DENPASAR,radarbali.id - Aparatur Sipil Negera (ASN) Pemerintah Provinsi Bali berlenggak lenggok di atas catwalk atau panggung mengenakan pakaian pantai karena tema tropis di Art Center kemarin (23/8). Gubernur Bali Wayan Koster dan Istrinya yang juga Ketua Dekranasda Provinsi Bali Putu Putri Suastini juga mengenakan pakaian putih dengan motif daun berwarna putih.
Acara yang dimulai dari pukul 10.00 hingga 15.00 lebih menampilkan pakaian yang diproduksi UMKM Bali. Menariknya, kepala dinas atau pejabat eselon II yang biasanya berpakaian serius mereka berbusana ala pergi ke pantai. Bahkan, pada akhir acara Maestro Suling Bali, Gus Teja mengiringi para peraga busana.
Diwawancarai Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Bali, Nyoman Gede Anom saat ditemui kemarin mengaku senang mengikuti fashion show Bali Bangkit tahap 7 ini Ia datang bersama istrinya memakai busana sama. Gede Anom mengatakan, dengan acara ini bisa membantu dan mendukung para UMKM di Bali. Gede Anom memakai kemeja berwarna hitam dan motifnya ungu. "Menjaga UMKM kita, supaya tetap berjalan. Kedua kita mencintai produk lokal ini," ujarnya.
Baca Juga: Kuta Fashion Week 2023 Dibuka, Tampilkan Fashion Show Brand Lokal Bali
Ketua Dekranasda Bali, Putu Putri Suastini mengatakan visi misi dekranasda adalah lembaga yang handal dalam mendukung kemandirian ekonomi Indonesia. Ada 800 UMKM hingga saat ini ada dalam binaan dekranasda Bali berlokasi di Art Center. Omzet yang dicapai sekitar 58 miliar lebih.
"Sampai pameran tahapan akhir yang keenam 2023 , itu omzetnya bersih. Masuk ke rekening para UMKM," ucap Perempuan yang akrab disapa Putri Koster.
Dalam pameran ini tidak mengajak para pedagang berjualan, tapi juga mengedukasi para perajin dan pedagang. Bukan hanya sekadar mencari cuan bagaimana menjaga warisan leluhur. "Tugas dekranasda tugasnya bukan pameran kami dewan kerajinan. Jadi saya melihat tugas tugas dewan perwakilan rakyat fungsi kontrol harus kuat. Fungsi kontrol situasi kondisi yang dilakukan para UMKM dan konsumen perjalanan satu arah menjaga kualitas kerajinan leluhur jangan diobrak-abrik," paparnya.
Baca Juga: 4,7 Juta Kendaraan di Bali Melebihi Jumlah Penduduk, Polusi Udara Kian Mencemaskan
Dalam sambutannya, Putri Koster menyayangkan endek Bali yang beredar di pasaran hanya 13 persen yang ditenun di Bali. Sisanya jenis endek Bali yang diproduksi di luar Bali. Tidak hanya endek, songket juga serupa dijiplak motifnya dibuat dengan teknik bordir dikarenakan songket asli Bali lebih mahal. Sungguh ironi semakin marak mencuri motif songket dengan bordir menurut Putri Koster mengancam penenun songket Bali.
"Bagi saya ini mengkhawatirkan pekerjaan diambil dan pekerjaan diambil dan uang itu keluar. Suatu saat 100 tahun endek Bali tingga kenangan berubah," terangnya.
Putu Putri berharap pemerintah mengambil tindakan lebih tegas memberlakukan regulasi yang berlaku. Fungsi kontrol lebih tegas. Diharapkan pemerintah Bali kedepannya membuat asosiasi pedagang dan penenun supaya jangan sampai masyarakat melakukan tindakan terlalu jauh dengan mengobrak-abrik warisan leluhur Bali.
Baca Juga: Coach Marcelo: Saya Senang, Mereka Mau Belajar Metode Amerika Selatan dan Eropa
Putri Koster juga jengkel endek dan motif songket Bali banyak yang ditiru oleh penenun daerah lain, salah satunya Jawa Tengah. Ia meminta Wayan Koster selaku kepala daerah memberitahu Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo tidak memproduksi songket dan endek Bali di Jawa Tengah tepatnya di Desa Troso, Kecamatan Pecangaan, Kabupaten Jepara, Jawa Tengah (Jateng) kemudian dijual ke Bali.
"Barangkali Bapak Gubernur bicara dengan sesama kepala daerah. Bisakah kita bicara dengan Bapak Ganjar Pranowo misalnya, tolong hentikan memproduksi, atau kita berdiskusi, untuk tidak menenun kain songket Bali atau endek Bali misalnya. Silakan saudara di Troso pintar menenun buat motif sesuai kearifan lokal daerahnya sendiri," sentilnya. ***
Editor : M.Ridwan