Diwawancarai dengan ayah Nia di kediamannya Jalan Nangka Permai, Gang Drupadi, Denpasar Utara, HM Sukarmin Rabu malam kemarin (8/2) sedang menunggu kabar dari Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) mengenai penguburan jenazah. Sebab, terkait aturan sehingga terkait pemakaman pihaknya masih setia menunggu. Sukarmin dan anaknya bernama Marina diselimuti duka sembari menunggu kedatangan istrinya yaitu Ibu Nia Merlinda dari Jombang, Jawa Timur. "Saya belajar untuk sabar hati kecil saja sudah tahan tapi air mata. Saya sebagai orang tua hanya bisa kembalikan kepada Tuhan," ucapnya sembari menahan tangis.
Ia menceritakan Nia adalah anak yang ramah. Ia ke Turki untuk bekerja pada tahun 2020 tetapi ternyata sekaligus mendapatkan jodoh dan menikah. Karena Covid-19, Sukarmin tidak bisa menyaksikan pernikahan anaknya dan hanya diwakilkan oleh pejabat KBRI. Sejak pergi ke negara dengan julukan The Sick Man Of Europe ini, Nia tidak pernah pulang karena kendala aturan ketat. Nia menikah tahun 2021 dan telah dikarunia anak berusia 1 tahun lebih. "Ia rencana mau pulau dekat-dekat ini. Suaminya kerja sebagai Dosen. Semenjak menikah dia tidak kerja karena kebiasaan di Turki perempuan tidak boleh kerja," terang Pria yang lahir tahun 1964 ini.
Sukarmin mengenang almarhumah berencana pulang ke Bali, meminta kamarnya digambar pemandangan, seperti matahari, lautan, ombak dan burung. Meminta jangan menggambar bulan, kalau matahari terang. Semua sudah dilaksanakan supaya Nia dan anaknya senang. Tapi, takdir berkata lain. " Sudah saya kirim foto dia bilang cocok pas. Rencana mau pulau ke bali kalau aman," terang Pria asal Nusa Tenggara Barat (NTB). Sukarmin sangat berlapang dada, dengan terus mengusap air mata hanya bisa mendoakan anaknya. Karenamenurutnya roh terus hidup yang mati hanya tubuhnya.
Sementara adik Nia, yang ada di Bali bernama Marina saat ditemui kemarin tidak bisa banyak memberikan penjelasan karena kondisi berduka. Marina menekankan saat ini masih menunggu kabar dari KBRI. " Ini berita duka dan terakhir kami masih meninggu informasi yang sebenarnya untuk kami sebarkan," ucap Perempuan yang berusia 27 tahun ini.
Di mata Marina, Nia sosok yang suka dengan anak kecil dan ramah. Selain itu, tidak suka mengumbar atau membicarakan yang bersifat personal. " Mungkin orangnya tidak terlalu suka berbagi sama orang mengenai topik personal," tuturnya.
Berdasarkan catatan BP3MI (Badan Pelayanan Perlindungan Pekerja Migran Indonesia ) mencatat PMI yang bekerja di Turki data 2023 sejumlah 1.375. Saat ini BP3MI masih mendata PMI yang terdampak musibah gempa. "Jumlah PMI asal Bali Laki-laki adalah 255 dan Perempuan sebanyak 1.120 Total jadi 1.375, " ucap Kadisnaker Provinsi Bali, Ida Bagus Setiawan dua hari lalu (7/2).
Diwawancarai Sekda Provinsi Bali Dewa Gede Indra mengatakan, hingga saat ini belum ada laporan PMI yang terkena musimbah. "Terkait PMI di Turki, kita sudah komunikasikan. Jadi Kadisnaker Bali sudah berkomunikasi dengan Kementerian Tenaga Kerja sekaligus juga kedutaan. Memang ada PMI kita disana saat ini sedang dilakukan pendataan. Informasi yang kita terima astungkara tidak ada PMI yang dari Bali terkena musibah," ungkapnya.
Namun, lanjutnya mengatakan, itu pedataan yang sudah berjalan hingga Selasa (7/2). Ia berharap agar kondisi PMI tetap baik dan semua selamat. "Kami sudah meminta Kadisnaer untuk terus bekomunikasi. Pendataan belum ada (PMI yang terkena musibah). Kalaupun ada maka kita sudah merencanakan prosedurmya. Kita sudah buka komunikasi," terangnya.
Jawa Pos Radar Bali dan radarbali.id berkesempatan mewawancarai salah seorang PMI asal Singaraja, yang tinggal di Hatay-Iskenderun bekerja di Day Spa eform bernama Komang Anggreni. Ia saat ini mengungsi di tempat bosnya. menyatakan empat orang sudah dievakuasi KBRI ke Ankara. Sehingga sampai saat ini tinggal dia bersama lima orang temannya sedang mengungsi.
Ia menerangkan, tidak terangkut saat dievakuasi karena keterbatasan kendaraan. Ironisnya,saat evakuasi juga keadaan Anggreni dalam kondisi lemas dan mengantuk. "Iya kemarin mau ikut tapi kami tidak bisa secara bersamaan karena kendaraan tidak mendukung untuk mengangkut banyak orang. Pada saat itu juga kami semua dalam keadaan lemas dan mengantuk," ucapnya saat dihubungi lewat whatsapp kemarin ( 8/2).
Kondisi di daerah yang ditempati sudah membaik. Tempat kerjanya rusak parah. Kini, Anggreni tinggal di tempat bosnya. Ketersediaan makanan juga menipis. Yang ada hanya roti. Sedangkan uang, pakaian, dan air juga tidak ada. " Belum ada bantuan disini, kami lagi cari bantuan buat makan saja supaya punya tenaga," terangnya. (feb/rid) Editor : M.Ridwan