SEMARAPURA – Tujuh belas petani garam Desa Kusamba yang tergabung dalam Kelompok Sarining Segara dapat menghasilkan sebanyak 4 ton garam Kusamba per bulannya. Hanya saja saat ini baru sekitar 1 ton garam yang bisa diserap koperasi untuk diproduksi sebagai gram beryodium Kusamba dan dipasarkan di pasar-pasar modern.
Sementara tiga ton garam Kusamba lainnya menurut Ketua Kelompok Sarining Segara, Mangku Wayan Rena saat ditemui di Pantai Kusamba, Rabu (3/11) dipasarkan secara mandiri. Ada yang dibeli oleh orang pribadi dan ada pula yang dibeli oleh tengkulak.
“Kalau saya ada pelanggan dari Surabaya. Per kilogram dibeli dengan harga Rp 25 ribu untuk garam Kusamba palung dan Rp 20 ribu per kilogram untuk garam Kusamba geo membran,” ujar Rena saat kunjungan Gubernur Bali Wayan Koster dan Bupati Klungkung I Nyoman Suwirta.
Tidak hanya dibeli orang pribadi, garam dari para petani garam di Kusamba juga kerap dibeli tengkulak. Yang mana harganya berkisar Rp 12 ribu per rontong atau ember.
Meski demikian, para tengkulak itu membeli jumlah garam dalam jumlah yang tidak banyak. Hanya berkisar 10 rontong per sekali beli. Di mana garam itu nantinya digunakan untuk mencampur garam asal luar Bali yang harganya lebih murah.
“Nantinya itu dijual di pasaran yang diklaim sebagai garam Kusamba,” bebernya.
Dari segi warna dan tekstur, menurutnya antara garam Kusamba dan oplosan cukup sulit dibedakan. Namun hal itu akan kentara bila garam dirasakan.
“Kalau garam oplosan, rasanya pahit. Karena kalau dari awalnya garam rasanya pahit, maka rasanya akan terus pahit,” jelasnya.
Tidak hanya sebagai pengoplos, menurutnya para tengkulak itu juga kerap mempermainkan harga garam Kusamba. Ketika para petani berhasil memproduksi garam dengan jumlah banyak, tengkulak-tengkulak itu akan memberi harga murah untuk garam para petani di Kusamba.
“Sehingga saya stok garamnya untuk dijual ketika harga garam Kusamba kembali bagus. Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, saya mengutang dulu. Seperti saat ini, saya meminjam KUR (kredit usaha rakyat) di bank,” ungkapnya.
Editor : Yoyo Raharyo