Bali Bali United Berita Daerah Cover Story Dwipa Ekonomi Ekonomi & Perbankan Events Features Foto Lepas Gaya Hidup Hiburan & Budaya Hiburan & Seni Budaya Hospitality Hukum & Kriminal Inforial Internasional Kesehatan Nasional Opini Otomotif Pariwisata Pendidikan Perbankan Peristiwa Politika Sportainment Sportmania Tamu Redaksi Teknologi Traveling

Koster Bersikukuh Larang Pendakian Gunung, Angkat Pemandu Jadi Penjaga Gunung dan Hutan

M.Ridwan • Selasa, 6 Juni 2023 | 08:30 WIB
INDAH: Suasana dan panorama Gunung Batur disaat senja seolah memancarkan bianglala (5/6). Foto: Ni Kadek Novi Febriani/Radar Bali
INDAH: Suasana dan panorama Gunung Batur disaat senja seolah memancarkan bianglala (5/6). Foto: Ni Kadek Novi Febriani/Radar Bali
DENPASAR,radarbali.id Gubernur Bali Wayan Koster bersikukuh melarang bagi siapa pun untuk mendaki gunung demi menjaga kesucian alam Bali. Meski, selama ini dari aktivitas  pendakian menghasilkan pendapatan negara bukan pajak. Ditemui usai sidang paripurna, Koster membeberkan dari 22 gunung, wisatawan banyak mendaki ke  Gunung Batur dan Gunung Agung.  Koster mengungkapkan ia telah  menghitung  pendapatan yang diperoleh di Gunung Agung, Karangasem  itu pendapatannya dalam satu tahun kurang dari Rp 100 juta.

Di Gunung Batur, Bangli lebih banyak lagi,  satu tahun hampir Rp 1 miliar  masuk ke Kementerian Kehutanan sebagai pendapatan negara bukan pajak. Sementara gunung agung masuk ke desa dan kewenangannya Pemerintah Provinsi Bali.

"Bersama sulinggih yang memberikan arahan, gunung itu adalah kawasan suci. Jadi karena itu jangan dijadikan sebagai objek wisata apalagi untuk mendaki. Dan, saya juga sesuai dengan visi nangun sat kerti loka Bali, memandang hal yang sama jadi para tetua kita di Bali orang-orang suci yang dulu menata Bali salah satunya itu dengan melakukan upaya niskala di hulu," beber Pejabat asal Sembiran, Buleleng ini kemarin (5/6).

Gubernur Koster mengaku mengikuti  arahan  sulinggih, dan  majelis desa adat (MDA) serta Parisada juga mendukung. Berdasar pertimbangkan   gunung yang  obyek wisata itu menodai tempat suci dan juga  secara ekonomi pendapatannya kecil sekali.

"Sedikit sekali yang mancanegara yang mendaki gunung, kebanyakan wisdom. Jauh perbedaanya. Dibandingkan dengan pendapatan dan risiko kalau aura Bali ini terus menurun, kesucian Bali terus turun, maka daya tarik Bali ini akan menurun. Kalau daya tarik Bali ini menurun, maka logikanya adalah kedepan orang yang akan berkunjung ke Bali itu akan menurun,"terangnya.

Menurutnya, jika terus dibiarkan adanya pendakian gunung sebaliknya wisatawan yang baik dan berkualitas tidak memilih Bali untuk berwisata. Menurut Koster, wisatawan tidak hanya melihat keindahan alam tapi karena kekuatan auranya.

"Ini yang harus kita jaga bersama ini jangan dikorbankan oleh kepentingan pragmatis yang dampak ekonominya sangat kecil ketimbang kita akan mengorbankan hal besar. Ini yang saya memperhitungkan tidak gegabah saya memperhitungkan ini secara sekala niskala tidak mudah bagi saya memutuskan ini," jelasnya

Gubernur Bali juga telah menyurati Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan  melarang  aktivitas mendaki gunung dan melarang menjadikan gunung obyek wisata. " Saya sudah kirim Whatsapp (WA)  prinsipnya setuju, menteri lain sudah saya komunikasikan setuju," ujarnya.

Bahkan, jika ada yang tidak setuju atau menggugat larangan itu, Koster mempersilakan. Pihaknya mengaku tidak takut. "Oh silahkan saja,  itu haknya (akan menggugat). Berbeda pendapat biasa," ucapnya.

Nasib pemandu pendaki gunung, Koster akan angkat menjadi tenaga kontrak sebagai penjaga gunung dan hutan.  Diungkapkan jumlah pemandu 267 orang, diantaranya paling banyak di Gunung Batur 200 orang dan Gunung Agung 67 orang. "Ada solusinya, mereka diangkat menjadi tenaga kontrak malah lebih tinggi pendapatannya kalau jadi pemandu tidak menentu," tandasnya. (feb/rid) Editor : M.Ridwan
#jadikan gunung kawasan suci #gubernur bali #kesucian bali #gubernur koster #larang pendakian gunung