DENPASAR– Untuk kali kesekian, fenomena hujan es terjadi di kawasan Kintamani, Bangli Jumat (24/12).
Video hujan es ini pun beredar di media sosial. Namun ini adalah fenomena cuaca alamiah yang biasa terjadi karena adanya awan Cumulonimbus (CB).
Dwi Hartanto selaku Koordinator Bidang Data dan Informasi, BBMKG Wilayah III Denpasar tak menampik terjadinya hujan es.
Namun hujan es adalah fenomena cuaca alamiah yang biasa terjadi dan termasuk dalam kejadian cuaca ekstrim.
Hujan es terjadi karena adanya awan Cumulonimbus (CB). “Pada awan ini terdapat tiga macam partikel (yaitu) butir air, butir air super dingin, dan partikel es, ” terangnya, Sabtu (25/12).
Lebih lanjut, terjadi hujan lebat yang masih berupa partikel padat baik es dapat terjadi tergantung dari pembentukan dan pertumbuhan awan Cumulonimbus (CB) tersebut.
“Hal ini juga disebabkan karena aliran udara ke bawah dari awan CB cukup tinggi, ” bebernya.
Dikonfirmasi terpisah, Luh Eka Arisanti selaku Prakirawan BBMKG Wilayah III Denpasar menambahkan fenomena hujan es atau hasil merupakan fenomena cuaca alamiah yang biasa terjadi.
Hujan es merupakan suatu fenomena yang disebabkan oleh adanya awan cumulonimbus.
Pada awan ini terdapat tiga macam partikel yaitu butir air, butir air super dingin, dan partikel es. Sehingga, hujan lebat yang masih berupa partikel padat baik es atau hasil dapat terjadi tergantung dari pembentukan dan pertumbuhan awan Cumulonimbus (CB) tersebut.
“Hujan es bersifat sangat lokal dan sering terjadi pada siang - sore hari. Waktu terjadinya singkat sekitar kurang dari 10 menit.
Hujan es bisa terjadi di mana saja selama ada potensi pertumbuhan awan Cumulonimbus. Namun kemungkinan kecil untuk terjadi kembali di tempat yang sama dalam waktu yang singkat, ” jelasnya.
Imbuhnya, hujan es bisa saja berbahaya tergantung dari ukuran hujan esnya.
Selain itu hujan es ini merupakan tanda adanya awan Cumulonimbus yang memiliki potensi menyebabkan fenomena cuaca ekstrem lainnya seperti hujan lebat, kilat/petir, dan angin kencang.
Untuk himbauan terkait wilayah Bali yang sedang memasuki musim hujan yakni masyarakat dihimbau agar tetap waspada dan berhati-hati terhadap dampak bencana yang dapat ditimbulkan dari cuaca ekstrem seperti banjir, genangan air, tanah longsor, angin kencang, pohon tumbang dan kilat/petir.
Masyarakat umum, Nelayan dan Pelaku Kegiatan Wisata Bahari mewaspadai tinggi gelombang laut yang dapat mencapai 2 meter atau lebih di sekitar perairan selatan Bali.
“ Agar selalu memperhatikan Informasi BMKG khususnya peringatan dini cuaca / iklim ekstrim, ” pungkasnya.
Editor : Didik Dwi Pratono