Dalam keterangan terpisah seusai penguburan Kepala Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Bali Agus Budi Santosa memastikan bahwa buaya tersebut berjenis kelamin betina.
Satwa purban yang bisa mencapai Panjang 6 meter ini dipastikan mati di tempat Pusat Penyelamatan Satwa (PPS) Tabanan Rabu malam (4/1). Buaya tersebut mati seuai dievakuasi dari tempat penangkapan. “Dia stres, dehidrasi, shock dan juga akibat luka lama,” jelasnya.
Ditegaskan, terdapat lukanya luka lama, bukan luka baru. Walaupun demikian, dia tidak bisa memastikan luka lama diketahui karena apa.
“Yang pasti kelamin buaya itu betina. Ada dua bekas luka. Yaitu satu di pinggang dan satu di punggung," imbuhnya. Menurutnya, buaya tersebut mati tak lama setelah diangkut. Hanya sekitar satu hingga dua jam setelah tiba di Pusat Penyelamatan Satwa Tabanan.
Saat diukur, panjang buaya itu mencapai 3,50 centimeter. Sementara panjang punggung 70 centimeter (140 centimeter) dan panjang kepala 67 centimeter "Sebelumnya, bagian kepada buaya muara tersebut pihaknya telah memberikan penanganan berupa injeksi vitamin biodin," tutur Agus Budi Santosa.
Terkit tempat penguburan, menurutnya dirahasiakan. "Kami memang merahasiakan lokasi kubur," terang Kepala BKSDA.
Buaya berjenis kelamin betina ini kemudian dikubur dengan dilapisi terpal berwarna biru. [andre sulla/juliadi/radar bali] Editor : Hari Puspita