Bali Bali United Berita Daerah Cover Story Dwipa Ekonomi Ekonomi & Perbankan Events Features Foto Lepas Gaya Hidup Hiburan & Budaya Hiburan & Seni Budaya Hospitality Hukum & Kriminal Inforial Internasional Kesehatan Nasional Opini Otomotif Pariwisata Pendidikan Perbankan Peristiwa Politika Sportainment Sportmania Tamu Redaksi Teknologi Traveling

Seret Gubernur, MGPSSR Hingga “Dulang Mangap’’, PHDI Tuding Tendensius

Didik Dwi Pratono • Rabu, 6 Oktober 2021 | 02:45 WIB
seret-gubernur-mgpssr-hingga-dulang-mangap-phdi-tuding-tendensius
seret-gubernur-mgpssr-hingga-dulang-mangap-phdi-tuding-tendensius

DENPASAR-Warga dumay (dunia maya) kembali dibuat heboh dengan munculnya unggahan status di media sosial facebook (FB)


 


Ramainya status yang diunggah di akun media social FB milik @Gayatri Mantra ini karena selain membawa nama soroh (garis keturunan/dinasti), di status juga menyeret nama sejumlah tokoh dan pejabat penting di Bali.


 


Sejumlah tokoh itu yakni selain Gubernur Bali Wayan Koster, di unggahan status itu juga membawa nama tokoh yang juga Ketua Maha Gotra Pasek Sanak Sapta Rsi (MGPSSR) Prof I Wayan Wita dan Bupati Badung Nyoman Giri Prasta.


 


Adapun isi atau unggahan status yang membuat polemik dan setelah viral langsung dihapus itu, yakni sebagai berikut:


 


 “GUBERNUR BALI DIFITNAH KATANYA MENGGERAKKAN SOROH. PEDALEM GUBERNUR YANG KERJA BELA MASYARAKAT HINDU BALI MELAWAN PERUSUH DAERAH.


 


PADAHAL POLITISI ANE MEMAINKAN SOROH DANGAP DANGAP SUDAH POPULER DI MASYARAKAT. KEMARIN KALO GA SALAH ADA JUGA PROF. WITA YANG MENGINISIASI PERTAMA KALI PENGERAHAN SOROH TRUS CARI DUKUNGAN KE BUPATI BADUNG,


 


KOK GUBERNUR YANG SATYA DENGAN KINERJA NANGUN KERTIH LOKA BALI DITUDING MACAM MACAM YA? ….”tulis pemilik akun @Gayatri Mantra


 


Kontan atas unggahan status yang kontroversial dan memicu polemik itu langsung viral dan  menuai banyak komentar.


 


Salah satunya, komentar datang dari tokoh muda yang juga Sekretaris Parisadha Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Kota Denpasar Made Arka, S.Pd, M.Pd.



 


Arka menilai, tulisan status yang diunggap dan di-upload pemilik akun @Gayatri Mantra, ini menurutnya sangat tendensius.


 


Tendensius karena selain seolah-olah ada yang menuduh Gubernur Bali Wayan Koster menggerakkan ‘’soroh’’, dalam pesan tulisan itu juga terkesan menuding Ketua MGPSSR Prof I Wayan Wita sebagai 'aktor intelektual' di balik memanasnya isu soroh.


 


‘’Status seperti itu nyata-nyata membenturkan gubernur dengan ormas Hindu yang dipimpin Prof Wita serta Jagabaya Dulang Mangap kalau ditafsir itulah yang dimaksud Gayatri Dangap Dangap,’’ kata Made Arka menanggapi status akun @Gayatri Mantra di facebook.


 


Sebaliknya, dengan munculnya unggahan status itu, Arka mempertanyakan terkait isi atau maksud unggahan.


 


“Siapa orang yang menuduh gubernur menggerakkan soroh? Tunjuk langsung . Jangan sembarangan membawa-bawa nama gubernur, nama Prof Wita yang ketua MGPSSR dan Jagabaya Dulang Mangap dalam narasi saudara dan secara halus mempertentangkannya. Status saudara bisa menjadi insinuatif, dan provokatif kalau mindset-nya seperti saudara,” tandas Arka.


 


 


Arka menegaskan sikap organisasi Pesemetonan MGPSSR dan Jagabaya Dulang Mangap searah dengan AD/ART PHDI Mahasabha 2016.


 


“Sama sekali dalam tidak ada menggerakkan soroh, tetapi mereka hadir sebagai organisasi ini bernafaskan Hindu yang diayomi oleh PHDI,”tegasnya.


 


 


Selain itu, imbuh Arka, keberadaan MGPSSR, Dulang Mangap, dan belasan organisasi bernafas Hindu lainnya, adalah organisasi bernafaskan Hindu, visi dan misinya berkaitan dengan penguatan umat Hindu. Jadi sejalan dengan PHDI.


 


 


Pesemetonan termasuk MGPSSR, kata dia juga selalu bergandengan mencari solusi untuk pelayanan umat Hindu.


 


Salah satu contohnya, lanjut Arka, yakni ketika Semeton Pasek bersengketa soal yang dimulai ketika Ida Mpu Pasek dilarang ‘’mepuja ring bale pawedan’’ di Pura Dasar Bhuwana Gelgel, Klungkung. 


 “Dan akhirnya semeton Pasek membangun Pura Mundukdawa,  Komunikasi Semeton Pasek dengan PHDI sangat intens. Jadi keberadaan dan jalinan kerjasama PHDI dengan pesemetonan Hindu seperti Semeton Pasek bukan dalam mindset soroh dan memainkan soroh," imbuh Arka.


 


 


Begitu juga, kumpulnya pesemetonan di PHDI, kata Arka, tampak dari pengurus di Sabha Pandita, Sabha Walaka dan Pengurus Harian yang berasal dari lintas Semeton Hindu, dan bersama-sama bahu membahu membangun Hindu dalam semangat persaudaraan.


 


 


Di pesemetonan, mereka meningkatkan sradha Hindu secara intern, tetapi begitu duduk di PHDI, perspektif dan mindset-nya adalah kepentingan umat Hindu keseluruhan.


 


 


“Bagi yang apriori pada klarifikasi kami dan terus menerus melontarkan narasi negatif dan mendukung MLB (Mahasabha Luar Biasa), abaikan saja klarifikasi kami.  Kalau percaya Gayatri Mantra silakan. 


 


 


Tapi, kami berkewajiban menyampaikan narasi dengan mindset positif, dan membeber jejak keberadaan Pesemetonan termasuk MGPSSR dan Prof Wita bukan tipe sektarian yang memperalat Semeton Pasek. Dua tahun narasi kebencian bertebaran, kami hanya klarifikasi dan tidak ikut tebar kebencian dan provokasi Gayatri Mantra Tendensius dan adu domba,’’ katanya.


 


Terakhir, Arka juga kembali mengingatkan dan mengimbau untuk menyudahi melakukan tindak provokasi maupun upaya adu domba dengan membenturkan nama tokoh Hindu, pejabat maupun tokoh penting lain untuk kepentingan tertentu


 


“Sekali lagi, janganlah coba menyeret gubernur Bali untuk dipertentangkan dengan tokoh-tokoh Hindu seperti Prof. Wita dan MGPSSR, dengan Jagabaya Dulang Mangap, apalagi terkesan melecehkan dengan menyebut ‘’Dangap-dangap’’. Pernyataan seperti itu bisa menjadi penghinaan dan bisa dipidanakan,’’ tukas Arka.

Editor : Didik Dwi Pratono
#mgpssr #phdi #gubernur koster #bupati badung