Bali Bali United Berita Daerah Cover Story Dwipa Ekonomi Ekonomi & Perbankan Events Features Foto Lepas Gaya Hidup Hiburan & Budaya Hiburan & Seni Budaya Hospitality Hukum & Kriminal Inforial Internasional Kesehatan Nasional Opini Otomotif Pariwisata Pendidikan Perbankan Peristiwa Politika Sportainment Sportmania Tamu Redaksi Teknologi Traveling

Waw! ASN Pemprov Bali Bergaya dengan Busana Tropis, Sayang Songket dan Endek Bali Diproduksi di Jateng

Ni Kadek Novi Febriani • Kamis, 24 Agustus 2023 | 13:00 WIB

BUSANA TROPIS: Sejumlah ASN di lingkungan Pemprov Bali berlenggak-lenggok diatas Catwalk dalam lomba fashion show di Art Center Rabu, 23 Agustus 2023.
BUSANA TROPIS: Sejumlah ASN di lingkungan Pemprov Bali berlenggak-lenggok diatas Catwalk dalam lomba fashion show di Art Center Rabu, 23 Agustus 2023.

DENPASAR,radarbali.id - Aparatur Sipil Negera (ASN) Pemerintah Provinsi Bali  berlenggak lenggok di atas catwalk atau panggung mengenakan pakaian pantai karena tema tropis di Art Center kemarin (23/8). Gubernur Bali Wayan Koster dan Istrinya  yang juga Ketua Dekranasda Provinsi Bali Putu Putri Suastini  juga mengenakan pakaian putih dengan motif daun berwarna putih. 

Acara yang dimulai dari pukul 10.00 hingga 15.00 lebih menampilkan pakaian yang diproduksi UMKM Bali.  Menariknya, kepala dinas atau pejabat eselon  II yang biasanya berpakaian serius  mereka berbusana ala pergi ke pantai. Bahkan, pada akhir acara Maestro Suling Bali, Gus Teja mengiringi para peraga busana. 

Diwawancarai Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Bali, Nyoman Gede Anom  saat ditemui kemarin mengaku senang mengikuti fashion show Bali Bangkit tahap 7 ini Ia datang bersama istrinya memakai busana sama. Gede Anom mengatakan, dengan acara ini  bisa membantu dan mendukung para UMKM di Bali. Gede Anom memakai kemeja berwarna hitam dan motifnya ungu.  "Menjaga UMKM kita, supaya tetap berjalan. Kedua kita mencintai produk lokal ini," ujarnya. 

 Baca Juga: Kuta Fashion Week 2023 Dibuka, Tampilkan Fashion Show Brand Lokal Bali

Ketua Dekranasda Bali, Putu Putri Suastini mengatakan visi misi dekranasda adalah lembaga yang handal dalam mendukung kemandirian ekonomi Indonesia. Ada 800 UMKM hingga saat ini ada dalam binaan dekranasda Bali berlokasi di Art Center. Omzet yang dicapai sekitar 58 miliar lebih. 

"Sampai pameran  tahapan akhir yang keenam 2023 , itu omzetnya bersih. Masuk ke rekening para UMKM," ucap Perempuan yang akrab disapa Putri Koster. 

Dalam pameran ini tidak mengajak para pedagang berjualan, tapi juga mengedukasi para perajin dan pedagang. Bukan hanya sekadar mencari cuan bagaimana menjaga warisan leluhur.  "Tugas dekranasda tugasnya bukan pameran kami dewan kerajinan. Jadi saya melihat tugas tugas dewan perwakilan rakyat fungsi kontrol harus kuat. Fungsi kontrol situasi kondisi yang dilakukan para UMKM dan konsumen perjalanan satu arah menjaga kualitas kerajinan leluhur jangan diobrak-abrik," paparnya. 

 Baca Juga: 4,7 Juta Kendaraan di Bali Melebihi Jumlah Penduduk, Polusi Udara Kian Mencemaskan

Dalam sambutannya, Putri Koster menyayangkan endek Bali yang beredar di pasaran hanya 13 persen yang ditenun di Bali. Sisanya jenis endek Bali yang diproduksi di luar Bali. Tidak hanya endek,  songket juga serupa  dijiplak motifnya dibuat dengan teknik bordir dikarenakan songket asli Bali lebih mahal. Sungguh ironi semakin marak mencuri motif songket dengan bordir menurut Putri Koster mengancam penenun songket Bali.     

"Bagi saya ini mengkhawatirkan pekerjaan diambil dan pekerjaan diambil dan uang itu  keluar. Suatu saat 100 tahun endek Bali tingga kenangan berubah," terangnya. 

Putu Putri berharap pemerintah mengambil tindakan lebih tegas memberlakukan regulasi yang berlaku. Fungsi kontrol lebih tegas. Diharapkan  pemerintah Bali kedepannya membuat asosiasi pedagang dan penenun supaya jangan sampai masyarakat melakukan tindakan terlalu jauh dengan  mengobrak-abrik warisan leluhur Bali. 

 Baca Juga: Coach Marcelo: Saya Senang, Mereka Mau Belajar Metode Amerika Selatan dan Eropa

Putri Koster juga jengkel endek dan motif songket Bali banyak yang ditiru oleh penenun daerah lain, salah satunya Jawa Tengah. Ia  meminta Wayan Koster selaku kepala daerah memberitahu Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo tidak memproduksi songket dan endek Bali di Jawa Tengah tepatnya di Desa Troso, Kecamatan Pecangaan, Kabupaten Jepara, Jawa Tengah (Jateng) kemudian dijual ke Bali.   

"Barangkali Bapak Gubernur bicara dengan sesama kepala daerah. Bisakah kita  bicara dengan Bapak Ganjar Pranowo  misalnya, tolong   hentikan memproduksi,  atau  kita berdiskusi, untuk tidak menenun kain songket Bali atau endek Bali misalnya. Silakan saudara di Troso pintar menenun  buat motif sesuai kearifan lokal  daerahnya sendiri," sentilnya. ***

Editor : M.Ridwan
#fashion show #catwalk #pemprov bali #endek Bali #Busana Tropis #asn #songket