KREASI itu membuat semarak. Hiasan pernak-pernik Natal mulai terpasang. Selain itu di lokasi Gereja tersebut ada sebuah pohon Natal yang unik. Pohon Natal itu terbuat dari limbah daun pisang kering.
Di sisi lain juga terlihat kalangan dari muda-mudi sedang membuat berbagai hiasan jelang Perayaan Natal.“Start hari dari Sabtu kemarin sudah bekerja membuat pohon Natal dan hiasan Natal lainnya,” ujar Marco Djie pemuda Gereja Katolik Santa Maria Immaculata, ditemui Selasa (20/12).
Marco menjelaskan ide membuat pohon natal berbahan klaras daun pisang kering, selain memang karena hemat biaya, juga bahan mudah didapat dilingkungan sekitar.
“Kalau tujuan awal ingin mengedukasi jemaat bahwa pohon natal tidak usah mewah-mewah. Bisa dibuat dari bahan-bahan yang ada di sekitar kita,” ungkap pria berusia 20 yang kini sebagai pengurus organisasi muda katolik Gereja Katolik Santa Maria Immaculata.
Marco juga menyebut pohon natal dari tahun ke tahun yang dibuat pemuda katolik di gereja memang terus berbeda.
Tahun 2018-2019 pohon natal yang pihaknya buat dari limbah plastik berbahan botol-botol minuman bekas. Begitu pula saat ini pohon natal dari klaras daun pisang.
Selama proses pembuatan pohon Natal dari daun pisang kering tidak ada kesulitan. Daun pisang-pisang kering ini diambil oleh muda-muda dari rumah mereka masing-masing. Ada pula yang mencari di kebun warga dengan meminta izin terlebih dulu kepada warga.
Pohon natal berbahan daun pisang kering ini belum rampung secara keseluruhan, karena akan dihiasi selanjutnya oleh lampion dan boneka salju. “Ini mungkin dua hari menjelang Natal baru tuntas pengerjaannya,” sebutnya.
Marco menambahkan mengingat bahan pohon natal dari daun pisang kering yang mudah terbakar. Saat malam hari lampu dari pohon natal ini tidak dihidupkan selama 24 jam full. Melainkan dinyalakan saat perayaan natal saja.
"Selain itu kami akan pasang garis no smoking area, mengantisipasi kebakaran," pungkasnya.
Sementara itu Ketua Panitia Natal Gereja Katolik Santa Maria Immaculata Yeremias mengaku pihaknya bakal menggelar dua kali ibadah Natal. Pertama saat misa malam Natal dan saat hari H Natal. Setiap ibadah Natal ada sekitar 800 orang jemaat yang mengikuti.“Jadi empat kali ibadah natal kami gelar di gereja ini. Misa malam Natal dua kali dan dua kali saat hari H ibadah natal,” jelasnya.
Ada perbedaan pelaksanaan ibadah natal tahun ini dengan sebelumnya. Dulunya ada pembatasan jumlah jemaat yang beribadah natal. Sekarang justru tidak panitia memberlakukan penuh jemaat bisa melaksanakan ibadah natal gereja.
“Untuk keamanan sendiri selain ada bantuan pengamanan dari aparat kepolisian, anggota TNI, pecalang kami juga di gereja sendiri menyiapkan 20 orang petugas keamanan,” tandasnya. [juliadi/radar bali]
Editor : Hari Puspita