Anggota DPD RI ini, menyatakan kebutuhan bandara ini sangat mendesak melihat Bandara I Gusti Ngurah Rai yang ada saat ini kurang maksimal dikarenakan sudah overload. Misalkan, pesawat akan lepas landas maupun mendarat harus antre dan a memakan waktu setengah sampai satu jam. Menurutnya, kalau sampai mega proyek ini batal patut dipertanyakan. "Mestinya itu jadi. Itu perjuangan kita sudah lama sekali. Itu mimpi. Kalau boleh bilang orang Buleleng itu mimpi punya airport itu yang dia bangun dia ingat airportnya. Kalau tidak jadi patut ditanya kenapa? Ada apa? Masalahnya apa? Itu kan mulai dari zaman saya dulu 2014 atau 2015," ucap Mantan Kapolda Bali ini.
Pastika optimis bandara dapat terbangun. Namun, tidak hanya gujug-gujug membangun tanpa rencana bisnis kedepannya. Ia menyatakan investor ya darimana dan apakah bisa balik modal? menurutnya, jika terpaku sebagai bandara penumpang, kecil kemungkinan modal yang ditanam bisa cepat balik. Oleh karena itu, dia menyarankan bandara di Buleleng dibuat konsep aero city dengan teknologi penerbangan "Bilang duitnya darimana. Siapa yang mau bangun, mau gunakan APBN? Pertanyaan berikutnya bagaimana kembalinya duit itu. Jangan suruh-suruh nanti kayak Bandara Kertajati," ucapnya.
Dikatakan sebelumnya ada investor dari Kanada, perusahaan asing ingin menjadi investor utama dari pembangunan Bandara Internasional Bali Utara. Nama perusahaan itu adalah Kinesis Capital and Investment. Kata Pastika Kinesis ini memiliki network yang dapat mengembangkan bandara ini. Lebih lanjut, ia menyarankan bandara yang dibangun bukan sekadar bandar udara penumpang, tapi juga bisa dibangun aero city yang ada repairation (perbaikan) pesawat.
Dari sana duitnya bukan dari penumpangnya. Kalau bisa wisatawan asing datang misalnya 10 juta per tahun, 20 tahun baru balik. Kalau 10 juta, ya. Paling banyak juga 5 juta. Kapan kembali tidak masuk akal. Tempat itu bisa jadi tempat repairation yang selama ini pergi ke singapura. Belum lagi HUB seluruh dunia bisa kesana. Dari sana dapat duit kalau tidak kan tidak realistis," jelasnya.
Sayangnya, selama ini rencana pembangunan ini bukan mencari solusi bangaimana, dapat terbangun tapi menurut Pastika lebih banyak ributnya untuk mencari proyek. "Kecepatam berantem, cari proyek dulu. Harus realistis lah. Idealis boleh," celetuknya.
Mengenai lahan, menurutnya lebih baik memakai lahan offshore (yang jaraknya jauh dari daratan). Sebab, di Buleleng masih banyak lahan yang produktif seperti Kubutambahan adalah lahan pertanian yang subur. " Kubutambahan itu tanah subur sekali kelas satu. Offshore lebih baik karena lahan di Bali sudah terbatas," ujarnya. Ia mengusulkan pakai sistem mengapung, sedangkan untuk di Kubutambahan sudah tidak bisa dibangun lagi.
Seperti diketahui akhir-akhir ini yang menjadi perbincangan, terkait pro dan kontra pernyataan Ketua Umum Megawati Soekarnoputri yang menolak pembangunan bandara di Bali Utara karena menurutnya mubazir. Lebih baik, kata Mega bandara yang ada saat ini diperbaiki dan dimaksimalkan. Pernyataan itu dia sampaikan beberapa minggu lalu saat memberikan sambutan di Sanur. Mantan Presiden RI ini mengaku ngamuk ketika mendengar rencana di Buleleng akan dibangun bandara. (feb/rid) Editor : M.Ridwan