DENPASAR, radarbali.id - Kasus rabies saat ini menjadi fokus Pemerintah Provinsi (Pemprov) Bali. Terlebih virus yang ditularkan oleh Hewan Penular Rabies (HPR) ini sudah menelan empat korban jiwa.
Kondisi ini pun turut menjadi perhatian Pemerintah Australia yang sudah menjalin kerja sama di bidang kesehatan dengan Indonesia, termasuk mendukung pengentasan rabies. Hal ini diwujudkan dengan hibah sebanyak 400 ribu vaksin rabies yang diberikan oleh Departemen Pertanian, Perikanan, dan Kehutanan Australia (DAFF) melalui Badan Organisasi Dunia bagi Kesehatan Hewan (WOAH) di Gedung Wiswa Sabha Utama, Kantor Gubernur Bali, kemarin (15/8).
Bali mendapat bantuan 200 ribu vaksin rabies tahun 2023 dan akan mendapat bantuan kembali 200 ribu vaksin pada tahun 2024 mendatang.
Baca Juga: Robot Tombak Khadafi Buntut Amarah Cewek Mantan Napi, Ikhwal Balas Dendam, Ternyata Residivis
Wakil Gubernur Bali, Tjokorda Oka Artha Ardhana Sukawati ungkap sampai saat ini Pulau Bali masih menjadi perhatian dan fokus bagi banyak pihak akibat penyakit rabies. Berbagai upaya untuk menghentikan perputaran dan penyebaran virus rabies pada manusia atau hewan pun sudah dilakukan.
Di antaranya KIE (Komunikasi, Informasi, Edukasi) atau sosialisasi; vaksinasi (vaksinasi massal, emerging vaksinasi, sweeping/penyisiran), eliminasi atau eutanasia, pengawasan lalu lintas HPR, surveilans, dan kontrol populasi.
"Saat ini juga telah dibentuk Tim Siaga Rabies (Tisira) di empat kabupaten di Provinsi Bali, yaitu di Kabupaten Buleleng sebanyak 148 desa dan satu kelurahan, Kabupaten Jembrana sebanyak 22 desa, Kabupaten Karangasem sebanyak 75 desa, Kabupaten Badung sebanyak 6 enam desa," paparnya.
Baca Juga: Kasus Rabies Masih Mengancam, Lapak Vaksinasi Rabies Langsung Diserbu Warga Buleleng
Dalam kesempatan ini, ia juga ingin meluruskan bahwa anjing juga merupakan korban dari rabies. Karena saat ini banyak pihak yang selalu menyalahkan anjing sebagai penyebab rabies, hingga penyebab kematian bagi korbannya.
"Hal ini harus dapat kita luruskan bersama bahwa anjing juga merupakan korban rabies, sedangkan ‘biang’ dari rabies sebenarnya adalah virus rabies. Musuh kita adalah virus rabies, bukan anjingnya," kata Cok Ace.
Selain itu, dijelaskan juga pada tahun 2023 Pemprov Bali mengalokasikan 480.000 dosis vaksin rabies, dengan total cakupan vaksinasi rabies pada HPR mencapai 70 persen.
Baca Juga: Cegah Meluasnya Rabies, Kabupaten Badung Siapkan Shelter Anjing, di Denpasar Swasta Juga Tampung Kucing
Dengan demikian, Pemprov Bali memiliki komitmen tidak ada lagi timbul korban jiwa akibat rabies di tahun 2024. Ia juga mendorong pararem di masing-masing desa adat terkait dengan kepemilkan anjing. Dengan adanya pararem tersebut, masyarakat bisa lebih mangawasi anjingnya.
“Besar harapan saya bahwa kerja keras kita akan mendapatkan hasil sesuai yang kita harapkan. Kita kembalikan kenyamanan dan keamanan Pulau Bali dari ancaman penyakit rabies," ujarnya.
Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian, Nuryani Zainuddin turut menyampaikan bahwa jumlah vaksin di Bali sudah cukup. Ditambah dengan effort dari pemerintah untuk melakukan vaksinasi massal.
Baca Juga: Tersengat Aliran Listrik Tegangan Tinggi, Buruh Proyek Tewas
Jumlah vaksin yang tersedia di Bali menurutnya sudah cukup untuk menekan wabah rabies. Bahkan berdasarkan data ilmiah, cakupan 70 persen saja sudah bsia menurunkan kasus rabies di suatu daerah.
"Dengan jumlah vaskin yang saat ini tersedia sebanyak 680 ribu, kita yakin bisa mengendalikan rabies di Bali. Total vaksin di Bali hampir mencakup 100 persen populasi (HPR, red) di Bali," bebernya.***