Untuk itu, pihak Dinas Lingkungan Hidup dan Pertanahan (DLHP) Kabupaten Klungkung berencana mengumpulkan para perbekel atau kepala desa untuk membahas masalah pengelolaan sampah di desa masing-masing, Selasa (27/12).
Sebab menurut Kadis Lingkungan Hidup dan Pertanahan (DLHP) Kabupaten Klungkung, I Ketut Suadnyana, Minggu (25/12), kian menggunungnya sampah di TPA Sente tidak terlepas dari ulah sejumlah desa di Klungkung daratan yang membuang sampah tanpa pemilahan di TPA tersebut meski telah memiliki tempat pengelolaan sampah.
Padahal sejak beberapa tahun ini, hanya sampah residu atau tidak dapat diolah kembali yang boleh dibuang di TPA dengan luas kurang dari satu hektare tersebut.
“Kami mengundang para perbekel ke TPA Sente agar bisa melihat langsung kondisi TPA tersebut. Sebab ada beberapa desa yang membuang sampah ke TPA tanpa pemilahan padahal telah memiliki tempat pengolahan sampah sendiri. Jadi tidak maksimal pengolahan sampah mereka,” terangnya.
Bila dibiarkan begitu saja, tidak menutup kemungkinan TPA Sente hanya mampu menampung sampah residu hingga tahun 2023. Namun bila desa disiplin dalam pengolahan sampah dan hanya membuang sampah residu, TPA Sente bisa bertahan dua sampai tiga tahun ke depan.
Dengan begitu, ada cukup waktu bagi seluruh desa di Klungkung mempersiapkan teknologi yang dapat membantu dalam pengelolaan sampah secara mandiri hingga tingkat residu. “Kalau tanpa pengelolaan, TPA Sente akan penuh di tahun 2023. Kami belum berencana untuk mengolah sampah yang ada di TPA Sente. Hanya peratakan dan pengurukan dengan tanah saja di sana,” katanya.
Untuk mengurangi sampah residu dibawa ke TPA Sente, diungkapkannya Tempat Olah Sampah Setempat (TOSS) Center, Desa Kusamba telah memiliki mesin RDF (Refused Derived Fuel) yang tiba pada November 2022 lalu dan masih diuji cobakan. Di mana mesin tersebut dapat mencacah dan mengepres sampah menjadi bentuk yang lebih kecil sehingga memakan ruang lebih sedikit.
Tidak hanya itu, sampah yang diolah dengan mesin RDF, menurutnya dapat dimanfaatkan sebagai bahan bakar layaknya briket. “Kami sudah coba, dari enam ton sampah residu dapat diubah menjadi sampah berukuran gerobak sampah. Januari 2023 rencananya akan dioperasikan secara bertahap,” tandasnya. [dewa ayu pitri arisanti/radar bali]
Editor : Hari Puspita