DENPASAR,radarbali.id - Suara pembebasan Palestina berkumandang dari lapangan Puputan Margarana Kompleks Monumen Bajra Sandi Renon Denpasar Bali, 25 November 2023. Aksi yang dimotori MUI Provinsi Bali ini, melibatkan ribuan umat lintas agama.
Umat tumpek blek di lapangan yang jadi ikon Bali ini. Aksi untuk kemanusiaan bukan permasalahan agama. Mereka mengutuk pembantaian dan penjajahan yang dilakukan Israel terhadap Palestina.
Bentuk keprihatinan dari Bali turut mengumpulkan donasi yang akan disalurkan melalui Baznas. Cara pengumpulan donasi, tidak hanya menyumbang langsung tapi juga ada pelelangan barang, seperti kemarin sepeda bambu yang dibuka harga Rp 5 juta, tapi laku sebesar Rp 21 juta.
Menariknya, aksi berlangsung damai dan dinamis. Selain orasi, untaian doa, ada aksi baca puisi dari Komunitas Menulis Indonesia (KMI), anak-anak, lelang sepeda kayu dan simpati aski Warga Negara Asing (WNA) yang ikut mengibarjan bendera Palestina, ini.
Mereka dari Nowergia bernama, Cinah dan tsiyah mengatakan tahu aksi karena mendapat informasi langsung dari warga Indonesia. Cinah berharap Palestina bisa merdeka dan menjadi negara sendiri. “Saya berharap Palestina menjadi negaranya sendiri,” katanya.
Selain itu, Shirin asal Jakarta juga turut hadir pada aksi bela Palestina di Renon. Ia membawa kertas karton bertuliskan “ There Is More Spilled Blood than Drinkable Water in Gaza#Free Palestina” yang artinya lebih banyak darah yang tertumpah dibandingkan air minum.
Kedatangan Shirin sebagai dukungan untuk Warga Palestina yang sedang berjuang. Shirin prihatin terjadinya pembantaian dan fasilitas umum juga di rusak. Perempuan 28 tahun ini berharap semua mendukung kedamaian dan kebebasan untuk Palestina.
“Saya saling membagikan pesan-pesan kepada semuanya selalu kasih dukungan beraksi saat ada kesempatan,” Shirin ditemui kemarin.
Ketua Panitia Agus Samijaya didampingi Bendahara Umum MUI Provinsi Bali Mardi Soemitro menerangkan, aksi ini ingin menunjukkan suara dari Bali juga prihati terhadap terjadinya genosida, pembantaian dan penjajahan di Palestina.
Agus menegaskan Bali tidak diam dan tidak tidur. Tidak hanya dari kalangan Muslim, tapi juga ada tokoh dari agama Hindu, Nasrani, maupun Budha.
“Semua yang hadir seluruh elemen masyarakat Bali, lintas agama dan sara dan memiliki komitmen terhadap Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab. Ini aksi seluruh umat Bali. Aksi dari Bali untuk didengar oleh Bali yang didengar oleh dunia. Bahwa Bali menyampaikan pesan antikolonialisme dan anti pembantaian, genocide dan terorisme. Bali ingin menyuarakan prinsip human right,” kata Agus Samijaya dengan lantang.
Lanjutnya, Bali ingin bersuara untuk selalu menegakkan prinsip kemerdekaan adalah hak setiap sangsa, maka penjajahan diatas dunia harus dihapuskan, sesuai komitmen yang tertuang di dalam Pembukaan UUD 1945.
“Sila kedua Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab sehingga tegas pemerintah RI seluruh wilayah termasuk dalam NKRI menyuarakan satu bahasa, satu kata anti penjajahan, anti kolonialisme, anti pembantaian dan genocide serta anti terorisme,” tegas Agus Samijaya.
Sementara itu, Mardi Soemitro menerangkan dana yang terkumpul sementara di atas Rp 1 miliar. Pengumpulan donasi masih terus berjalan, mereka yang ingin donasi langsung diberikan ke panitia dan lewat transfer ke ATM. ‘Prediksi kami mendekati Rp 2 miliar bahkan lebih,” katanya.
Hasil donasi ini dikumpulkan melalui MUI Provinsi Bali dan akan diserahkan ke Baznas yang merupakan lembaga resmi pemerintah berhak menyalurkan ke Warga Palestina.
“Semua uang. Kalau ada barang kami lelang. Seperti sepeda unik terbuat bambu dari Spanyol, kami buka harga Rp 5 juta tapi laku Rp 21 juta,” jelasnya.
Beberapa pihak tak bisa hadir, terutama kalangan pendidik karena bersamaan Hari Guru Nasional. Namun, sejumlah sekolah di Bali ikut memanjatkan doa untuk kemerdekaan Palestina dan mengutuk kekerasan di sela upacara bendera. ***
Editor : M.Ridwan