SINGARAJA– Perusahaan minuman beralkohol didorong mampu menyerap arak Bali produksi perajin arak lokal.
Khususnya para perajin arak yang berada di Kabupaten Buleleng. Hingga kini serapan arak Bali dinilai masih belum optimal, sehingga belum memberi dampak signifikan bagi petani arak.
Anggota Komisi III DPRD Buleleng, Wayan Soma Adnyana mengungkapkan, sejak pandemi menghantam, pengusaha arak Bali lesu darah.
Sebab arak yang diproduksi tak seluruhnya berhasil terserap. Kolapsnya industri hotel dan restoran, turut memengaruhi serapan produksi arak dari perajin lokal.
“Dalam kondisi seperti ini, tidak banyak yang menyerap produksi mereka. Kalau dulu waktu masih ada pariwisata, bisa diserap ke bar dan restoran. Sekarang karena pariwisata lesu, akhirnya tidak bisa masuk ke sana,” kata Soma saat ditemui di Kelurahan Banyuning, Jumat (18/2).
Iapun mendorong para pelaku industri minuman beralkohol menyerap produksi perajin arak.
Apalagi saat ini ada beberapa perusahaan minuman beralkohol yang berproduksi di Buleleng. Upaya itu diharapkan dapat memberi daya dorong ekonomi. Terutama bagi para petani arak.
Di sisi lain, Co Founder PT. Ace Wija Internasional, Jeffry Anthony mengatakan pihaknya kini tengah melakukan kajian untuk menyerap arak yang diproduksi perajin arak.
Rencananya, arak-arak itu akan diserap untuk produksi minuman beralkohol di pabrik distilasi yang berada di Kelurahan Banyuning.
Pemilik usaha mikol Wija Soju itu menyatakan dirinya tengah melakukan tahap kajian dan pengembangan. Proses itu diperkirakan memakan waktu hingga 8 bulan mendatang.
“Kami memang punya rencana menyerap produksi petani arak. Saat ini kami belum bisa menyerap secara massal.
Karena kami masih melakukan proses research and development. Untuk menyesuaikan kadar alkohol, rasa, maupun karakteristik minuman beralkohol yang akan ditentukan. Kemungkinan akhir tahun ini riset itu baru tuntas,” kata Jeffry saat ditemui kemarin.
Meski begitu, ia optimistis perusahaannya dapat menyerap hasil perajin arak Bali. Mengingat segmen pasar minuman beralkohol di Bali akan semakin tumbuh. Seiring dengan pulihnya ekonomi Bali yang bertumpu pada sektor pariwisata.
Editor : Didik Dwi Pratono