Bali Bali United Berita Daerah Cover Story Dwipa Ekonomi Ekonomi & Perbankan Events Features Foto Lepas Gaya Hidup Hiburan & Budaya Hiburan & Seni Budaya Hospitality Hukum & Kriminal Inforial Internasional Kesehatan Nasional Opini Otomotif Pariwisata Pendidikan Perbankan Peristiwa Politika Sportainment Sportmania Tamu Redaksi Teknologi Traveling

I Ketut Gede Jiwa Artana,10 Tahun Menangkar Jalak Bali dengan Sepenuh Hati

Hari Puspita • Sabtu, 19 November 2022 | 21:05 WIB
TEKUN: I Ketut Gede Jiwa Artana dengan jalak bali di penangkaran miliknya.
TEKUN: I Ketut Gede Jiwa Artana dengan jalak bali di penangkaran miliknya.
Tak terasa, sudah 10 tahun I Ketut Gede Jiwa melakoni dunia konservasi burung ikon Pulau Dewata ini. Dari awalnya ditangkarkan ke rumah-rumah warga di Banjar Bongan Kauh Kelod, Desa Bongan, Tabanan, kini sudah memiliki kandang sendiri, bahkan mengembangkan kelompok peternak curik nan khas ini.

CUACA cerah sangat bersahabat ketika mengunjungi lokasi penangkaran bernama Kicau Bali di Banjar Bongan Kauh Kelod, Desa Bongan, Tabanan. Penangkaran burung jalak bali milik I Ketut Gede Jiwa Artana sudah tidak seperti yang dulu, begitu banyak perubahan.

Mulai dari populasi burung jalak bali yang meningkat, lokasi penangkaran kini luasnya bertambah, hingga lokasi penangkaran terdapat pembuatan sangkar untuk Jalak Bali.

Disisi lain I Ketut Gede Jiwa Artana tampak duduk di depan di teras rumahnya. Ketika bertemu dengan Jawa Pos Radar Bali.  I Ketut Gede Jiwa Artana memang sudah 10 tahun lebih melakukan upaya konservasi terhadap burung Jalak Bali. Konservasi yang dilakukan ternyata berhasil, burung Jalak Bali yang dulunya mengalami kepunahan jumlah populasinya meningkat.

“Saking banyak konservasi populasi pun meningkat, tapi sayang diikuti dengan harga burung jalak bali, harganya sekarang turun,” kata pria berusia 48 tahun ini ditemui belum lama ini.

Mulai turun harga Jalak Bali sejak harga bahan bakar minyak (BBM) naik. Ini sangat berpengaruh sekali. “Pelihara burung kan nomor sekian, pertama itu kebutuhan hidup harus dibeli,” ujarnya.

Dari sisi harga, burung jalak bali saat ini per ekornya Rp 1,5-2,5 juta. Sepasangnya Rp 5-7 juta untuk jalak bali dewasa, sudah plus izinnya.

Padahal, dulu harga burung Jalak Bali tembus Rp 10 juta untuk anakan dan dewasa Rp 15 juta. Itu sekitar tahun 2015 saat langka-langka burung bernama latin Leocopsar roshchildi ini.

I Ketut Gede Jiwa Artana mengaku selama 10 tahun bergelut di konservasi Jalak Bali, pasang surut pastinya ada. Hingga dirinya mampu bertahan sampai saat ini.

Dia menyebut, sebelumnya usaha konservasi miliknya dirinya dari awal meminjam areal lingkungan tetangga. Meski terbilang berhasil pemanfaatan lahan warga dan warga ikut pula konservasi. Kemudian ada pendapatan  yang masuk ke warga, namun tidak berlangsung lama.

Agar terkelola dengan baik dan maksimal, dirinya pun membuat sebuah kelompok usaha konservasi jalak bali. Yang sekarang ini sudah berjumlah 20 kelompok tersebar di Tabanan.

“Selain itu saya juga terus mengembangkan burung jalak bali di areal penangkaran miliknya yang kini luasnya sekitar 2 are,” ungkapnya.

Disamping itu pula resep untuk bertahan dalam konservasi satwa Bali yang dilindungi ini adalah. Merambah dunia usaha, mulai dari kios burung, pembuatan sangkar burung dan penjualan pakan hingga bibit.

“Sehingga kami tidak mengandalkan dari sisi penjualan burung Jalak Bali untuk bertahan di konservasi, melainkan pula terjadi putaran uang di sisi lain,” ujarnya.

Yang menarik lagi dirinya mampu bertahan saat ini adalah terus inovasi diri, tidak mentok. “Jadi konservasi tidak sebatas hobi, tapi burung juga butuh dicintai,” jelasnya.

Misalnya burung itu juga perlu dijodohkan ulang kembali. Nah itu di kelompok dan lokasi konservasi lainnya tidak paham.

Kemudian kelompok atau penangkaran bila burung tidak mau berkembang biak, maka perlu recovery. Artinya burung jalak ditarik diganti dengan yang baru.“Ada sistem regulasi di sana mereka dapat bahan baru. Kemudian penjodohan burung salah satu cirinya jantan mekar jenggernya betina pasti menempel di leher,” terangnya.

Bahkan Jiwa Artana dirinya sudah pakam dengan kondisi burung yang sakit. Misalnya murung, bulu rontok, susah makan hingga burung terserang penyakit jamur.“Kalau kondisi demikian segera pindahkan burung, burung tersebut perlu perawatan khusus semacam karantina. Dengan memberikan vitamin,” ungkapnya.

Photo
Photo
HARUS DENGAN CINTA : Jalak bali tak selalu berjodoh. Kadang harus dicarikan pasangan lagi, mencarikan jodoh lagi untuk berketurunan. (foto-foto : juliadi)

Dituturkan, 10 tahun bergelut dengan jalak bali, kini setiap bulannya 20-30 menghasilkan anakan jalak bali. Dalam setahun rata 240-300 ekor Jalak Bali terproduksi.

Populasi burung jalak bali yang meningkat mencapai ratusan ekor setiap tahun. Secara otomatis beban pakan harus dikeluarkan begitu besar dan bertambah.

Untuk pakan dalam lima 5 hari satu sak konsentrat habis. Per saknya dengan harga Rp 50 ribu. Belum pakan kroto sebesar Rp 200 ribu. Air listrik untuk bersih sebulan Rp 1,5 juta. Ditambah lagi gaji karyawan 3 orang.“Sebulan kotornya sekitar sekitar Rp 10 juta untuk biaya pemeliharaan burung,” pungkasnya. (juliadi/radar bali) Editor : Hari Puspita
#jalak bali #Leocopsar rothchildi #curik bali #penangkaran jalak bali