NEGARA, radarbali.id – Balai Taman Nasional Bali Barat (TNBB) akan melakukan inventarisasi terhadap satwa liar yang ada di dalam kawasan. Terutama satwa liar seperti rusa, kijang dan burung jalak Bali yang rentan jadi target perburuan liar.
Kepala Balai TNBB, Agus Ngurah Krisna Kepakisan menjelaskan, inventarisasi dan monitoring menyesuaikan dengan rencana pengelolaan setiap tahun dengan target tertentu. “Setiap perjumpaan petugas dengan satwa dilaporkan dalam aplikasi,” jelasnya.
Menurutnya selama ini belum pernah dilakukan inventarisasi populasi kijang (Muntiacus muntjak) di TNBB, sehingga tidak ada data pasti jumlah populasi kijang saat ini. Selama ini pihaknya hanya melakukan pemantauan untuk mengetahui sebaran saja.
Begitu juga dengan babi hutan, belum pernah dilakukan inventarisasi populasinya. “Belum ada data pasti berapa populasinya. Tetapi sepanjang pemantauan, monitoring khusus masih banyak ditemukan sebaran kijang,” katanya.
Menyusul temuan kijang yang mati karena jadi objek perburuan liar, Krisna memastikan jumlah populasi di hutan juga berkurang. Apalagi satwa yang ditembak mati masih produktif dan diyakini bisa melahirkan satwa-satwa lainnya.
Menurutnya, memang perlu ada kegiatan inventarisasi lagi seluruh satwa, tidak hanya karena ada kasus perburuan liar tetapi sebagai bagian dari bahan monitoring.
“Memang perlu kita lakukan kegiatan inventarisasi. Pasti dilakukan pendataan, karena tugas kami untuk menjaga keanekaragaman hayati TNBB melalui monitoring dan inventarisasi,” ujarnya.
Krisna menegaskan pihaknya kini memperketat pengawasan di pintu masuk ke kawasan hutan. Seperti menuju lokasi ke Pura Segara Rupek. Setiap ada orang masuk di pintu, sudah pasti ditanya tujuan.
“Kalau ada yang mencurigakan pasti diperiksa saat masuk dan keluar,” terangnya.
Baca Juga: Penyidikan Kasus Penerobosan Portal TNBB Saat Nyepi di Sumberklampok Terkesan Lamban
Untuk diketahui saat ini jumlah populasi rusa di kawasan TNBB terdata sekitar 980 ekor, angka itu merupakan hasil pendataan pada 2015.
Seperti diberitakan sebelumnya, petugas TNBB menemukan sebuah mobil yang mengangkut belasan satwa liar hasil buruan. Dari 15 ekor satwa yang ditemukan, sebelas ekor diantaranya merupakan kijang. Selain itu ada tiga orang babi hutan, dan seekor rusa.
Disesalkan, Pemburu Belum Tertangkap
PELAKU perburuan liar di TNBB, hingga kini belum tertangkap. Padahal polisi telah mengantongi bukti berupa mobil dan KTP yang bisa menjadi petunjuk awal pengungkapan kasus. Namun hingga kemarin (15/10), pelakunya masih misterius.
Kasi Humas Polres Buleleng, AKP Gede Darma Diatmika mengatakan, polisi masih melakukan penyelidikan. Ia mengakui ada KTP tertinggal di dalam mobil yang mengangkut hasil buruan. Namun polisi belum bisa memastikan apakah orang tersebut memang jadi pelaku perburuan.
“Ini kan masih dalam penyelidikan. Memang ada KTP yang tertinggal. Tapi apakah dia pelakunya atau bukan, itu kan belum tahu,” kata Darma.
Baca Juga: Kemarau Panjang, Taman Nasional Bali Barat Suplai Air Satwa Liar
Polisi juga tengah menelusuri pemilik mobil DK 1532 WB, yang digunakan mengangkut hewan-hewan hasil buruan. “Sudah ditelusuri. Tunggu saja hasil penyelidikannya seperti apa,” imbuhnya.
Lebih lanjut Darma mengatakan, diduga para pemburu itu bisa leluasa masuk ke dalam hutan karena ada proyek pemadatan jalan menuju Pura Segara Rupek. Momentum itu digunakan para tersangka masuk ke dalam kawasan dan berharap bisa keluar dengan leluasa.
“Informasinya pelaku ini lari masuk ke dalam hutan. Cuma tidak tahu lari ke arah mana. Apakah ke arah Sumberklampok atau ke Gilimanuk,” katanya.
Menurutnya polisi saat ini masih memberi kesempatan kepada para pemburu liar untuk menyerahkan diri ke Polsek Gerokgak. ***
Editor : M.Ridwan