Bali Bali United Berita Daerah Cover Story Dwipa Ekonomi Ekonomi & Perbankan Events Features Foto Lepas Gaya Hidup Hiburan & Budaya Hiburan & Seni Budaya Hospitality Hukum & Kriminal Inforial Internasional Kesehatan Nasional Opini Otomotif Pariwisata Pendidikan Perbankan Peristiwa Politika Sportainment Sportmania Tamu Redaksi Teknologi Traveling

Melongok Aktivitas PPS Tabanan: Perlu Ongkos Rp 50 Jutaan Setiap Bulan

Hari Puspita • Jumat, 6 Januari 2023 | 14:03 WIB
WAJIB SEPENUH HATI : Manajer Bali Wildlife Rescue Center PPS Tabanan Bali drh. Noviani Rini yang menunjukkan beruang madu yang selamatkan dan kini masih masa rehabilitasi di Wildlife Rescue Center Pusat Penyelamatan Satwa (PPS) Tabanan Bali. (foto:juliadi
WAJIB SEPENUH HATI : Manajer Bali Wildlife Rescue Center PPS Tabanan Bali drh. Noviani Rini yang menunjukkan beruang madu yang selamatkan dan kini masih masa rehabilitasi di Wildlife Rescue Center Pusat Penyelamatan Satwa (PPS) Tabanan Bali. (foto:juliadi
Sudah 18 tahun Bali Wildlife Rescue Center Pusat Penyelamatan Satwa (PPS) Tabanan Bali berdiri. Hampir ratusan satwa telah mereka selamatkan akibat dari perdagangan ilegal, perburuan, hingga kondisi satwa yang dilindungi sakit. Butuh biaya tak sedikit untuk aneka satwa nahas itu.

SUASANA tampak sibuk. Saat bertandang ke lokasi PPS Tabanan Bali sebagai mitra kerja dari BKSDA Bali yang berlokasi di Banjar Dukuh, Jalan Teratai No. 49 Dauh Peken Tabanan, sejumlah volunteer hingga para pekerja saat pagi hari sibuk memberikan pakan pada sejumlah satwa. Bahkan ada yang memberikan vitamin pada satwa yang dilindungi di sana.

“Saat ini ada sebanyak 60 satwa di sini. Kebanyakan bangsa burung (aves), itu ada jenis kakatua elang, jalak. Ada juga jenis mamalia ada binturo, beruang madu, ada luwak, monyet ekor panjang. Sedang jenis reptil ada ular piton dan buaya air tawar,” tutur Manajer Bali Wildlife Rescue Center PPS Tabanan Bali drh. Novia Rini ditemui Kamis (5/1/2023).

Photo
Photo
PENYAYANG SATWA : Seorang voluntir warga asing yang memberikan pakan terhadap kambing gembrong di PPS Tabanan Bali. (foto:juliadi/radar bali).

Usia dari satwa-satwa ini berbeda-beda. Burung Kakaktua misalnya usianya sudah 18 tahun dan cukup lama berada di PPS disini. Kakaktua kebanyakan berasal dari Maluku, Papua atau wilayah Indonesia Timur.

Begitu pula dari kondisi setiap satwa yang datang di PPS beda-beda ada yang kondisi sehat, cacat, ada pula yang sakit. Ada pula yang ditemukan warga. tetapi ada juga yang dibawa secara langsung oleh BKSDA Bali.

“Burung Elang salah satu dalam kondisi tertembak dan sakit dibawa oleh warga. Kini sudah sembuh luka tembaknya. Sekarang tinggal menunggu untuk bisa terbang secara normal kembali,” ungkap drh Rini.

Dia melanjutkan sebagai lembaga non profit yang bergerak di konservasi dan keselamatan satwa. Pihaknya menerima limpahan satwa tidak setiap harinya. Artinya tidak tentu. Kadang kala ada satwa yang pihaknya terima sebulan sekali. Kadang pula sama sekali tidak ada.

“Tapi kami selama bermitra dengan BKSDA Bali tentunya dominan pihaknya terima satwa dari hasil tangkapan dari BKSDA Bali,” ujarnya.

Diakui drh. Rini, selama 18 tahun berdiri PPS Tabanan Bali telah banyak satwa yang pihaknya selamatkan bahkan ada yang telah dilepasliarkan ke alam bebas dan telah dilakukan translokasi satwa ke asalnya. PPS ini sejatinya hanya tempat sementara saja. Nanti selanjutnya menuju pusat rehabilitasi khusus binatang.

Sebagai contoh binatang lutung ke pusat rehab lutung di Jawa Timur, Kukang ditranslokasikan ke Jawa Barat, Siamang ke Sumatera Barat.

“Translokasi ini satwa direhabilitasi ke habitat khususnya sebelum dikembalikan nanti ke alam bebas bersama-sama dengan teman –temannya,” ucapnya.

Disinggung mengapa lebih dominan burung yang berada di PPS dimana jumlah mencapai 40 ekor lebih. drh. Rini mengaku lebih banyak burung pihaknya terima, karena perdagangan burung ilegal di Bali masih sangat tinggi terjadi. Dengan jenis jalak, elang brontok hingga kakaktua.

Kakaktua salah satu burung yang dilindungi harga tembus Rp 20-30 juta per ekornya. Ini pihaknya terima dari hasil perdagangan liar (ilegal) selundupan tidak berizin.

“Jadi hal ini yang menyebabkan oknum dari masyarakat yang banyak tertarik untuk melakukan perdagangan burung di Bali,” jelasnya.

Dia menambahkan banyak burung yang pihaknya pelihara jelas membutuhkan biaya tak sedikit untuk pakan. Secara keseluruhan untuk biaya pakan saja PPS harus mengeluarkan anggaran sekitar Rp 20 juta setiap bulannya. Mulai dari pakan buah, kroto, jangkrik, pembelian daging dan pakan lainnya.

“Itu pengeluaran tetap. Belum gaji staf, untuk medis, perbaikan kadang. Kami bisa sebulan pengeluaran untuk keselamatan satwa sampai Rp 50 juta,” ungkap drh. Rini.

Selama ini proses sokongan dari masih mengandalkan donatur, sponsor dan dari yayasan sendiri. Termasuk mencari dana secara mandiri.

Selama belasan tahun berjalan kendala pihaknya hanya masalah pendanaan saja. Seperti saat pandemi kemarin pihaknya sangat kekurangan dari sisi dana. Sementara dari sisi tenaga yang sudah memadai.

“Kami memiliki satu dokter hewan dengan empat staf pegawai. Belum ditambah dengan volunteer-volunteer atau relawan,” ungkapnya.

Puluhan satwa yang dirawat disini sudah barang tentu bisa terjadi sakit hingga terkena virus. Salah satunya adalah perubahan cuaca saat ini. Sehingga pihanya lebih banyak mengantisipasi secara dini.

“Kami kasik vitamin pemberian obat vitamin secara rutin, menjaga agar mereka (satwa) tidak sakit.  Cek kondisi tubuh dari satwa itu yang konsisten kami lakukan,” pungkasnya. [juliadi/radar bali]

  Editor : Hari Puspita
#satwa langka #penyelamatan satwa #PPS Tabanan #perlindungan satwa