DENPASAR,radarbali.id - Pemerintah optimistis mencapai target nol emisi karbon di Bali. Bahkan, pemakaian tenaga surya terus bertambah setelah ada imbauan dari Gubernur Bali. Di era Gubernur Bali Wayan Koster menerbitkan surat edaran kebijakan pemanfaatan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) atap melalui surat edaran Nomor 5 tahun 2022. Meski pemakaiannya tidak sampai lima persen dari pembangkit listrik di Bali sekitar 1300 megawatt (MW).
"Sampai sekarang pemakaian panel surya 19 MW itu termasuk sudah terpasang sebelum ada pergub. Tapi yang baru pergerakan sudah banyak kalau ditotal masih kecil karena pembangkit 1300" ungkap Ida Bagus Setiawan Kepala Dinas Ketenagakerjaan dan Energi Sumber Daya Mineral (ESDM) kemarin (27/9) saat ditemui pada acara World Tourism Day yang diselenggarakan KemBali Becik meluncurkan hasil survei emisi gas rumah kaca dari sektor pariwisata.
Kantor pemerintahan belum bisa sepenuhnya menggunakan panel surya karena terkendala terkait anggaran. Bahkan di pemerintah Provinsi Bali baru 0,7 MW. Justru yang banyak menggunakan dari masyarakat yaitu pelaku usaha, badan usaha negara dan perusahaan swasta. Diakui pemasangan panel surya harganya cukup mahal, sekitar 15 atau 18 juta untuk yang on grid (tanpa baterai).
Sementara yang berisi baterai Rp 25 juta. "Kalau mengandalkan APBD dan APBN berat karena kondisi fiskal. Kami dorong tiap tahun bentuk kerja sama, antar sub holding PLN badan usaha provinsi, kabupaten dan swasta. Membayar sesuai produksi listrik skema ini kami coba dorong," jelas Gus Setiawan.
Karena harganya yang mahal diharapkan juga kerja sama dari bank, seperti penawaran cicilan bagi yang ingin beralih ke panel surya. Gus Setiawan mengatakan, lebih hemat bahkan sampai 50 persen menggunakan panel surya. Seperti diketahui yang menyumbang emisi paling banyak pertama adalah energi dan kedua transportasi.
Sementara itu, Kembali Becik membuat survei menyasar wisatawan domestik dan internasional sebagai responden untuk menjawab kontribusi sektor pariwisata terhadap emisi karbon dan peluang-peluang yang dapat dilakukan agar mengurangi emisi tersebut. Survei dilakukan pada bulan Juli 2023 dengan menjaring 1011 wisatawan dan 325 bisnis yang mencakup bidang akomodasi, transportasi, dan restoran
Baca Juga: Diteken Joe Biden, Mendag: Produk Panel Surya RI Siap Bersaing di AS
Wisatawan juga menyumbang emisi gas rumah kaca sebesar 64 persen dari total emisi Bali.Project Lead KemBali Becik Michelle Winowatan menjelaskan, survei ini dilakukan untuk mendapatkan peta sumber emisi, identifikasi peluang, dan menyampaikan dampak perubahan iklim kepada masyarakat dan pembuat keputusan, harapannya mempercepat pencapaian Bali Net Zero 2045.
“Harapannya kegiatan ini dapat memulai diskusi dengan pemangku kepentingan supaya kita dapat bersama-sama bersinergi. Lewat diskusi panel ini ada banyak ide yang bermunculan dan rencana kebijakan yang akan dijalankan. Jadi kami dari KemBali Becik berharap semoga survei ini bisa membantu untuk mempercepat kebijakan Net Zero untuk Bali di tahun 2045,” harapnya.
Lebih lanjut Michelle memaparkan, survei ini menunjukkan emisi gas rumah kaca harian yang dihasilkan dari aktivitas wisata di Bali mencapai 0,02479 ton CO2 per orang per hari. Angka ini setara dengan 3.016 smartphones yang terisi daya.
Rata-rata wisatawan menghabiskan waktu sebanyak 14 hari di Bali dalam sekali kunjungan. Dari rata-rata kunjungan tersebut, emisi gas rumah kaca yang dihasilkan sebanyak 0.34709 ton CO2 per orang per kunjungan (14 hari) atau setara dengan 42.221 smartphones yang terisi daya.
Sementara itu, data dari Badan Pusat Statistik Provinsi Bali di tahun 2022 menunjukkan, terdapat 10,2 juta wisatawan yang berkunjung ke Bali. Dari data tersebut berarti wisatawan di Bali menghasilkan 3,5 juta ton CO2 pada tahun 2022.
Total yang diproyeksikan emisi Bali pada tahun 2022 adalah sekitar 5,5 juta ton CO2 berdasarkan data dari Rencana Pembangunan Rendah Karbon Daerah, Bappeda Provinsi Bali tahun 2022.
Terkait konsumsi listrik, data dari Badan Pusat Statistik Bali mengatakan, 5,5 juta MWh listrik dikonsumsi di Bali tahun 2022. Dari data tersebut berarti wisatawan di Bali mengkonsumsi 72% dari total konsumsi listrik Bali di tahun 2022.
Temuan tersebut turut mendapat tanggapan dari pemangku kepentingan dan sejumlah komunitas yang hadir dalam diskusi panel kegiatan peluncuran hasil survei ini. Diskusi panel mengundang Kepala Bidang Multimoda Dinas Perhubungan Provinsi Bali I Kadek Mudarta, Kepala Bidang ESDM Dinas Ketenagakerjaan dan ESDM Provinsi Bali Ida Bagus Ari Chandana, dan Manajer Strategi Pemasaran PT PLN (Persero) UID Bali Oscar Praditya.
Menyikapi kebijakan Bali Net Zero 2045, Mudarta menjelaskan, pihaknya di sektor perhubungan telah menggagas sejumlah strategi, seperti transportasi ramah lingkungan hingga menggalakkan transportasi publik. “Sektor transportasi termasuk penyumbang emisi nomor dua di Bali. Untuk itu, strategi yang pertama adalah mendorong moda transportasi ramah lingkungan dengan teknologi kendaraan listrik. Kedua, Bali harus mengarah ke transportasi publik,”.
Ari Chandana menambahkan, Dinas Ketenagakerjaan dan ESDM Provinsi Bali juga memiliki berbagai strategi yang sedang dijalankan, mulai dari membuat regulasi, melakukan kerja sama dengan berbagai pihak, dan membuat peta jalan. Ia juga menjelaskan, saat ini pembangkit listrik tenaga surya merupakan yang terbanyak di Bali dibandingkan pembangkit listrik tenaga lainnya.***