Bali Bali United Berita Daerah Cover Story Dwipa Ekonomi Ekonomi & Perbankan Events Features Foto Lepas Gaya Hidup Hiburan & Budaya Hiburan & Seni Budaya Hospitality Hukum & Kriminal Inforial Internasional Kesehatan Nasional Opini Otomotif Pariwisata Pendidikan Perbankan Peristiwa Politika Sportainment Sportmania Tamu Redaksi Teknologi Traveling

Curah Hujan Tinggi Picu Bencana di Hampir Semua Wilayah Bali, Tumpek Uduh Jadi Momen Refleksi Kembali ke Alam

Ni Made Ari Rismaya Dewi • Minggu, 9 Juli 2023 | 00:37 WIB

 

 

KEMBALI KE ALAM: Upacara Tumpek Uduh atau Wariga sebagai upaya agar warga melestarikan tumbuhan untuk menghindari bencana alam.
KEMBALI KE ALAM: Upacara Tumpek Uduh atau Wariga sebagai upaya agar warga melestarikan tumbuhan untuk menghindari bencana alam.

MANGUPURA,radarbali.id - Upacara Tumpek Uduh atau dikenal juga dengan Tumpek Wariga, Tumpek Bubuh atau Pengatag diperingati pada Saniscara (Sabtu) Kliwon Wuku Wariga yang jatuh kemarin (8/7). Tumpek ini diperingati tiap enam bulan sekali atau tepat 25 hari sebelum Hari Raya Galungan.

Dalam peringatannya kali ini, Ketua Pimpinan Cabang Kesatuan Mahasiswa Hindu Dharma Indonesia (PC KMHDI) Badung, I Gusti Agung Arya Dhanyananda menyampaikan Tumpek Uduh menjadi momen refleksi untuk jaga kelestarian alam.

Seperti diketahui, tercatat sebanyak 78 bencana di Pulau Bali terjadi per tanggal (7/7) pukul 17.00 WITA akibat cuaca ekstrim. Mulai dari banjir, longsor, dan pohon tumbang telah terjadi di beberapa titik, dengan 19 bencana di antaranya terjadi di Gumi Keris.

Momentum ini dimaknai untuk menyadari bencana banjir dan longsor sebagai cerminan dampak bagaimana manusia memperlakukan alam. Hal ini juga berkaitan dengan ajaran Tri Hita Karena.

"Kita punya ajaran Palemahan dalam Tri Hita Karana yang artinya bila ingin bahagia, maka harus menjaga harmoni dengan alam. Tumpek Uduh adalah momen kita menyadari Palemahan ini," kata Mahasiswa Universitas Hindu Negeri I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar ini.

Kepada Pemerintah Kabupaten Badung, Arya berpesan agar pemerintah dapat lebih serius dalam melakukan tata kelola lingkungan. Terlebih saat ini banjir dan longsor layaknya seperti agenda tahunan di Badung.

“Lebih diperhatikan kondisi lingkungan yang berdampak pada masyarakat di sana. Mohon alokasikan anggaran untuk bantuan sosial (bansos) dalam waktu dekat dan alokasikan anggaran lebih untuk membangun upaya penataan lingkungan," sambungnya.

PC KMHDI Badung juga baru saja menyelesaikan Sabha atau musyawarah cabang (muscab) bulan lalu dan kini fokus pada penyusunan program kerja. Dalam muscab tersebut, lahir dua rekomendasi eksternal yang nantinya akan disampaikan kepada Pemkab Badung.

Rekomendasi tersebut berbunyi: mendorong pemerintah Kabupaten Badung untuk memastikan pemasangan biopori yang berfokus pada wilayah Badung Selatan sebagai bentuyk antisipasi ketersediaan air bawah tanah, dan mendorong pemerintah Kabupaten Badung untuk mengantisipasi bencana banjir di wilayah Badung Utara dengan memperhatikan ruang-ruang terbuka hijau yang tersisa.

Lebih lanjut, ia turut menyampaikan pesan untuk masyarakat yang terdampak agar tetap semangat dalam menghadapi bencana yang terjadi.

"Saya berduka cita melihat bencana alam yang melanda pulau kita lagi. Semoga bencana ini mencerahkan kita untuk meningkatkan sradha dan bhakti kita untuk menjaga alam Bali tetap lestari," tuturnya. ***

Editor : M.Ridwan
#bencana alam #kembali ke alam #Tumpek Wariga #WUKU #tumpek uduh