR - Pihak Desa Adat Kuta, Badung menutup sebanyak 17 pintu sebagai akses masuk ke dalam kawasan Pantai Kuta. Belasan pintu itu ditutup permanen menggunakan batako. Seperti yang terlihat pada Senin (4/10/2021) tampaknya beberapa pintu ditutup secara permanen oleh petugas desa.
Hal itu sempat menimbulkan protes dari beberapa pedagang yang lapak dagangannya berada tepat di pintu masuk yang ditutup.
Menjawab hal itu, Bendesa Adat Kuta I Wayan Wasista, dikonfirmasi media ini menjelaskan, penutupan sejumlah pintu masuk kawasan pantai Kuta itu tidak berniat mematikan aktifitas jualan para pedagang.
"Sebelum menutup itu saya sudah sosialisasi melalui klian-klian . Kalau tidak dilakukan seperti itu, saya dilema. Kalau saya tutup dia (dagangan) merasa dagangannya sepi. Tapi sebenarnya tidak. Karena antara pintu satu dengan yang lain yang tidak ditutup itu gak jauh. Jaraknya antara pintu satu dengan yang lain yang tidak ditutup 100 meter," katanya Senin (4/10/2021).
Dijelaskannya penutupan sejumlah pintu itu sejatinya dilakukan untuk memudahkan pengawasan terkait penerapan aplikasi PeduliLindungi yang diberlakukan di sejumlah pintu masuk. Sehingga saat ini scan barcode untuk warga yang berkunjung bisa dilakukan di 11 pintu lain yang masih dibuka.
"Karena terlalu banyak pintu juga kan susah pengawasan. Ganjil genap tidak efektif. Di pantai Kuta kan sudah ada aplikasi PeduliLindungi. Sehingga dengan ditutupnya sejumlah pintu itu pengecekan menggunakan barcode itu mudah dikontrol. Karena jumlah kunjungan per harinya di pantai Kuta sesuai aplikasi itu hanya 8.000 orang per hari," bebernya
Apalagi, kata dia, pantai Kuta selalu diawasi oleh pemerintah dalam penerapan protokol kesehatan covid-19. Di mana pengunjung tidak boleh terlalu membludak dan wajib menerapkan protokol kesehatan.
"Pengunjung wajib selalu menerapkan 3M. Mencuci tangan, memakai masker dan selalu menjaga jarak. Dan jangan lupa scan barcode sebelum masuk ke kawasan pantai," ujarnya.
Ditegaskannya bahwa pihaknya tidak pernah punya niat mematikan usaha para pedagang si Pantai Kuta.
"Karena Pantai Kuta ini selalu diawasai pemerintah. Satu-satunya jalan saya harus berani menutup pintu-pintu itu. Ini demi kepentingan bersama. Saya tidak mematikan usaha di pantai itu," tandasnya.
Editor : Yoyo Raharyo