Di samping itu, kini warga Denpasar juga dapat menikmati keindahan Tukad Korea sembari makan lawar. Warung itu bernama Warung Lawar Kak Manis. Makan lawarnya bisa sambil selonjoran dengan bean bag (bantal besar)
Pemilik warung, Ketut Budi, 49, mengatakan bahwa menjual lawar ini sejak tahun 1985 silam, yang dijual ayahnya, Kak Manis. Budi menceritakan kuliner khas Bali ini yang membuat berbeda, adalah pada bumbunya.
“Banyak yang datang dari berbagai kalangan. Terutama penggemar lawar, khususnya pelanggan lawar Kak Manis, yaitu bapak saya, dengan lawar sapinya, " ucapnya.
Budi menuturkan, Lawar Kak Manis ini dulu terkenal di daerah Banjar Balun, Desa Pemecutan Kaja. Ia sebagai geenrasi ketiga yang meneruskan berdagang lawar resep dari kakeknya.
Untuk Warung Lawar Kak Manis ini baru tiga bulan lalu kembali ia buka. Dengan menghadirkan lawar tulen, dari daging sapi dan daging babi.
Sepaket lawar sapi, berisi nasi soto dan lawar sapi, sedangkan sepaket lawar babi berisi nasi kuah, serapah, sate, gorengan samsam basah dan krispi, balung kikil, dan ada sayur daun belimbing yang serba khusus. “Ada beberapa daun belimbing yang memang enak untuk dimasak pakai sayur, tetapi tentunya tergantung cara pengolahannya,” kata dia.
Setiap hari laku terjual 50 porsi. Harganya juga ramah di kantong, seporsi nasi lawar dari harga Rp 10 ribu bungkusan biasa, Rp 15 ribu paket dengan sate, lalu paket makan dan minum di tempat sudah termasuk kuah hanya Rp 25 ribu per porsi. “Sehari biasanya saya masak satu termos besar, itu sekitar 14 kilogram beras," ucapnya.
Nasi Lawar Kak Manis ini buka setiap hari. Mulai pukul 09.00 sampai 21.30. Namun, khusus Sabtu dan Minggu ada paket musik sehingga buka lebih lama sampai pukul 23.30.“Jadi pelanggan bisa menikmati makanan tradisional, sambil bersantai di Tukad Korea,” tandasnya. [ni kadek novi febriani/radar bali]
Editor : Hari Puspita