DENPASAR,radarbali.id - Masyarakat Bali selama ini ternyata disebut lebih banyak mengonsumsi bawang putih impor dibandingkan yang diproduksi petani lokal. Hal ini karena bawang putih impor lebih murah sehingga petani tidak mau menanam bawang putih
Produksi bawang putih di Bali 1.040 ton sedangkan kebutuhan masyarakat 3.645 ton sehingga defisit 2.605 ton. Kata Gubernur Bali Wayan Koster untuk mencapai kedaulatan pangan Bali harus menanam bawang putih. Direncanakan akan menanam 1000 hektar di Bangli, Karangasem dan Buleleng.
"Impor bawang putih harus tanam sudah disiapkan 1000 hektare daerah Bangli dan Buleleng. Sudah mulai di Karangasem, sudah menanam 100 hektar dan akan menanam 100 hektar lagi," ucapnya usai rapat paripurna Jawaban Gubernur terkait pemandangan umum Fraksi Raperda tentang Haluan Pembangunan Bali Masa Depan, 100 tahun Bali Era Baru 2025-2125, kemarin (28/6/2023).
Koster menargetkan tercapainya rencana menanam 1000 hektar bawanh putih pada 2024 sampai 2025 mendatang sehingga tidak lagi didominasi bawang impor.
Ia menuturkan, awalnya heran kenapa Bali memilih impor bawang putih padahal wilayah agraris. Koster memanggil kepala Dinas Pertanian Bali, hasil diskusi mereka ternyata bukan masalah peralatan, tetapi petani lokal enggan menanam bawang putih karena harganya lebih tinggi dibandingkan yang impor.
"Gila tidak, makanya saya minta kepala dinasnya untuk tanam bawang putih jangan sampai defisit," ujarnya.
Sedangkan delapan kebutuhan pokok yang lain kondisinya di Bali masih aman. Jumlah produksi lebih besar dibandingkan kebutuhannya. Seperti beras; jagung pipilan kering;bawang merah;cabai rawit, cabai besar;daging sapi/kerbau;daging ayam ras dan telur ayam ras.***
Editor : M.Ridwan